Dosaku Selebar Lautan, Ampunanmu Seluas Cakrawala

Mentari mulai menampakkan kehangatan sikapnya, cahayanya menyilaukan setiap mata yang sudah terjaga, dan ia pun tersenyum dengan keikhlasan, meski ada beberapa orang yang kesal karena kehadirannya, termasuk Syafilla. Cahaya silau menerobos masuk ke dalam kamar Syafilla melalui jendela yang telah dibuka oleh Kaylana, Ibunya sejak Subuh tadi. Ia pun terbangun dengan rasa jengkel dan kesal.

“Ibu..! Kenapa Ibu tidak membangunkanku? Aku sudah telat sembahyang Subuh!” teriak Syafilla, marah terhadap ibunya.

“Ibu sudah bangunkan Ila, tapi Ila tidak bangun. Ya sudah, Ibu buka jendela agar Ila merasakan hawa segar di waktu Subuh, namun Ila tetap saja tidak bergerak. Ibu sudah mengusap wajah Ila dengan tangan Ibu yang basah, tapi Ila tetap saja memejamkan mata. Ayah bilang bahwa nanti Ayah akan bangunkan Ila setelah jamaah Subuh, apakah Ayah lupa untuk membangunkan Ila?” tanya Kaylana membolak-balikkan tempe yang ada di atas penggorengan.

“Ish! Ayah pasti lupa,” decak Syafilla kesal.

Bacaan Lainnya

Kaylana masih sibuk dengan tempe yang tengah ia goreng.

“Astagfirullah, Ayah. Nanti, Ila harus qada’ Shalat Subuh Ila itu. Segera mandi, Ila sekolah kan?” tanya Kaylana terhadap putri bungsunya.

Syafilla mengangguk, kemudian beranjak pergi ke kamar mandi.

Syafilla Kurnia Meiga adalah nama panjang Syafilla, orang tua dan teman-temannya sering memanggilnya Ila. Ia memiliki satu kakak laki-laki, Syafiq Kurnia Manopo, panggilannya Syafiq. Syafilla adalah gadis yang memiliki semangat tinggi, ia jalani hari-hari dengan ceria dan canda tawa dengan teman-temannya. Ia tengah duduk di bangku sekolah dasar kelas lima dengan umur sebelas tahun. Sedangkan kakaknya, tengah duduk di bangku SMA, dan mondok di daerah yang apabila ditanya, Syafilla akan menjawab bahwa dirinya lupa.

Keluarga Syafilla adalah keluarga yang amat tegas dan disiplin. Jika tidak melaksanakan satu saja tugas yang Kaylana, ibu Syafilla berikan, Syafilla harus menerima konsekuensinya. Setiap hari Syafilla mendapatkan tugas dari ibunya, setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, ia harus menjemur baju yang sudah dicuci oleh ibunya, dan menyapu seluruh penjuru rumah. Siang, ia harus melipat baju yang sudah ia jemur saat pagi, kemudian meletakkannya ke lemari baju sesuai orangnya, baju Ayah, baju Syafilla, dan baju ibu. Sore, ia harus menyapu dan mengepel seluruh penjuru ruangan yang ada di dalam rumahnya, termasuk kamar Ayah, kamar ibu, kamar Syafilla, kamar Syafiq, juga ruangan untuk Shalat dan dapur. Jika Syafilla tidak melaksanakan satu saja tugas tersebut, maka uang jajanlah yang menjadi taruhannya.

Hari ini Syafilla telat bangun pagi. Ia bangun pukul 06.32 WIB. Tanpa basa-basi, ia tidak melaksanakan Shalat Subuh dan bergegas mandi, karena sebentar lagi ia pasti akan telat mengikuti upacara pengibaran bendera merah-putih. Syafilla bergegas memakai seragam merah-putihnya, mengeluarkan sepeda pink miliknya, dan meraih sepatu hitamnya.

“Apa Ila lupa terhadap tugas Ila setiap pagi?” tanya Kaylana dengan suara tegas.

Sontak Syafilla terkaget. “Ibu, maafkan Ila. Ila harus berangkat sekarang. Ila sudah telat, Bu.”

“Apa Ila lupa terhadap peraturan yang telah kita sepakati?” tanya Kaylana dengan suara sedikit lantang.

“Hmm.. maafkan Ila, Ibu. Untuk kali ini saja, please, Bu. Ila harus berangkat sekarang. Jika tidak, Ila akan terlambat dan harus berdiri di depan tiang bendera selama satu jam pembelajaran,” ujar Ila menundukkan pandangannya. Ia takut, Kaylana pasti akan meluapkan amarahnya, Syafilla yakin itu.

“Tidak ada uang jajan,” ucap Kaylana lantang dan tegas.

“Ta-tapi ibu, Ila tidak sempat sarapan pagi. Bagaimana jika Ila pingsan saat upacara bendera?” rengek Syafilla memohon kepada ibunya.

“Ini adalah konsekuensi, Ila tidak melakukan tugas yang ibu berikan setiap pagi itu, maka Ila harus bertanggung jawab atas apa yang Ila lakukan. Jika Ila menjemur pakaian dan menyapu, maka ibu akan memberikan uang saku untuk Ila. Begitu juga sebaliknya, jika Ila tidak menjemur pakaian dan menyapu, maka Ila tidak akan mendapatkan sepeser pun uang saku,” ucap Kaylana dengan ekspresi yang nampak galak.

“Ibuu…” Syafilla menunjukkan puppy eyesnya, tapi tidak membuahkan hasil. Ibunya masih marah kepadanya.

Syafilla mengayuh sepedanya dengan kecepatan tinggi, sesekali ia melirik ke arah jam tangannya, pukul 06.50 WIB, itu tandanya sepuluh menit lagi gerbang akan ditutup dan upacara bendera merah-putih akan segera dimulai. Syafilla terus mengayuh sepeda pinknya dengan cucuran keringat. Hingga akhirnya, ia sampai di sekolahnya dengan selamat, tepat pukul 06.58 WIB. Napas Syafilla tersengal-sengal, keringatnya terus memancarkan air keluh, wajahnya pucat pasi, ia takut, jika dia telat, maka akan dihukum. Jika sudah dihukum, maka akan malu dan secara tidak langsung, ia menjelekkan nama baik yang sudah ia jaga mati-matian. Seolah nama Syafilla sebagai murid kesayangan kepala sekolah, selalu mendapat peringkat di kelasnya dan sering mendapatkan juara ketika mengikuti lomba kejuaraan, seakan lenyap dengan sekali saja terlambat masuk  sekolah. Ia tak mau jika hal itu terjadi padanya.

“Hufft..! Sungguh menjengkelkan. Padahal cuma sehari Ila tidak menjemur baju dan menyapu, tapi mengapa imbasnya harus uang jajan sih? Ish! Kesal-kesal!” gerutu Syafilla dalam hati. “Aha, kan ada Raisya! Ia pasti memiliki uang saku lebih, dan Ila bisa meminjamnya.”

“Kau hampir terlambat,” ujar Ayana, sahabat Syafilla.

“Ah, ada masalah kecil di rumah,” jawab Syafilla enteng, memarkirkan sepedanya ke dalam jajaran ratusan sepeda. “Yuk, bergegas berbaris.” Syafilla meletakkan tas merahnya dan melangkah menuju lapangan upacara setelah mendengar bel berbunyi.

Upacara bendera merah-putih di setiap hari Senin berjalan dengan lancar. Seluruh murid masuk ke kelas masing-masing, termasuk Syafilla, Ayana, dan Raisya. Setelah khusyuk memperhatikan Bu Rani menjelaskan materi Matematika, Syafilla dan kedua sahabatnya bergegas menuju kantin setelah bel istirahat berbunyi.

“Duh, Ila lupa, Ila kan tidak mendapat uang saku dari ibu,” ujar Syafilla.

“Tenang, ada Raisya, Ila. Nih, Raisya punya uang jajan lebih, he he,”  kata Raisya dengan senyum khasnya.

“Baik, Ila pinjam dulu ya, Raisya.”

“Udah, itu untuk Ila. Raisya masih punya ini.”

“Tenang, Ila. Kita kan sahabat. Susah senang, kita jalani bersama-sama,” Ayana tidak mau kalah.

“Heemmm… Terima kasih Raisya, Ayana. Ila sayang kalian,” ucap Syafilla, membuka kedua tangannya dan memeluk erat kedua sahabatnya setelah Ayana dan Raisya memeluk tubuh Syafilla.

Beberapa menit berlalu, bel jam pembelajaran terakhir pun berbunyi nyaring.

“Baik, ibu harap semuanya mengerjakan PR yang barusan ibu berikan, besok kita bahas kembali. Ibu tutup dulu, mari kita membaca hamdalah,” ujar Bu Sinta.

“Alhamdulillahirabbil’alamin,” serempak.

Setibanya di rumah, Syafilla bergegas mengganti baju dan bersiap pergi.

“Mau ke mana?” tanya Kaylana membuat Syafilla terkaget.

“Belajar kelompok di rumah Ayana,” Syafilla santai.

“Jemur baju dulu! Sedari pagi Ila belum melaksanakan tugas itu. Oh iya, ruang tamu juga kotor, bukannya tugas Ila memastikan lantai di seluruh penjuru rumah ini bersih? Sebelum Ayah pulang, dan Ila kena omelan Ayah, mending laksanakan tugas Ila dulu.”

“Ibu, Ila buru-buru. Ila sudah ditunggu Ayana dan Raisya, Bu,” rengek Syafilla.

“Jemur baju dan menyapu rumah berapa jam, Ila?” tanya Kaylana dengan suara tegas.

“Tapi, Ibu..”

“Ila enggak boleh keluar rumah!”

“Ibu, ini penting, Bu. Ila harus belajar kelompok dengan Ayana dan Raisya! Lagian setelah mengajar, ibu tidak ada agenda, kan?” Ujar Syafilla menaikkan volume suaranya. “Ila enggak suka diatur-atur, Bu. Ila ingin hidup bebas, seperti teman-teman sebaya Ila.”

“Oh, sekarang sudah berani membantah, ya? Ok, Ibu akan kerjakan semuanya. Ibu akan mencuci baju, memasak, menjemur baju, menyapu, melipat baju, mengepel, mengajar di sekolahan, dan Ila? Cukup dengan makan, minum, dan hidup seperti Ratu. Baik, untuk saat ini silakan keluar dan temui teman-temanmu itu. Saat Ila membutuhkan sesuatu jangan minta ke ibu, tapi minta ke teman-temanmu itu. Minta tolonglah kepada mereka. Oh iya, Ila bilang enggak mau diatur-atur? Baik, ibu enggak bakalan mengatur-atur Ila lagi. Terserah Ila mau berbuat apa, ibu bodo amat. Jangan minta apa pun ke ibu, karena Ila juga enggak mau mengikuti peraturan dari ibu!” keputusan Kaylana  membuat matanya tak tahan menahan perih. Sedetik kemudian Kaylana menangisi gadisnya yang mulai memberontak. Ia hanya ingin Syafilla belajar untuk membantunya, berbakti kepada kedua orang tua.

Syafilla terdiam, melihat ibunya tengah meneteskan air mata di hadapannya.

“Ila tidak tega melihat ibu seperti ini. Ila ingin menghapus air mata yang jatuh di pipi ibu, tapi ini penting, Bu. Besok sudah harus dikumpulkan. Maafkan Ila, Ibu,” gumam Syafilla dalam hati.

Kaylana memilih untuk beranjak pergi, dan mengerjakan tugas yang putrinya tidak kerjakan tadi pagi. Pakaian yang seharusnya sudah kering siang ini, malah belum dijemur. Ia pun tak percaya, Syafilla yang terkenal dengan kepintaran dan kebaikan budinya telah berani membantah perintah ibunya sendiri. Padahal ini adalah tugas yang sudah ia lalui sejak kelas dua SD. Ada apa dengan dirinya saat ini? Semakin besar, dia semakin memberontak dan susah diatur. Kaylana tahu, mungkin ini adalah efek dari pubertasnya. Iya, Syafilla sudah semakin besar dan dewasa, wajar jika dia mulai bersikap begitu.

Di sisi lain, Syafilla sudah berkumpul di rumah Ayana, bersama Raisya.

“Apakah ibu sungguhan? Ibu enggak bakalan ikut campur hidup Syafilla lagi? Ah, mungkin moodnya lagi jelek hari ini. Nanti pasti sudah baik, seperti sediakala,” ujar Syafilla menggerutu dalam hati.

“Hey, ada apa denganmu, Ila?” tanya Ayana.

“Ah, tak ada apa-apa.”

“Ayolah, akhir-akhir ini kamu sering melamun, Ila. Ada apa?” sahut Raisya.

“Masalah dengan ibu.”

“Hah? Ada apa dengan Tante Kaylana?” desak Ayana.

“Biasa, perdebatan kecil.”

“Hmm.. kayak ibuku saja. Eh, merasa enggak sih? Semakin dewasa, kita semakin menjadi musuh ibu kita sendiri. Iya, enggak?” Tanya Ayana. “Peraturan ibu seperti penjara bagi kita. Ibu enggak tahu rasanya ingin bebas dari cengkeramannya. Sungguh membosankan!”

“Hmm.. Setuju! Ibuku juga begitu. Semakin hari semakin galak, semua yang anaknya lakukan pasti salah di matanya. Kayak setan jembatan biru aja!” decak Raisya kesal.

“Huft! Entahlah. Tapi, kalian pernah, enggak? Ibu kalian marah, tiba-tiba nangis sendiri?” tanya Syafilla.

Kedua sahabatnya menggelengkan kepalanya.

“Sepertinya tidak pernah,” ujar Ayana.

“Ibuku juga. Kalau udah marah, ya udah, nanti lupa,” sahut Raisya.

“Iya, biasanya ibuku juga begitu. Tapi, entah mengapa hari ini ibuku benar-benar marah, hingga berjanji tidak akan mengatur-atur hidup Ila lagi, kemudian menangis. Apa ibuku sungguhan? Ila merasa ibu sungguhan. Kalau sungguhan, gimana? Ila termasuk orang yang berdosa besar! Ila telah durhaka kepada Ibu Ila,” cetus Syafilla.

“Heh! Jangan sampai hal itu terjadi, Ila. Semoga Tante Kaylana tidak sungguhan mengucapkan hal itu,” ujar Ayana.

“Semoga..” lirih Syafilla.

“Udah-udah, yuk lanjutkan. Setelah ini kita beli es cream!” ajak Raisya.

“Setuju!” serempak.

“Eh, Ila kan enggak dapat uang saku. Gimana, dong?” Ujar Syafilla pamrih.

“Tenang, Ila. Kan ada Ratu Raisya yang duitnya enggak bakalan habis tujuh turunan.”

“Ah, kamu ini terlalu berlebihan.”

“Ha ha ha, inilah untungnya memiliki sahabat Putri Konglomerat,” goda Syafilla.

“Hmm.. baiklah, semua Raisya traktir,” ujar Raisya.

“Horeee…!” serempak.

Hari semakin petang, mentari pun telah menunjukkan rona meganya. Syafilla yang sedari siang mengerjakan tugas bersama dua temannya, kini sudah memperlihatkan batang hidungnya di depan pintu rumah, berteman sepeda pink pemberian ibunya. Saat Syafilla beranjak, menaiki tangga halaman rumahnya, ia terkaget ketika melihat Kaylana tengah menyapu.

“Assalamu’alaikum, Ibu,” sapa Syafilla.

“Wa’alaikumussalam Warrahmatullahi Wabarakatuh.” jawab Kaylana pelan, masih sibuk dengan kegiatan menyapunya.

“Tumben, ibu tidak marah-marah saat Ila pulang kesorean, biasanya.. Oh iya, ibu kan lagi ngambek, dan sudah berjanji untuk tidak ikut campur urusan Ila lagi. Hmm, baguslah. Ila bebas mau melakukan apa pun,” gumam Syafilla dalam hati.

Setelah beberapa menit memilah-milah, baju apa yang akan ia pakai, akhirnya Syafilla menemukan sepasang baju yang cocok untuk ia kenakan malam ini. Bergegas, Syafilla meraih handuk dan berlari menuju kamar mandi. Di pertengahan jalan, Syafilla bertemu dengan Kaylana yang tengah bersiap, memakai mukena, hendak sembahyang Shalat Magrib. Tatapan mereka saling tertuju. Kaylana dengan sikap dinginnya, Syafilla yang merasa bingung.

“Hmm, ibu enggak akan marah hari ini. Ila senang, bisa mandi leluasa karena enggak ada yang marah-marah lagi. Ila mandi enggak lama kok, waktu Shalat Magrib juga lumayan lama, meski terkesan pendek. Ah, pokoknya Ila harus mandi dulu,” gumam Syafilla dalam hati.

Tiba jam makan malam. Syafilla menatap Kaylana yang tengah khusyuk makan makanan yang telah tersaji di meja makan. Syafilla memutar bola mata, menuju Arya.

“Ada apa, Nak? Ayo makan,” ajak Arya kepada Syafilla.

“Huuft! Baiklah,” jawab Syafilla pasrah.

Setelah sembahyang Isya’, Syafilla memutuskan untuk belajar Bahasa Inggris, mempersiapkan pembelajaran besok, seperti biasanya. Namun, hatinya masih tidak tenang memikirkan ibunya yang masih dingin kepadanya. Ia tidak kehabisan akal, Syafilla beranjak dan menemui Ayahnya yang tengah menonton pertandingan sepakbola di acara televisi.

“Ayah?”

“Iya, Ila. Ada apa?” tanya Arya.

“Apakah ibu cerita sesuatu tentang Ila, Yah?”

“Oh, iya. Tadi ibu cerita. Kamu berbuat apa pada ibumu? Hingga ibumu kecewa.”

“Ayah, Ila hanya tidak melaksanakan tugas itu sekali, tiba-tiba ibu marah. Ila enggak suka dikekang, Yah. Ibu selalu memaksa Ila untuk melakukan perintahnya. Ila ingin bebas, Yah.”

“Hmm, begitu. Ila, dengar baik-baik ya, Nak. Ila masih ingat Seli? Teman Ila yang gila karena kedua orang tuanya meninggal, kecelakaan?”

Syafilla mengangguk.

“Betapa sakitnya hati seorang anak ketika kehilangan kedua orang tuanya. Seli pasti tidak menginginkan hal itu terjadi, tapi itulah takdir Tuhan. Seli pasti bisa melewati semuanya, tapi nyatanya Seli menggila dan berkata bahwa dirinya terlambat untuk meminta maaf kepada kedua orang tuanya terhadap semua dosa yang telah ia lakukan. Ia menyesal, sangat menyesal. Ia ingin meminta maaf, kepada kedua orang tuanya, terlebih lagi kepada ibunya, tapi telat. Ibu dan ayahnya telah terbujur kaku. Hmm, kisah satu lagi. Dulu, Ayah pun merasakan kehilangan seorang ibu ayah, Nenek Ila. Ayah sangat sedih dan menyesali semua yang terjadi. Waktu itu ayah berjanji akan memelihara ayam jago pemberian nenek, ayah menyanggupinya. Suatu hari, ayah sibuk, ayah lupa tidak memberi ayam jago itu makanan, hingga mati. Ayah menyesal tidak dapat menepati janji ayah untuk menjaga ayam jago itu. Ayah sangat terpukul. Nah, dari kedua kisah itu, pembelajaran apa yang dapat Ila ambil?” Arya tersenyum, membelai rambut halus milik Syafilla.

Syafilla tersenyum, kemudian memeluk tubuh besar Arya. “Ila paham, Yah.”

“Ila paham, harus berbuat apa sekarang?” tanya Arya dalam pelukan gadisnya.

Syafilla mengangguk dalam ceruk leher milik Arya. “Terima kasih, Yah.”

“Mari kita meminta maaf kepada ibu,” aArya melepas peluk Syafilla dan menggandeng tangan kecil Gadisnya itu menuju kamar Kaylana.

“Ibuuuu….” teriak Syafilla membuka kedua tangannya, memeluk tubuh Kaylana.

Kaylana pun membalas pelukan hangat putrinya dengan penuh kasih sayang.

“Maafkan Ila, Bu. Tak sepantasnya Ila berkata seperti itu tadi pagi, juga tadi siang. Ila sungguh menyesal, Bu. Maafkan Ila. Ila berjanji akan bangun pagi dan membantu ibu. Ibu mau kan, memaafkan Ila?” gerutu Syafilla dengan linangan air mata dalam hangatnya pelukan Kaylana, ibunya. Ia telah berjanji tidak akan mengulangi hal yang sama lagi.

Kaylana tersenyum di atas tangis. Air matanya tak dapat dibendung, ketika merasakan ketulusan yang Syafilla berikan. Kemudian, Kaylana menganggukkan kepalanya. “Iya, Sayang. Sebelum Ila meminta maaf kepada ibu, ibu telah memaafkan Ila. Apa pun kesalahan Ila, ibu telah memaafkan, bahkan melupakannya.”

“Terima kasih banyak, Ibu. Maafkan Ila, selama ini Ila masih menjadi anak yang pembangkang. Ila janji akan patuhi perintah ibu,” ujar Syafilla dengan derasnya linangan air mata.

Sedangkan Arya, ia masih mematung beberapa langkah dari Kaylana dan Syafilla yang tengah berpelukan. Tiba-tiba, Arya menyeka air matanya dan beranjak memeluk istri dan putrinya.

Ibu mana yang tidak mencintai anaknya? Seluruh ibu di dunia pasti menyayangi anaknya. Meski anaknya yang terkadang bandel, susah diatur, dan lain sebagainya terhadapnya. Tapi seorang ibu, pasti memiliki ampunan seluas cakrawala di saat putranya melakukan dosa seluas lautan pun.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَوَصَّيْنَا الْاِ نْسَا نَ بِوَا لِدَيْهِ اِحْسَا نًا ۗ حَمَلَـتْهُ اُمُّهٗ كُرْهًا وَّوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۗ وَحَمْلُهٗ وَفِصٰلُهٗ ثَلٰـثُوْنَ شَهْرًا ۗ حَتّٰۤى اِذَا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَبَلَغَ اَرْبَعِيْنَ سَنَةً ۙ قَا لَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْۤ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْۤ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَا لِدَيَّ وَاَ نْ اَعْمَلَ صَا لِحًا تَرْضٰٮهُ وَاَ صْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْ ۗ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِ نِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada Engkau, dan sungguh, aku termasuk orang muslim.”

(QS. Al-Ahqaf 46: Ayat 15)

Juga Hadist dari Imam Bukhari dan Imam Muslim :

Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu.’ Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ayahmu’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari kedua sumber tersebut, dapat kita petik pembelajaran bahwa kita sebagai anak tidaklah pantas menjadi seorang yang pembangkang, mencemooh, apalagi durhaka kepada kedua orang tua kita. Ibu telah tulus ikhlas sepenuh hati memberikan dunianya kepada kita, Ayah telah tulus bersusah payah berjuang memeras keringatnya, hanya demi anak dan istrinya. Mari kita renungi lagi, betapa besar jasa kedua orang tua kepada kita. Semoga kita termasuk orang yang mendapat kesempatan untuk tidak mengulangi kesalahan kita (lagi) dan berusaha untuk berbakti kepada keduanya, Aamiin.

Happy birthday, my mother (21 Desember 2022)

And

Happy mother’s day to all mothers in the world, especially to my mother (22 Desember 2022)

 

Oleh: Siti Anisa’ Nur Fitriani, Ketua Umum Organisasi Himpunan Pelajar Islam (HPI), Ketua Umum Organisasi Daerah Rembang Planet Nufo, Ketua Departemen Pendidikan dan Pelatihan Kader IPPNU komisariat Planet Nufo, Sekretaris Umum Organisasi Pondok Pesantren Nurul Furqon

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *