Orang Tua: Sahabat atau Algojo?

Istimewa

Setiap orang tua, pasti mengharapkan anaknya menjadi si nomor satu dan tumbuh menjadi  orang  yang hebat, apapun caranya pasti dilakukan orang tua agar anaknya berhasil, sekalipun mengorbankan nyawanya. Sering kita mendengar pepatah kasih sayang orang tua sepanjang masa dan kasih sayang anak sepanjang galah, memang pepatah ini benar adanya, perwujudan kasih sayang orang tua terhadap anaknya tidak perlu diragukan lagi.

Selama ini, orang tualah yang memegang peranan penting dalam tumbuh kembang seorang anak karena melalui orang tua dan keluargalah anak mendapat bekal ilmu untuk menuju kehidupan luar, bisa diibaratkan orang tua dan keluarga adalah gerbang menuju kehidupan yang sebenarnya, sehingga untuk mempersiapkan anaknya mampu bersaing dengan jutaan, miliyaran bahkan trilliunan manusia lain di muka bumi ini, setiap orang tua memiliki pola asuh dan penerapan yang berbeda-beda.

Ada yang menggunakan pola asuh dengan prinsip apapun yang anak lakukan selagi itu positif maka orang tua akan mendukung, dan ada pula yang menggunakan pola asuh anak harus menjadi apa yang orang tua inginkan walaupun hal tersebut tidak sesuai dengan kehendak sang anak.  Namun sayangnya, banyak diantara orang tua yang menerapkan pola asuh yang seakan-akan mengganggap anak adalah robot yang artinya segala perilaku dan aktivitas anak harus sesuai dengan apa yang dikomandokan si pemilik remot.

Perlu kita ketahui setiap kepala memiliki kapasitas pemikiran yang berbeda-beda, anggapan bahwa anak pintar adalah anak yang unggul dibidang akademik misalnya matematika masih melekat dipemahaman orang tua, padahal sebenarnya anak memiliki potensi bakat dan minat yang  berebda-beda, ada yang memang unggul di akademik seperti matematika, fisika, bahasa dan sains. Namun, banyak juga dari anak-anak yang tidak unggul di akademiknya melainkan unggul di non akademiknya seperti olahraga, seni dan lain sebagainya. Orang tua harus memahami ada dipposisi mana anaknya sekarang, agar tidak terjadi kesalahan pola asuh dalam mendidik anak. Banyak pula kita jumpai kasus-kasus akibat salah pola asuh yang mengakibatkan stressnya anak dan terganggunya kondisi mental anak.

Nah, seperti apa sih pola asuh yang menyebabkan tertekannya mental seorang anak itu? Ialah pola asuh otoriter, dimana pola asuh ini mengharuskan anak menurut segala perintah yang berupa  paksaaan dari orang tua dan apabila sang anak tidak menjalankan  perintahnya ataupun melakukan kesalahan terhadap perintah  tersebut, maka sang anak kerap kali mendapat hukuman fisik. Pola asuh seperti ini sangat tidak disarankan walaupun disisi lain terdapat dampak positif yang menjadikan si anak siap menerima konsekuensi atas tindakannya. Akan tetapi, dampak buruk  yang ditimbulkan jauh lebih banyak.

Adapun alasan orang tua yang menerapkan pola asuh ini dapat dilihat dari berbagai aspek salah satunya adalah aspek status sosial, memang tidak bisa dipungkiri lagi, dewasa ini status sosial menjadi suatu keharusan, nafsu yang mendominasi jiwa manusia agar senantiasa menjadi perhatian manusia lainnya mengakibatkan manusia berlomba-lomba untuk menampakan sisi lebihnya kepada orang lain. Melalui anak, orang tua bisa mendapatkan perhatian lebih dari orang lain dan dianggap mampu menjadi panutan,salah satu caranya adalah menggembleng anak agar unggul disegala bidang. Namun, sayangnya gemblengan yang dilakukan orang tua dengan pola asuh otoriter ini terlalu berlebihan sehinnga berdampak buruk terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak.

Anak yang mendapat pola asuh otoriter dari orang tuanya ini cenderung pendiam dan sulit mengungkapkan pendapatnya, hal ini terjadi karena anak akan merasa tertekan apabila hendak mengekspresikan isi hatinya, orang tua yang terbiasa membentak dan main fisik akan mempermanenkan pola pikir, jika anak melakukan kesalahan maka ia harus siap menerima bentakan, dan pukulan fisik. Sehingga, akan tertanam di benak anak-anak pesan bahwa ”baik aku akan melakukan apapun yang oranng tua perintahkan” , “aku tidak boleh melakukan kesalahan sedikitpun” dan “aku tidak boleh menyimpang dari perintah orang tua”. Nah, pola pikir yang tertanam tersebut menjadikan anak tidak berkembang pemikirannya dalam artian tingkat kreatifitas anak akan statsis.

Berbeda dengan pola asuh yang menjadikan hidup anak adalah hidupnya, sebagai contoh anak bebas menentukan hobi, cita-cita dan kretivitasnya asalkan masih berada dalam koridor pengawasan orang tua, kalaupun sang anak melakukan kesalahan, maka orang tua akan menegurnya secara halus dengan cara pendekatan selayaknya seorang anak dan orang tua sehingga terciptalah keterbukaan diantara mereka dan anak akan berani untuk mencoba hal-hal baru dengan terlebih dahulu mengkomunikasikan dengan orang tua, bukankah menyenangkan jika seorang anak dan orang tua memposisikan dirinya seperti serupa sahabat?

Oleh karena itu, pola asuh yang baik sangat penting dipahami oleh setiap orang tua karena pola asuh yang diterapkan akan selalu dibawa oleh anak dalam kehidupan kedepannya. Berhentilah membanding-bandingkan anak kita dengan anak yang lain, sebab kapasitas setiap anak berbeda-beda dan perlu diingat bahwa , hidup bukanlah melulu soal perbandingan saja akan tetapi hidup adalah tentang kebermaknaan diri kita terhadap orang lain. Melalui anak jadikanlah hidup kita lebih bermakna dengan berhasil menjadikan anak tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang luar biasa dengan kemapuannya sendiri.

Oleh: Eva Safitri, Mahasiswi Jurusan Psikologi UIN Walisongo Semarang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *