Superwoman Tiada Tanding

Pukul 17.00 WITA, shift kerjaku berakhir. Aku bersiap pulang dan bersalaman dengan kawan-kawan seperjuanganku, salaman ala kami, termasuk pada kawan yang baru saja datang untuk menggantikan posisiku. Pukul 17.15 WITA tepat aku keluar dari tempat kerjaku dan ber-lari kecil menuju halte, menunggu angkot biru tua tiba.

Kutatap tempat kerjaku, sebuah kafe kecil yang strategis dan nyaman. Tempat para pemuda zaman now merenungi nasib-nasib mereka. Hari ini cukup melelahkan, pengunjung-nya lebih banyak dari hari-hari biasanya. Mungkin masalah mereka tak kunjung usai padahal bulan sudah berganti sejak 2 hari lalu.

Aku memutuskan untuk tinggal jauh dari orangtua agar bisa lebih mandiri setelah lulus SMA, bahkan dalam urusan finansial. Walaupun itu sangat menentang kehendak Ibuku yang tidak pernah mau membiarkan anak bungsunya sendirian di dunia ini, namun tidak ada dukung-an dari siapapun karena ayahku memang tak pernah memedulikan segala urusan dalam keluarga kami dan 2 kakakku justru sangat mendukung keputusanku. Aku pun tetap pergi melatih diri di bawah tangis Ibu yang katanya sudah ridlo.

Awan hitam gompal sudah memenuhi langit-langit Kota Balikpapan disertai angin kencang yang menggoyangkan pohon-pohon di pinggir jalan kota. Hawa dingin menusuk tulang, aku memeluk tas ransel hitam dari Ibuku. Beruntung, angkot biru tua yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga. Aku tiba di rumah beberapa saat sebelum awan hitam itu benar-benar memuntahkan isi perutnya.

Bacaan Lainnya

Setelah bersih-bersih diri dan Shalat Magrib, aku memulai hobiku sejak tinggal jauh dari orangtua, menyendiri di kamar. Bosku yang baik selalu memberi 3 nasi kotak untuk sehari kepada karyawan-karyawannya. Untuk kesekian kalinya aku makan malam sendiri, maka untuk kesekian kalinya pula malamku hanya ditemani oleh handphone yang selalu setia denganku kapanpun dan dimanapun.

Ting… Satu pesan masuk. Nomornya belum kusimpan, foto profilnya juga tak ada. Siapa pula orang asing ini?

[11/11/22] +62 812*** : Assalamualaikum, ini Luthfi bukan?

Luthfi itu panggilan kecilku, yang memanggilku Luthfi hanya keluarga dan teman-teman masa kecilku. Aku mulai menerka-nerka siapa orang yang berusaha mengajakku ngobrol ini. Tak sabaran segera kujawab.

[11/11/22] me : Waalaikumussalam, iya ini Luthfi, ini siapa ya?

[11/11/22] +62 812*** : Alhamdulillah, ini aku, Kak Shofi. Aku ganti nomor, jadi takut kalau salah menghubungi orang.

[11/11/22] me : Oalah… Kak Shofi, pantas saja kemarin kok nda bisa dihubungi. Ternyata ganti nomor toh. Alhamdulillah deh nda salah menghubungi orang. Gimana kabar Ibu, Kak?

Sejak 2 minggu lalu aku terlalu sibuk dengan kerja. Bahkan nomor kakakku yang tak bisa dihubungi sejak 2 minggu lalu tak terlalu aku hiraukan. Sampai akhirnya, malam ini kakakku memulai kembali percakapan yang sudah 2 minggu ini tak berkabar. Topik percakap-an kami lima puluh persen hanya membahas satu tema, Ibu. Tiga puluh persen nostalgia dan sisanya membahas kehidupan masing-masing.

Pukul 23.30 WITA, percakapan kami berakhir. Percakapan yang membuatku yang membawa pikiranku kepada kenangan sepuluh tahun silam. Di luar masih hujan, cukup menjadi bumbu merenungku malam ini.

Langit mulai memancarkan mega-mega merah Sang Surya, saatnya aku pulang. Seperti hari-hari sebelumnya, yang menyapa kepulanganku hanya Ibu dan celemek yang memudar di beberapa area. “Luthfi… Sudah pulang kah? Cepat mandi, sebentar lagi azan,” ujar Ibu sedikit menekan. Menurutnya itu adalah teriakan dan bentuk kemarahan, tapi siapa pula yang merasa dimarahi dengan suara selembut itu untuk ukuran emak-emak. Sebenarnya tidak perlu diperingati aku sudah bersiap untuk mandi sejak tadi. Menurutku, Ibu seharusnya mengingat-kan kakak-kakak yang bahkan belum keluar kamar sama sekali sejak 1 tahun yang lalu (eh, maksudnya setelah Shalat Ashar).

Makan malam, hal paling sakral di keluarga kami. Tapi beberapa hari ini Ayah selalu meninggalkannya begitu saja tanpa ada alasan yang logis. Aku sebagai bungsu mencoba me-ringankan beban Ibu dengan tidak merengek, memilih diam dan tidak banyak tanya. Untung saja kedua kakakku juga memahami itu, bahkan melebihi diriku.

Alasan Ayah yang tidak logis itu terkuak di suatu malam. Seorang warga ngos-ngosan membopong Ayah ke rumah. Mata Ayah merah, wajahnya terlihat menyeramkan, dan bau alkohol yang menyengat. Tanpa perlu dijelaskan Ibu sudah paham akan kondisi Ayah. Ibu me-nyuruh anak-anaknya segera kembali ke kamar saja dan tidur. Aku hanya mengetahui peristiwa singkat itu dan beberapa hari setelahnya Ayah pergi dari rumah Ibu.

Sejak kepergian Ayah, Ibu yang menggantikan posisinya. Ibu yang merasa mahir ber-dagang membuka warung kecil di depan rumah yang buka hanya setiap pagi. Tapi itu belum cukup untuk menghidupi keluarga kecil kami. Kakak-kakakku tidak tinggal diam menghadapi situasi ini, mereka ikut menjualkan dagangan Ibu di sekolah dan di warung-warung sekitar yang lebih besar.

Ibu yang tidak pernah menyerah juga menyalurkan semua hobinya untuk bisa men-dapatkan uang. Mulai dari membuat kue, menjahit, memasak, dan banyak lagi. Ayah pergi itulah Ibu terlihat sangat sibuk, tapi Ibu tak pernah melewatkan hal-hal kecil yang sudah menjadi kebiasaan kami sejak dulu, seperti makan malam bersama, menemani kami belajar, mengantar dan menjemput kami sekolah, menyapa kami ketika sampai di rumah, dan hal-hal sepele lainnya. Bahkan pekerjaan-pekerjaan rumah juga bisa beliau selesaikan sendiri tanpa bantuan orang lain (maksudnya tanpa asisten rumah tangga atau ART).

Aku juga tidak merasa kehilangan sedikitpun perhatian dari Ibu. Boleh jadi karena semua pekerjaan Ibu itu beliau lakukan di rumah. Beliau tidak pernah mau melakukan pekerjaan yang harus jauh dari rumah, bahkan hanya sekedar di rumah tetangga sebelah rumah saja Ibu tidak mau jikalau itu bukan untuk acara besar atau hajatan.

Kami, para anak, hanya membantu semampu dan sepaham kami. Sekarang, kakak pertamaku sudah menikah dengan tetangga sebelah rumah. Kakak keduaku, kuliah di dekat rumah, jadi dia tetap tinggal di rumah. Sedangkan aku justru memilih merantau ke tanah orang dan mengirim sebagian gajiku kepada Ibu lalu merasa bangga. Padahal yang diinginkan Ibu itu hanyalah kehadiranku, bukan kehadiran uang yang cukup dariku.

Kulirik jam di dinding kamarku, pukul 23.30 WITA. Sudah terlalu malam, seharusnya aku sudah beristirahat maksimal lima belas menit yang lalu. Setengah jam lagi sudah hari Ahad, tepat di hari itu aku tidak ada jadwal shift kerja. Baiklah, malam ini pula aku putuskan, besok aku akan pulang. Tidak perlu dipedulikan apa yang akan aku bawa, yang penting kedatanganku dalam keadaan selamat dan masih tetap bersemangat seperti ketika aku akan pergi meninggalkan rumah.

Oleh: Sakina BillahWakil Ketua Organisasi Ponpes Nurul Furqon (Planet Nufo) Mlagen Pamotan Rembang, Siswa Kelas XI MA Darul Huda Mlagen Rembang

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *