Bagaimana Kabar Harapan?

Istimewa

Ketika bintang mulai mengedip manja kepada rembulan, perlahan membuat diri mendadak jadi filsuf dan menanyakan berbagai hal kepada semesta. Mengapa bintang itu terus menghiasi malamku? Mengapa sinarnya mendatangkan kehangatan dalam jiwa? Mengapa perlahan ku mulai merindukannya? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang diajukan rembulan kala itu.

Berawal dari sebuah sapaan yang tertuang pada harapan serta do’a di sepertiga malam,  kau membuatku berpikir tentang makna kekuatan dan lambaian tanganmu. Dengan segala keahlian yang kau punya, kuas cinta dan warna pilihanmu berhasil menghiasi kanvas hari-hariku dengan begitu indah. Tak lupa coretan harapan dalam langit Sang Pemberi Kenikmatan memenuhi segala penjuru.

Kita tak pernah tahu, ada rencana apa yang telah disiapkan oleh-Nya di balik perjalanan yang telah kita tempuh kali ini. Menjalani yang baik dan memanfaatkan untuk menambah kekuatan dalam menggapai visi, itulah yang harus terus kita jaga. Aku dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dianugrahkan oleh Sang Pencipta, begitupula dirimu. Kita sama-sama berjuang untuk menyatukan segala perbedaan yang ada untuk berjalan ke arah yang sama.

Dengan segala kerendahan hati, saat rayuanku terucap kepada pemilik senja yang menciptakan keindahan di langit kasih sayang, saat itu pula kau berhasil mendatangkan pelangi setelah hujan reda. Tahukah engkau? Aku kehabisan kata tatkala bulan sabit terlukis di wajahmmu. Dengan segala kerendahan dan usaha yang kau tempuh, harapan itu akhirnya sampai  kepada pendengaranku.

Ketukan jari tulusmu di pintu hati orang yang kau bilang selalu memenuhi hati sanubarimu telah terwujud. Aku merasakan ketukan itu, meski rona wajah dilanda kebingungan yang sangat. Aku tak pernah menyalahkan harapan yang telah sengaja kau ucapkan. Tapi sekali lagi, jangan lupa untuk menyandarkan harapan itu pada Sang Pemilik Hati.

Masih ingatkah kau? Bangunan megah warna putih menjadi saksi rona wajahmu yang memerah kala itu. Hingga pada akhirnya, langkah kakiku mulai menjauhimu ketika kau terkena virus grogi yang teramat sangat dan tak ada satupun kata yang bisa keluar dari mulutmu. Setelah itu, barulah perlahan kau mulai menjelaskan maksud dari pertemuan yang tak sengaja di sudut bangunan.

Hari terus berganti, begitupula kondisi hati yang tiap detik berganti. Lalu, apakah harapan tempo itu masih terpatri? Atau sudah ikut lari bersama hembusan angin di siang hari? Tidak perlu dijawab, Mentari. Mari, kita sama-sama mengkomunikasikan dengan Sang Pemilik sejati yang dengan begitu mudah terus membolak-balikkan hati.

Bagaimana dengan harapan yang pernah menjulang tinggi dan berterbangan di arsy-Nya. Apakah hingga kini tetap tertuju pada satu hal yang sama-sama atau telah berpindah pada obyek yang berbeda? Apapun itu kuharap itulah yang terbaik dari Yang Maha Baik.

Lonceng pertemuan belum ada tanda-tanda untuk di dengar. Itu berarti perjumpaan yang telah digadangkan untuk menghancurkan sarang kerinduan masih lama. Hanya do’a di sepertiga malam dan rayuan kepada pemilik semestalah yang dapat sedikit meredam. Lewat hal itu pula, jalan demi jalan yang ditunjukkan oleh-Nya bisa terlewati menuju harapan yang haqiqi.

Dalam sajakku kali ini, ingin ku berpesan pada penambat hati yang kian hari terus memenuhi imajinasi. Aku di sini, masih dalam kesunyian yang haqiqi menanti kebahagian yang nyata menghampiri. Jikalau kabar harapan masih dalam pelayaran menuju muara yang sesungguhnya maka, akupun juga demikian. Harapku masih sama pada bentangan jarak yang mengajarkan tentang keikhlasan. Engkaulah yang mengajarkanku hal demikian.

“Jangan menunggu yang tak pasti, kejarlah apa yang tidak meninggalkan kita. Cintai kepada Sang Pemilik Cinta. Karena dengan begitu, siapapun yang nantinya datang, itulah yang menjadi hadiah terindahmu”

Pesan itulah yang selalu dan akan terus ku ingat. Berharaplah pada Sang Pemiliknya. Karena, dialah yang memiliki segala yang hidup. Termasuk rasa yang belum tahu kapan akan terus bersemi dan dilenyapkan oleh-Nya. Ketika kabar harapan masih seperti semula maka, jangan ragukan usaha dan niat awalku ketika Allah menakdirkanku untuk terus menjadi suportermu. Membersamaimu meraih mimpi yang kau terbangkan dilangit imajinasi. Menjadikanmu seseorang yang lebih baik sesuai versimu.

Hingga kapan harapan itu akan terus bersemi dan membawa kemanfaatan dalam kehidupan dua insan yang ditumbuhinya?

Perjalanan Semarang-Rembang, 24 Maret 2020

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *