Senyuman yang Lenyap

Namaku Azalea. Aku adalah orang yang suka menolong. Selain itu, orang sering kali bilang kalau aku ramah dan periang. Mereka menyukai senyumanku yang kerap kali aku layangkan ketika aku bertemu dengan mereka. Mereka yang mengetahui keberadaanku pun membalas manis sunggingan senyumku. Rasanya, tiada hari yang aku lewatkan tanpa tersenyum. Karena aku tahu bahwa senyum adalah salah satu ibadah.

Namun, hari ini terasa berbeda. Gurat lengkungan yang biasanya bertengger di wajahku kini lenyap. Semuanya bermula dari rumahku.

Assalamu’alaikum, Bunda,” ucapku sembari menuruni tangga menuju dapur.

Aku tidak henti-hentinya memasang wajah ceria. Apalagi ketika melihat Bunda tengah memasak makanan kesukaanku. Senyum yang terbit kini bertambah menjadi berkali-kali lipat. Entah kenapa Bunda yang menyadari kehadiranku justru pergi melengos begitu saja. Bahkan dia tidak membalas salamku. Meski beberapa kali aku panggil, Bunda tetap tidak meresponnya.

Bacaan Lainnya

Huft. Apa yang sudah aku perbuat ya sampai Bunda mengacuhkanku seperti ini! Batinku melihat punggung Bunda menjauh.

Aku berusaha tenang dan terus berpikir mencari kesalahan yang sudah aku lakukan pada Bunda. Di tengah ketermenunganku, Kak Alif tiba-tiba datang mengejutkanku dari arah belakang. Memang dasarnya aku orang latah, jadi auto loncat-loncat. Dan tidak sengaja aku memecahkan sepiring nasi goreng yang memang disiapkan Bunda untukku.

“Ish Kak Alif bikin kaget Azalea tahu! Mana piringnya pecah lagi. Duh, pasti Bunda makin marah sama Lea.”

“Eh maaf, Lea. Kakak eng….”

Belum sempat Kak Alif selesai bicara, Ayah datang memotong perkataan Alif. Ayah yang mendengar suara gaduh, lantas bergegas ke arah kami. Melihat piring pecah berserakan di lantai, air muka Ayah berubah menjadi merah. Sorot matanya tajam menusuk bak elang. Aku menjadi ciut tak berani menatapnya.

“Kalian segera bersihkan kekacauan ini!,” kata Ayah.

Aku pun langsng mengiyakan perintah Ayah. Seumur-umur, aku baru pertama kali melihat Ayah semurka itu. Padahal hanya karena masalah yang kecil. Dengan berat hati, aku berjongkok memunguti sisa-sisa pecahan beling yang ada di lantai. Namun, aku masih berusaha tersenyum. Aku tidak mau kejadian pagi ini merusak suasana hatiku.

Heranku, kenapa Kak Alif tidak membantuku. Dan ketika ku tengok ke belakang, dia justru sudah mengambil helm motor dan bersiap berangkat ke sekolah.

“Aku buru-buru, Lea. Kamu berangkat sendiri, ya. Oh ya tolong kamu beresin itu” seru Kak Alif dari depan rumah.

Huh Kak Alif palingan jemput pacarnya. Oke calm down, Azalea.kamu harus sabar! Jangan sampai mood kamu rusak!

Setelah selesai, Aku mengecek jam di pergelangan tanganku. Ternyata tinggal sepuluh menit lagi!. Oh ya Tuhan. Aku khawatir kalau terlambat ke sekolah. Alhasil, aku pinjam sepeda Bunda. Sekuat tenaga aku kayuh pedal sepeda itu hingga peluh menetes dari wajahku. Bahkan, aku merasakan kalau seragam bagian belakangku basah.

Di tengah perjuanganku mengejar waktu, aku tidak sengaja berpapasan dengan seorang ibu yang sedang mencari sesuatu di jalan. Gelagatnya aneh, sepertinya ibu itu tidak bisa melihat. Memandangnya, hatiku tersentuh. Dengan bergegas, aku dekati Ibu itu. Dan ternyata Ibu itu tengah mencari buku kecil. Aku rasa semacam buku catatan.

Aku membantu ibu mengambil buku catatan lalu kuserahkan padanya. Sekilas, aku melihat rentetan alamat yang aku kenal. Alamat itu tidak jauh dari sini, hanya beberapa blok saja. Akhirnya, aku putuskan menawarkan bantuan pada ibu itu. Iya, aku akan mengantarkannya. Ibu itu tersenyum dan menerima pertolonganku.

Setelah mengantarkan Ibu dengan sepeda Bunda, aku kembali teringat dengan sekolah. Aku pun menepuk jidat lebarku, lantas mengayuh pedal sepeda dengan lebih kuat. Karena dihantui rasa terlambat sekolah, tanpa sadar aku mengabaikan orang-orang yang biasanya aku sapa dan layangkan senyuman. Pikiranku kini seakan sudah tersetting untuk fokus tertuju pada sekolah.

Benar dugaanku. Belum sampai kaki ini menginjak lantai sekolah bahkan kelasku, aku sudah diberi ‘hadiah’ oleh guruku. Ternyata guru sekaligus waali kelasku itu sudah menungguku di samping gerbang sekolah. Aku terlambat 25 menit!. Aku pun mendapat hukuman menata buku-buku di perpustakaan selama jam pelajaran berlangsung. Sesaat setelah hukumanku usai dan memasuki jam pelajaran baru, aku mendapat tambahan ‘hadiah’ dari guru olaahragaku karena lupa tidak membawa kaos! Ibarat pepatah sudah jatuh tertimpa tangga.

Waktu siang hari, jam sekolah berdenting.

Alhamdulillah. Akhirnya hari panjang ini selesai. Ah badanku rasanya letih. Nanti di rumah minta tolong Bunda olesin krim, deh. Eh tapi Bunda kan masih marah sama Aku,” gumamku sambil mengibas tanganku di depan wajah.

Aku pun pulang dalam kondisi agak berantakan. Terlebih di perjalanan pulang, ban sepeda Bunda bocor. Akhirnya, aku menuntun sepeda itu sampai rumah. Aku memikirkan semua kejadian sepanjang hari ini. Aku meringis, memang berat. Namun, aku menyesali satu hal yaitu aku tidak tersenyum pada semuaa orang yang aku temui. Aku bertekad, besok-besok aku tidak boleh mengulanginya lagi meski beban berat mengusik suasana hati.

Sesampainya di rumah, aku langsung meletakkan sepeda Bunda dalam garasi dan masuk dari pintu samping.

Hemm tidak biasanya pintu depan dikunci. Batinku.

Ketika aku membuka pintu samping rumah, barulah aku mengetahui alasannya.

“Selamat ulang tahun. Selamat ulang tahun. Selamat ulang tahun Lea. Selamat ulang tahun,” suara ramai orang menggema dalam gendang telingaku.

Aku terharu dengan kejutan ini. Tidak kusadari setetes air mata jatuh mengenai pipiku.

“Sstttt jangan sedih Lea. Ini kan hari ulang tahun kamu. Selamat ya” ucap Bunda.

“Iya ni Lea. Padahal kami udah sengaja ngerencanain ini buat kamu,” kata Kak Alif.

Eh tapi tunggu. Rencana? Aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Dan di sana aku tidak hanya meilhat kehadiran kelurga dan teman-temanku, tetapi juga guruku dan satu lagi ibu buta yang tadi pagi Aku tolong. Oh, jadi kini aku mulai paham.

“Terima kasih tadi pagi sudah menolongku, anak manis. Aku adalah sahabat Ibumu. Dan ini untukmu.”

Ternyata barang yang dibeli ibu itu di alamat yang aku antarkan ditujukan untukku. Aku pun berterima kasih dan memberikan senyum termanisku untuknya. Tak lupa aku berterima kasih kepada keluarga, guru, teman-teman dan semua yang berperan dalam lenyapnya senyumanku hari ini. Sebab, kini aku justru tidak bisa berhenti tersenyum sumringah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *