Kepercayaan atau keyakinan yang dimiliki oleh manusia berasal latar belakang hidupnya. Suatu kepercayaan dibangun atas suatu argumen yang menjadi landasan manusia dalam menentukan suatu hal. Cara berpikir dan proses berpikir manusia dilatarbelakangi oleh kepercayaan atau keyakinan yang dimilikinya. Manusia yang dilahirkan di lingkungan yang dipenuhi oleh orang-orang yang memiliki perilaku yang baik, akan membuat pola dalam pikiranya untuk berperilaku seperti yang dilakukan oleh orang disekitarnya.
Kepercayaan terhadap suatu yang maha tinggi itu merupakan suatu kebutuhan bagi setiap orang. karena dengan kepercayaan kepada suatu yang maha tinggi itu menjadikan rasa aman pada diri orang yang percaya tantang suatu yang maha tinggi itu. konstruksi mengenai kepercayaan terhadap suatu yang maha tinggi itu menjadi suatu yang alamian dan itu menjadi naluri setiap orang untuk memahatinggikan sesuatu.
Awal dari suatu kepercayaan yang dimiliki seseoarang berasal dari hal yang dilihatnya atau disaksikannya. Orang-orang terdahulu seperti bangsa Yunani yang hidup sebelum masehi pun memiliki kepercayaan-kepercayaan. Keyakinan mereka itu muncul dari kejadian yang dilihat dan/atau dialami. Kejadian-kejadian itu membuat mereka mulai memikirkan bagaimana kejadian-kejadian itu bisa terjadi dan siapa yang menjadi dalang dari peristiwa-peristiwa yang terjadi itu.
Suatu peristiwa atau suatu kepercayaan yang dianut atau diyakini oleh seseorang yang belum tentu kebenarannya sering disebut dengan mitos. Mitos-mitos itu yang kemudian dijadikan suatu landasan berpikir oleh mereka. Dari mitos itu mereka menjadikan sesuatu yang kemudian dijadikan sebagai suatu yang ditinggikan atau suatu yang maha tinggi. Salah satu kepercayaan yang dianut itu tentang bumi yang ditinggali. Bumi yang sekarang menjadi tempat berpijak ini berbentuk bulat. Ada siang dan malam yang silih berganti seiring berjalannya waktu.
Mitos-mitos yang muncul itu berasal dari penglihatan dan pengamatan yang dilakukan oleh mereka terhadap kejadian alam dan banyak dari benda-benda langit. Benda-benda langit itu berupa matahari, bulan, bintang, serta fenomena yang lainnya. Cara berpikir yang tumbuh itu berasal dari kejadian alam seperti adanya fenomena benda langit dan kepercayaan lain itu menjadi kepercayaan atau keyakinan yang mereka miliki.
Benda-benda langit dan fenomena yang terjadi seperti pergantian siang dan malam, bersinarnya bulan mulai dari sabit hingga purnama penuh, serta berpendarnya bintang gemintang di setiap sudut langit itu menjadi suatu yang diamati yang kemudian dijadikan kepercayaan mereka. Dengan adanya benda-benda langit itu pula manusia mengetahui pergantian musim dan perhitungan waktu. Dari proses itulah kemudian muncul praktik-praktik penyembahan kepada benda-benda langit itu.
Hal ini membuktikan bahwa dalam diri manusia terdapat sesuatu yang begitu naluriyah atau sesuatu yang sangat alami, yaitu naluri untuk beragama atau yakin dengan adanya wujud yang maha tinggi. Dari adanya hal itu mereka terus berpikir dan mengembangkan suatu cara tertentu untuk menyembah atau memujanya. Wallahu a’lam bi al-shawaab
Oleh: Muhammad Faiz Mubarok, Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Walisongo Semarang.







