Kala diri menapak pada sisi di ujung tepi
Rona pucat senyap mulai melingkupi
Menolak akal berani
Menghadirkan dekadensi dalam hati
Terus menjalar hingga rasa enggan menguasai
Kelam. . .
Raga telah tertelan kegelapan
Kaki terpaku pada keadaan
Pelita jiwa menjadi padam
Pandangan netra kian buram
Semua stagnan karena cengkraman
Hingga jalan di depan terkabut oleh halusinasi perasaan
Wahai kemerdekaan. . .
Sapalah diri dengan petunjuk Tuhan
Sebab orientasi ini tak berarah
Salah langkah menyanyat berdarah
Puing lara tak terelak sudah
Diri dilanda kelam yang bertambah-tambah
Tidak nampakkah kau?
Akan segala rana dan risau
Hambatan melangkah tuk maju
Terpatri pada akuisisi yang membelenggu
Kefanaan dunia menghakimi laku
Fatamorgana dan nyata saling meramu
Jika izin telah menyapa
Bolehkah raga melompat ke tepi sana?
Berbekal terpaan cahaya-Nya
Sesudah berdo’a dan berusaha
Berharap menaklukkan ego angkara
Meraih kemenangan belenggu jiwa
Semoga. . .
Oleh: Yumna Myesha







