Definisi Cantik dalam Pandangan Indonesia, Bisakah Berubah?

Setiap orang mempunyai definisi cantik yang bermacam-macam. Namun, masih banyak jutaan masyarakat Indonesia yang memandang kecantikan dari hal yang sama. Seorang perempuan cenderung mengandalkan kepecayaan dirinya pada sebuah penampilan. Bahkan, kecantikan di zaman milenial seperti sekarang ini menjadi tolok ukur dan strata sosial yang mempunyai nilai tinggi. Mereka menganggap cantik yang ada dalam diri perempuan itu: tinggi, putih, hidung mancung, postur tubuh yang ideal, rambut lurus, gigi rapi, mata lebar dan sebagainya.  Definisi cantik seperti  itu yang kerap kali menjadi gambaran dari sosok public figure, sehingga banyak perempuan berjuang mati-matian untuk mendapat gelar ‘Cantik’.

Sebuah publikasi riset tahunan, ZAP Beauty Index, melakukan survey terhadap ribuan wanita yang merupakan konsumen produk kecantikan dari industri tanah air. Pada tahun 2020, ZAP Beauty Index memotret makna ‘cantik’ di mata perempuan Indonesia. Sebelumnya ZAP Beauty Index menemukan 40,9 % perempuan mengartikan cantik adalah bertubuh sehat dan  bugar. Lalu definisi ini mulai bergeser pada tahun ini. Sebesar 46,7 % responden banyak mendefinisikan “cantik” dengan sebutan well-dressed atau yang bearti memperindah penampilan secara keseluruhan. Namun dewasa ini, 82,5 % kulit bersih,  cerah atau glowing masih menjadi pengertian cantik secara umum dalam pandangan sebagian besar perempuan Indonesia.

Dengan demikian, banyak wanita yang masih menganggap bahwa dirinya tidak masuk dalam “standar cantik”, mereka merasa insecure dan tidak bisa mencapai potensi dirinya, bahkan merasa tidak bisa sukses suatu saat nanti. Kecantikan seharusnya tidak menjadi alasan untuk mereka tampil tidak percaya diri di depan umum. Sebab, Cantik itu bukan satu ukuran. Kecantikan tidak bisa diukur berdasarkan satu standar fisik saja. Setiap wanita mempunyai masing-masing keunikan sehingga kriteria ideal sebuah kecantikan dapat dilihat dari berbagai sisi.

Di beberapa negara lain, perempuan-perempuan yang meski tak mempunyai kulit putih, hidung yang tak mancung, tubuh yang kurang ideal, tetap bisa terlihat memukau dengan kharisma yang ada dalam dirinya sendiri. Sebab, Cantik itu memang punya puluhan arti, ratusan makna, dan ribuan pandangan. Jika ada sepuluh orang disuruh mendeskripsikan perempuan cantik dalam pandangan mereka, maka akan ada sepuluh pendapat juga tentang cantik. Ini yang akan sering orang-orang sebut “cantik itu relatife”. Tergantung siapa yang memandang dan dari sisi mana mereka memandangnya. Jadi, cantik itu sebenarnya tidak bisa dideskripsikan secara umum. Definisi cantik hanya perlu kita simpan masing-masing dan kita jadikan tolak ukur untuk diri kita sendiri. Tidak perlu memaksa orang lain untuk setuju bahkan menuntut mereka untuk mau sejalan dengan kita.

Dalam Islam sendiri, kecantikan tidak dipandang dari segi fisik dan rupa semata, tetapi lebih pada kebaikan hati, kecerdasan akal dan kemuliaan akhlak. Perempuan cantik dalam Islam adalah perempuan yang bisa menjaga kehormatan dirinya. Bukan berarti perempuan tidak boleh bergaul dengan kaum laki-laki, tetapi maksud menjaga diri adalah perempuan harus bisa mengambil sisi positif dari ikatan pertemanan diantara keduanya, saling bertukar pikiran, berdiskusi mengenai pengetahuan-pengetahuan baru, misalnya. Namun, perempuan juga harus tetap menjaga aset keperempuanannya yang paling berharga. Dengan begitu, perempuan akan menjadi cantik dengan menjaga dirinya dan memperkaya wawasan ilmu pengetahuan ketika berteman dengan siapapun, tujuannya agar dapat membuka diri terhadap perkembangan zaman dan agar tidak ketinggalan tren terkini.

Perempuan juga harus memiliki sikap malu. Malu disini bukan suatu hal yang dapat menghambat perkembangan seorang perempuan, tapi malu yang dimaksud yaitu seorang perempuan yang selalu bersikap rendah hati. Namun, di samping kerendahan hati, perempuan juga harus berani memiliki ambisi dan mimpi, berani bercita-cita besar. Salah satu usaha yang harus dilakukan yaitu dengan menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Sebab, dengan terus-menerus belajar, perempuan akan menekuni passion mereka dan menjadi sosok perempuan pemberani di zaman digital ini. Dengan demikian, akan muncul generasi-generasi pemikir yang lahir dari rahim perempuan ‘Cantik’. Perempuan tidak perlu takut untuk  tidak terlihat cantik (secara fisik) di mata orang lain, karena kecantikan rupa kerap berubah dari masa ke masa dan akan hilang seiring berjalannya waktu.

Perempuan Indonesia seharusnya dapat mulai memahami arti ‘Cantik’ yang sesungguhnya. Bukan hanya dari aspek fisik saja yang dirawat, melainkan terus berkembang dalam aspek perilaku dan intelektual. Setiap manusia dilahirkan sempurna dengan kelebihan dan kekurangannya. Jadi, walaupun seorang perempuan lahir dengan kodrat tidak cantik (fisik), semua perempuan berhak mendapat gelar ‘Cantik’ dengan semestinya. Tidak cantik secara fisik tidak menjadikan kekurangan dari diri perempuan sebagai hal yang memalukan. Justru seorang perempuan harus malu jika tidak bisa menjadi perempuan penerus bangsa.

Oleh: Wahyuningsih, Mahasiswa Peraih Beasiswa Rembang Berprestasi Universitas Islam Negeri Walisongso Semarang

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *