Guru kami, Dr. Mohammad Nasih al-Hafidz atau yang sering kami panggil Abah Nasih merupakan pengajar ilmu politik sekaligus praktisi politik. Tercatat bahwa sampai saat ini Abah Nasih masih mengajar di program pascasarjana Universitas Indonesia (UI) dan FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) dan menjadi Kader Partai Amanah Nasional (PAN). Politik yang kebanyakan dipandang orang awam tidak baik, justru malah dipandang Abah Nasih sebagai tempat berdakwah yang paling potensial.

Dalam pandangan Abah Nasih, jalur dakwah yang paling efektif adalah melalui politik. Politik merupakan sarana penentu kebijakan publik. Jika kebijakan-kebijakan politik dibagun atas dasar paradigma al-Qur’an, maka dipastikan bahwa kebijakan-kebijakan tersebut akan mengantarkan kepada kebaikan negara dan warganya. Dengan begitu, makin banyak penguasa yang menerima ajaran Allah, potensi untuk mengimplementasikan ajaran-ajaran Allah menjadi semakin besar.

Di kalangan teman-temannya, Abah Nasih dikenal sebagai sosok yang kritis terhadap kebijakan negara. Saking sering melakukan kritik, akun facebook Abah Nasih pernah diblokir. Alih-alih berhenti untuk mengkritik, Abah Nasih malah membuat akun facebook yang baru dan menyatakan akan melakukan kritik lagi, bahkan akan lebih keras.

“Temans, sudah cukup banyak bukti sederhana yang menunjukan bahwa rezim ini antikritik. Semakin antikritik, maka harus makin kritik dan makin keras. FB saya ini baru, semoga bukan karena itu,” tulis Abah Nasih dalam akun facebooknya yang baru.

Tidak hanya itu, dulu Abah Nasih pernah menjadi komisaris utama di salah satu badan usaha milik negara. Abah Nasih paham bahwa melakukan kritik kepada negara saat ia menjabat sebagai komisaris utama itu akan memberikan risiko yang besar untuknnya. Namun, itu tidak menjadi penghalang Abah Nasih untuk mencegah kemungkaran. Ketika negara melakukan penyelewengan, sudah menjadi tanggung jawab Abah Nasih -selaku warga negara- untuk mengingatkan negaranya.

Abah Nasih menyatakan akan selalu istiqamah menjadi oposisi, walaupun itu solitair. Ketika ditanya, kenapa Abah Nasih memilih sebagai pengkritik pemerintah? Jawaban Abah Nasih cukup simple, “yang dukung sudah banyak, perlu ada pengkritik agar kecenderungan menyeleweng tidak benar-benar terjadi.”

Baca Juga  Abana: "Fokus pada Banyak Titik"

Kritik dapat dipahami sebagai bentuk implementasi untuk mencegah kemungkaran. Realita saat ini, banyak orang yang hanya berani menyampaikan kebaikan, tetapi untuk mencegah kemungkaran masih sangat minim karena risikonya yang besar. Padahal dalam al-Quran, perintah amr makruf selalu disandingkan dengan nahi mungkar. Ini berarti bahwa perintah mengajak kepada kebaikan harus berjalan beriringan dengan mencegah kemungkaran. Pertanyaannya, siapa yang berani mengambil jalur berisiko itu?

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Nabi Muhamaad SAW bersabda,

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing” (HR. Muslim no. 145).

Hadis di atas menunjukkan bahwa memperjuangkan dan menjalankan ajaran Islam memang akan mengalami keterasingan. Ketika itu butuh ada kesabaran ekstra dalam menghadapi keterasingan sebagaimana keadaan Islam di awal-awal. Abah Nasih adalah sosok yang berani mengambil keterasingan tersebut.

Paham akan risiko yang akan didapatkan, selama proses perjuangan, Abah Nasih tidak pernah melakukan kontrak yang mengikat dengan siapapun. Untuk itu, Abah Nasih selalu menekankan kepada disciples agar mandiri secara intelektual dan finansial. “Ilmu al-’ulamaa’, amwalu al-aghniyaa’, siyasatu al-mulk wa al-malaa’,” menjadi kompetensi yang harus digapai oleh disciples Monash Institute.

“Tiap dakwah kebenaran, akan selalu menghadapi Abu Lahab, Ummi Jamil, Abdullah bin Ubay, Musailamah al-Kadzab dan lain-lain. Abu Lahab dan Ummu Jamil simbol dari keluarga sendiri yang memusuhi karena pendukung dakwah atau ingin pihak lain yang menonjol. Abu Jahal simbol pemuka masyarakat yang sangat fanatik dan merasa pengaruhnya akan berkurang dengan adanya orang cerdas lain. Abdullah bin Ubay simbol orang yang mulutnya manis, tetapi sesungguhnya justru merongrong. Musailamah simbol orang yang gila pengaruh dalam masyarakatnya lalu  menggunakan klaim religius. Ini terjadi dimana saja termasuk di kampung-kampung anda. Maka mandirilah secara intelektual dan finansial,” tulis Abah Nasih dalam pesan wa-nya.

Terbentuk di HMI

Semasa kuliah, Abah Nasih memilih aktif di Himpunan Mahasiswa Islam. Pilihan ini merupakan pilihan yang berani. Bagaimana tidak? Bapak Abah Nasih yang pernah menjadi aktivis Anshor dan ibunya yang pernah menjabat sebagai Ketua Fatayat NU tentu mengharapkan Abah Nasih mengikuti organisasi yang berafiliasi NU juga.

Baca Juga  Mengkader Muslimah Siap Nikah: Rekayasa Sosial Kanda Nasih

Abah Nasih selalu memilih segala sesuatu secara obyektif. Terbukti, latar belakang keluarga Abah Nasih tidak menjadi pertimbangan utamanya dalam memilih organisasi pergerakan mahasiswa. Abah Nasih memilih ber-HMI berdasarkan pertimbangan obyektif. HMI dinilai Abah Nasih sebagai organisasi yang dapat melepaskan dia dari sifat fanatisme yang tidak perlu.

HMI merupakan organisasi pergerakan mahasiswa yang independen, tidak berada di bawah ormas-ormas apa pun. Di dalam HMI, kita bisa menemukan mahasiswa muslim dari berbagai latar belakang. Ada NU, Muhammadiyah, Persis, dan yang tidak punya latar belakang keluarga keagamaan. Independensi ini secara jelas termaktub dalam Anggaran Dasar HMI pasal 6 tentang sifat bahwa HMI bersifat independen.

Dalam KBBI, independen dimaknai “yang berdiri sendiri, yang berjiwa bebas, atau tidak terikat dalam pihak lain.” Makna ini dijelaskan lebih lanjut di HMI. Organisasi mahasiswa Islam tertua ini menekankan bahwa watak independen manusia itu condong terhadap kebenaran (hanief). Untuk itu, analisis-analisis secara obyektif diperlukan untuk menghasilkan keputusan yang mendekati kebenaran.

Salah satu implementasi sifat independensi diperlihatkan oleh Abah Nasih ketika Konferensi Cabang (KonferCab) HMI Cabang Semarang. Saat itu, telah memasuki ke tahap pemilihan Formatur HMI Cabang Semarang. Ada dua kandidat yang siap untuk dipilih. Kandidat A berasal dari HMI Korkom Walisongo dan kandidat B berasal dari HMI Korkom Diponegoro.

Melihat dua kandidat tersebut, seharusnya Abah Nasih sebagai Ketua Umum HMI Komisariat Iqbal Korkom Walisongo akan memilih kandidat yang berasal dari korkomnya sendiri. Tapi yang terjadi justru berbeda. Saat mekanisme pemilihan berlanjut ke tahap voting, semua kader HMI Korkom Walisongo yang mendapatkan hak suara memilih kandidat A, kecuali Abah Nasih.

Berdasarkan pengakuan Abah Nasih, ia memilih kandidat dari HMI Korkom Diponegoro berdasarkan penilaian secara obyektif. Semua hal dibandingkannya, baik segi fashion, finansial, intelektual, dan beberapa pertimbangan lainnya. Begitulah, “barang siapa yang menanam, maka ia yang akan memanen”. Abah Nasih harus siap menerima respon negatif dari kader HMI sekorkomnya.

Baca Juga  Monash dan Pendidikan Semi Militer

Salah satu akibat yang didapatkan oleh Abah Nasih adalah ketika HMI Komisariat Iqbal sedang melakukan LPJ. Beberapa orang yang tidak suka dengan keputusan Abah Nasih saat konfercab ikut meramaikan LPJ tersebut. Kabarnya, mereka menjelek-jelakan kinerja Ketua Umum HMI Komisariat Iqbal Abah Nasih.

Tepat sebelum masuk ke penawaran LPJ ditolak dan diterima, sempat terdengar pernyataan bahwa kohati -sebutan bagi kader hmi perempuan- HMI Komiariat Iqbal masuk HMI hanya karena ingin dekat dengan ketuanya. Seketika itu, semua kohati yang ada di forum tersebut merasa tersinggung.

Alhasil, kader HMI yang menerima LPJ Ketua Umum tetap lebih banyak dibanding dengan yang menolak. Diterimanya LPJ Abah Nasih tentu bukan hanya karena muncul pernyataan di atas. Akan tetapi, kinerja-kinerja Abah Nasih yang dicapai selama menjabat sebagai Ketua Umum HMI Komisariat Iqbal tetap menjadi faktor utamanya.

Melalui kisah di atas, Abah Nasih selalu menekankan kepada disciples untuk berani megambil jalur pilihannya sendiri secara objektif, walaupun itu minoritas. Abah Nasih kerap kali mengeluarkan jargon be different and do the best. Sebab menurut Abah Nasih, berani mengambil jalan yang berbeda diperlukan kemampuan dan komitmen yang besar. Sama halnya dengan ikan, jika ia ingin melawan arus saat berenang, maka tenaga ekstra dibutuhkan untuk mencapai tujuanya.

Tidak ada perjuangan yang tidak sulit. Di usia Abah Nasih yang akan memasuki 40 tahun ini, semoga Abah Nasih senantiasa diberikan kekuatan oleh Allah SWT untuk mewujudkan perjuangan-perjuangan yang lebih besar lagi. Terkhusus untuk disciples, mari kita bersama-sama mewujudkan harapan Abah Nasih untuk menjadi manusia yang mandiri, baik secara intele ktual dan finansial.

Oleh: Kodrat Alamsyah, Disciples 2016 Monash Institute, Ketua Umum Badan Pengelola Latihan (BPL) HMI Cabang Semarang

Kodrat Alamsyah
Ketua Umum BPL Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Semarang 2019-2020, Direktur Umum Center for Democracy and Religious Studies (CDRS) Semarang 2018-2020, Ketua Asosiasi Ilmu Falak Mahasiswa Islam (AFMI) 2017-2020, Wasekum Bidang Informasi dan Media PW GPII Jawa Tengah 2017-2021. Mahasiswa Ilmu Falak UIN Walisongo

    Mohammad Nasih dan Pemimpin Visioner

    Previous article

    Pilu Itu Telah Berlalu

    Next article

    You may also like

    Comments

    Ruang Diskusi

    More in Jalan Sunyi