Seiring berjalannya masa, siang dan malam silih berganti membersamai. Begitupun hati yang tak pernah sepi dan selalu dikunjungi. Entah berapa rasa yang bergantian menghibur diri. Entah berapa kali hati itu tersakiti. Kedatangan, kepergian, kerinduan, penantian hingga kehilangan. Semua itu menjadi pelajaran semesta.

Soal menaruh rasa memang perihal yang mudah. Sebut saja jatuh cinta. Ohhh…betul memang, setiap saat setiap waktu cinta bisa datang kapan saja. Namun, tidak bisa diberlakukan biasa dan secukupnya saja. Orang bilang perlu penanganan intens. Seringkali rindu datang menghadiri seakan menjadi konflik hati. Kekuatannya dahsyat mampu mematahkan hati yang bergejolak.

Hmmm…begitulah. Aku pikir jatuh cinta itu ibarat uji nyali. Seberapa besar nyali yang kita miliki untuk menguasainya? Kadang kala jatuh cinta itu membuat orang jenius sekalipun menjadi bodoh. Sebab urusan hati bisa mematahkan mata dan mengalahkan logika.

Rasa itu tumbuh mendewasakan. Rasa bisa membuatku terpuruk. Juga rasa bisa membuatku bangkit. Seseorang mungkin pernah cukup lama mengukir rasa bersama. Namun, seiring berjalannya masa keputusan tentu ada. Jalan berbeda bisa saja menjadi pilihan.

Begitupun aku. Meski pernah jatuh, aku berusaha bangkit dan terus melangkah. Melanjutkan merajut mimpi-mimpi yang akan ku gapai. Namun mengapa? Di tengah ku melangkah bayang-bayangnya selalu liar menjelma dalam imajinasiku. Sungguh, aku tak bisa menghindarinya. Di setiap tempat yang ku singgahi, tidak pernah aku tidak luput berpikir barangkali dia di sana.

Bagaimana dengan kata orang-orang? Hmmm…mungkin benar, jika sebagian orang mengatakan aku enggan beranjak. Tak apalah, hati orang siapa yang tahu. Sebagian jiwaku mengatakan bahwa aku tak pernah benar-benar menyandarkan perasaan atasnya. Sejatinya, hanya di samudra perasaanku lah aku menyimpan dan menyandarkan semua rasa dan rindu atas semua ini.

Baca Juga  Mengenal Lebih Dekat Ibnu Sina

Aku pernah menemukan hikmah bersamamu. Seseorang yang pernah ku temui dalam lorong panjang yang mengajakku ke luar dari kegelapan, seseorang yang pernah mengantarkan ku berteduh di tengah badai hujan dan petir menyambar.

Ahhh… sudahlah. Beriringan dengan waktu, aku sadar dan aku pasrah. Hanya Sang Rabb yang tahu muara kisah perjalanan kita. Dialah yang mengatur semua dinamika permainan ini. Dialah yang mengendalikan ke mana takdir membawaku berlabuh.

Meski sulit dan terluka, ku tetap tapaki jalanan yang penuh haru dan liku.

Ku sampaikan salam dan terima kasih kepadanya. Dengan semua cerita yang membuat hariku menjadi berwarna. Membawaku mengenali luka dan tawa.

Aksara hati yang mewakili relung sanubari.

Oleh: El-Fath, Pemilik Sanubari

GPII Jateng Desak Jokowi Lebih Serius Bela Palestina

Previous article

Sejarah Perkembangan Buku

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Zetizen