Buku adalah sumber ilmu, Sedangkan membaca adalah kuncinya. Sebuah buku mampu mengungkapkan sesuatu, menggambarkan seseorang dan menceritakan segudang sejarah dalam rangkaian kehidupan. Buku juga menawarkan kehidupan baru bagi para pembacanya, karena itu buku sering disebut sebagai jendela dunia yang bisa memberikan banyak pengetahuan, inspirasi, serta pencerahan dalam kehidupan. Dengan buku, para pembaca akan bisa menjelajahi dunia, serta mampu melahirkan  karya dan mengubah peradaban.

UNESCO menetapkan hari buku sedunia jatuh pada tanggal 23 April. Hal ini dapat diartikan bahwa buku memiliki peran penting dan arti yang luar biasa bagi kehidupan manusia. Bahkan sampai saat ini pun, peran buku masih belum tergantikan dalam kapabilitasnya sebagai sumber pustaka meskipun sudah banyak media praktis yang digunakan untuk mencari pengetahuan, seperti internet. Sejarah menjadi sebuah kisah konkret yang bisa dipelajari generasi berikutnya karena dibukukan. Karya sastra bisa dinikmati para pembacanyakarena dibukukan. Wahyu Allah, kisah para nabi, dan diary kehidupan seorang Rasulullah (sunah, hadst) dapat dikaji, ditelaah serta diamalkan karena dibukukan, sehingga kemudian menjadi panduan kehidupan bagi umat Islam sampai saat ini.

Menelusuri Sejarah  Buku

Dilansir dari laman id.wikipedia.org, Buku adalah kumpulan/himpunan kertas atau bahan lainnya yang dijilid menjadi satu pada salah satu ujungnya dan berisi tulisan, gambar, atau tempelan. Setiap sisi dari lembaran kertas pada buku disebut sebuah halaman. Dalam bahasa Indonesia terdapat kata kitab, yang merupakan serapan dari bahasa arab كتاب, artinya buku. Sebuah buku lahir dari perkembangan  manusia akan pentingnya komunikasi dan informasi, serta kemampuan daya pikir manusia juga kelemahan daya tampung pikiran manusia. Pada zaman dulu, tradisi komunikasi dan penyampaian informasi berupa syair, doa-doa, cerita yang disampaikan bersifat lisan dari mulut ke mulut. Oleh karena itu, metode menghafal menjadi sebuah tradisi untuk belajar dan mengkap informasi pada masa itu. Semakin lama, informasi-informsasi semakin banyak bermunculan, sehingga makin banyak pula  yang harus dihafal. Namun, kapasitas memori ingatan mereka kian melemah. Mereka akhirnya berpikir untuk menyajikan beragam informasi melalui tulisan dan gambar.

Sejarah buku tidak lepas dari sejarah perkembangan tulisan. Mulai dari tulisan hieroglif pada masa Mesir kuno, tulisan pada batu-batu berupa prasasti, tulisan pada daun lontar atau papyrus, sampai tulisan pada kulit-kulit binatang dapat dikatakan sebagai buku kuno. Para ahli sejarah menyatakan bahwa pertama kali tulisan ditemukan pada tahun 1800 SM dalam bentuk tersusun secara alfabet di kota Mesir.  Bentuknya tentu saja sangat berbeda dengan bentuk buku di masa sekarang ini. Buku tersebut dibuat oleh bangsa Mesir menggunakan lapisan papyrus, yaitu tumbuhan sejenis alang-alang yang tumbuh sangat banyak di sungai Nil. Papyrus dipipihkan hingga tipis membentuk lembaran. Kumpulan papyrus yang sudah menjadi lembaran ini  digulung kemudian disebut sebagai buku.

Baca Juga  Buka Puasa Bersama Pertama di Ramadan Terakhir

Buku pertama yang dibuat dari lembaran papyrus ini berkisah tentang Raja Neferirkeri Kaki pada Dinasti Ke-lima, sekitar tahun 2400 SM. Tulisan pada lembaran papyrus ini juga banyak digunakan oleh bangsa Romawi. Dalam catatan sejarah, panjang gulungan papyrus bisa mencapai puluhan meter. Hal itulah  kemudian membuat orang kesulitan dalam menulis dan membaca. Gulungan papyrus bisa mencapai 40,5 meter, gulungan  tersebut digadang-gadang sebagai gulungan papyrus ter panjang yang berada di British Museum London.

Seiring perkembangan zaman, Gulungan papyrus ini sudah tidak relevan lagi untuk digunakan karena dinggap tidak praktis dan menyusahkan. Dengan keinginan serta kebutuhan untuk meningkatkan sisi kemudahan dalam peradabannya, maka pada awal Abad Pertengahan gulungan papyrus, buku diganti dengan lembaran kulit domba terlipat dilindungi oleh kulit kayu yang keras atau  disebut Codex. Codex dikenal sebagai kumpulan naskah kuno yang berisi ajaran agama.

Kata codex berasal dari bahasa latin, artinya balok kayu. Balok kayu yang dilapisi dengan lilin diatasnya sehingga membentuk buku. Codex memiliki keunggulan dibandingkan papyrus, yaitu dapat dipakai ulang. Ketika hendak menulis tulisan baru, lapisan lilinnya dipanaskan sampai meleleh dan kosong. Barulah menulis. Selain codex, orang mengenal manuskrip sebagai bentuk yang hampir sama dengan codex. Tulisan tangan dalam codex dan manuskrip tersebut dianggap sebagai tulisan yang mulai tersusun secara rapi.

Pada Pertengahan Abad ke V, terjadi perkembangan yang cukup pesat dari codex. Masyarakat di Timur Tengah menggunakan kulit kambing/domba sebagai media untuk menulis. Kulit domba disamak dan dilebarkan hingga membentuk lembaran. Lembaran ini disebut pergamenum dan kemudian disebut perkamen (kertas kulit). Perkamen disusun secara berlipat lalu diikat pada salah satu sisinya dengan menggunakan jepitan dari kulit. Perkamen lebih mudah digunakan dan nyaman ketika dibawa bepergian. Perkamen dianggap bentuk awal dari buku berjilid.

Baca Juga  IPNU dan IPPNU Tasikmalaya Miliki Aset Senilai 450 juta. Begini Kata Demisioner Ketum

Tidak hanya itu. Di zaman pertengahan, bahan dasar buku diambil dari kulit sapi (vellum). Vellum atau lembaran dari kulit sapi ini lebih tebal dibandingkan perkamen, sehingga kedua sisinya bisa ditulisi. Setiap empat lembar vellum menjadi delapan halaman dan dianggap sebagai satu bagian buku. Bagian yang sudah selesai itu dijahit di bagian belakang. Kedua bagian depan dan belakang kemudian dilapisi kayu, ditutup kembali dengan kulit, sehingga hasilnya seperti buku yang dipakai sekarang. Kemudian bangsa Cina dan Jepang dengan teknologinya yang cepat dan sederhana, mampu mengubah bentuk buku gulungan menjadi buku bersusun dan berlipat yang diapit sampul, sehingga terbentuk seperti lipatan kain gorden.

Perkembangan pembuatan buku tidak lepas dari peran signifikan pembuat kertas asal Cina, Tsai Lun. Sekitar tahun 105 M, ia memperkenalkan dan mempersembahkan contoh kertas kepada Kaisar Ho Ti. Disebutkan, kaisar Ho Ti sangat senang dengan hasil karya Tsai Lun. Pembuatan kertas sendiri telah dilakukan sejak Abad ke-11 M, kemudian digunakan secara massal di abad ke-16 M. Hasil penciptaan kertas ini, Cina mampu memproduksi banyak kertas, dan dalam waktu singkat Cina berhasil menjadi pengekspor kertas satu-satunya di dunia pada Abad ke-2 M. Pada pertengahan tahun 800-an, buku mulai mengalami perubahan dan perkembangan dari segi pembuatannya. Tahun 868 M, para peneliti menemukan Diamond Sutta, sebuah buku dengan cetakan paling tua. Tulisan pada buku ini masih menggunakan huruf seperti huruf Cina (tulisan berderet ke bawah, tidak ke samping), serta dipenuhi gambar.

Penemuan dan pembuatan kertas menjadi awal perkembangan pembuatan buku. Di Cina, orang mulai menuliskan karyanya melalui pencetak huruf yang terbuat dari balok kayu. Perkembangan perbukuan di cina selanjutnya menginspirasi warga Eropa. Johanes Gensleich Zur Laden Zum Gutenberg yang berkebangsaan Jerman menemukan cara pencetakan buku dengan huruf-huruf logam yang terpisah. Huruf-huruf itu bisa dibentuk menjadi kata atau kalimat. Gutenberg kemudian melengkapi ciptaannya dengan mulai membuat mesin cetak pada abad ke-15. Meskipun demikian, untuk menyelesaikan satu buah buku tetap saja diperlukan waktu lama karena mesinnya kecil dan jumlah huruf yang digunakan pun terbatas. Mesin cetak Gutenberg ini mempunyai kelebihan mampu menggandakan cetakan dengan cepat dan jumlah yang banyak.

Baca Juga  Dokumen Bocor: Ternyata Jiwasraya Bermasalah di Era Jokowi, Bukan SBY

Teknik cetak ini bertahan hanya sampai abad ke-20. Hingga akhirnya, pada pertengahan abad ke-20 ditemukan teknik cetak yang lebih sempurna, yakni pencetakan offset. Pembuatan mesin cetak oleh Guttenberg menandai proses awal pembaharuan/modernisasi pembuatan buku. Pada tahun 1800 M, ditemukan mesin pencetak kertas yang memakai tenaga uap dan bisa mencetak 1100 lembar/jam. Selanjutnya, pada akhir abad ke-19 ditemukan lagi mesin yang lebih canggih yang mampu  menyusun  6000 kata/jam dan semuanya sekali ketik. Seiring dengan perkembangan dunia informatika, kini buku tidak hanya dalam bentuk cetak tetapi dalam bentuk digital yang dikenal dengan istilah e-book atau buku-e (buku elektronik), yang bisa diakses melalui internet dengan perangkat seperti komputer meja, komputer tablet, telepon seluler dan lain sebagainya.

Sebuah sejarah panjang tentang pembuatan buku, mencerminkan bagaimana perjuangan panjang manusia dalam menciptakan karya untuk mengubah peradaban dari masa ke masa. Sekarang, dunia perbukuan sudah semakin modern, dengan desain yang menarik, berwarna, tata letak yang bagus, proses pembuatan yang singkat, serta hasil yang memuaskan. Bahkan sekarang ini buku dapat diakses dimanapun dan kapan pun. Belajar dari masa lalu, betapa membuat tulisan untuk dibukukan itu memerlukan tenaga yang cukup besar mulai dari ketelitian, ketelatenan, kesabaran dan tentu saja pengabdian yang total, dengan segala keterbatasan sarana. Maka, hargailah buku sebagai sumber pustaka ilmu pengetahuan. Rawatlah  buku dengan baik, dan teruslah membudayakan sikap senang membaca. Karena dengan membaca, kita akan menggunakan otak kita untuk berfikir ke arah yang lebih maju, tentunya melalui buku-buku pengetahuan.

Oleh: Wahyuningsih, Wakil Sekretaris Bidang Eksternal Kohati HMI Korkom Walisongo Semarang

Aksara Hati

Previous article

Cinta Syurga Neraka (Bagian 1)

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in News