Dingin dini hari telah menembus kulit seorang pria kurus. Matanya tiba-tiba terbuka tanpa sengaja. Tidurnya memang tak pernah lama. Sengaja dia tak menggunakan alas tidur agar terbangun mudah karena diterjang oleh angin malam. Pukul dua, dia segera menuju bilik mandi di belakang asrama guna menunaikan hajatnya untuk berkawan bersama air yang tersaji di bak kubus yang sangat dingin serasa seperti di kulkas depan rumah Abah pemilik pondoknya.

Guyuran air telah menyerang sekujur tubuhnya. Secepat kilat, dia berperang melawan nafsu. Kehidupan ini telah dia lalui sejak satu tahun lalu. Bukan tanpa tujuan, tapi karena sebuah tuntutan besar yang harus dia kejar.

*****

“Hiks-hiks,” tangisan terdengar begitu syahdu oleh pria yang tengah khusyu’ menghadap Sang Pencipta. Derai tangis semakin pecah setelah bibirnya basah mengucap kalam Sang Maha Kuasa.

Dia sangat paham maknanya. Kemudian, ia ruku’ dan sujud dengan penuh hikmat dan akhirnya ditutup dengan salam yang menjadikan ibadahnya dalam rangka dekat kepada Sang Maha Pencipta menjadi semakin syahdu saja.

“Ya Allah. Jangan Kau jadikan dunia sebagai priorotas utamaku dan akhirnnya kulalai mengingat-Mu,” ujar pria itu sembari ditemani air mata. Sedih dan kecewa pada diri pasti merasuk dalam jiwanya.

*****

Langkahnya harus gercap guna menunaikan shalat Subuh dan setoran yang menjadi aktivitas terpentingnya. Tangannya gagah memegang Mushaf Utsmani yang diberikan ibu setelah deklarasi untuk menyuguhkan mahkota ia kobarkan. Berjalan menyusuri lorong gelap dan bergegas menuju Masjid at-Taqwa guna persiapan salat jamaah. Seperti hari-hari biasanya, jam 3, masjid masih sangat sepi sekali. Hanya ada suara jangkrik yang berkeliaran menghiasi dini hari.

Baca Juga  Sebuah Ungkapan Sebuah Harapan

“A’udzubillahiminasysayaithonirrojim,” ucap pria itu. Lirih suaranya seperti suara Imam as-Sudais. Kali ini, ia mendapat giliran menghafal juz 21. Juz baru dan pasti penuh dengan lika-liku. Pria itu mulai meluruskan niat.

“Iqbal Adeni,” seru seorang Muhafidh.

Detak jantung pria yang diseru semakin deras. Kali ini gilirannya. Ia memegang dada seolah menahan dentuman gempa kecil di tubuhnya. Sebenarnya dia sudah sudah setiap hari setoran hafalan. Namun, hari ini tak seperti biasanya. Dadanya bergetar akibat menahan sakit. Tubuhnya lemah tak berdaya. Dia sepertinya kelelahan karena keseringan bercengkrama dengan kalam-Nya di dini hari. Siang juga tak dimanfaatkan untuk merebahkan diri. Tubuhnya pucat pasih. Dia semakin tak dapat menahan gejolak di dada. Badannya mulai lunglai dan akhirnya terhempas dengan mudah seperti debu.

*****

Rumah Sakit Permata pukul 09.00.

“Saya sedang di mana, ya?” tanya Adeni, nama panggilan yang dia sukai karena pertama kali didengungkan oleh Ibunya.

“Kamu sedang di rumah sakit, Nak,” ungkap pria berkoko tosca padanya.

“Kok bisa? Saya belum setoran hari ini. Hiks-hiks…,” isaknya penuh haru. Bukan berarti dia cengeng, tetapi dia kesal, mengapa dia bisa terjatuh dahulu sebelum melakukan agenda sehari-hari yang tak boleh terlewatkan.

“Tenang, Nak. Buya akan menyimak hafalanmu nanti. Kamu harus tenangkan diri dulu. Kesehatan itu sangat penting. Buya tidak mau kamu kenapa-napa,” ujar Buya penuh perhatian.

“Kamu santri Buya yang sangat Buya sayangi. Buya sudah menganggapmu seperti anak Buya sendiri. Buya ingin kamu tetap sehat dan selalu dalam naungan Allah,” lanjut Buya.

Baca Juga  Kriptos*

“Buya Ahmad, terima kasih karena sudah perhatian kepada saya. Saya jadi rindu Abah di rumah,” Dausiy menanggapi pernyataan Buya.

“Kamu istirahat dulu, ya. Buya mau mengurus sesuatu,” pinta Buya setelah mendengar sedikit curhatan pria kurus itu.

Adeni mengangguk setuju. Kemudian, dia meraba kepala karena merasakan hal yang aneh. Kepalanya seperti diremas-remas. Sebenarnya, ia sudah menahan sakit sejak sebelum setoran. Tapi, Buya tidak patut tahu tentang itu. Perhatian Buya memang patut dipuji. Namun, tak mungkin jika Adeni terlalu merepotkan Buya.

Adeni kemudian memegang kepala sambil membaca akhir Surat al-Hasyr untuk menahan rasa sakit. Kebiasaan ini diajarkan Buya dan telah melekat dalam jiwanya.

Bersambung….

Mardiyah Lee
Penikmat Sastra

    Sejarah Perkembangan Buku

    Previous article

    Senyuman yang Lenyap

    Next article

    You may also like

    Comments

    Ruang Diskusi

    More in Cerpen