Berjuang untuk diri sendiri adalah hal biasa. Ayam pun bisa. Akan menjadi tidak biasa ketika perjuangan itu diperuntukkan bagi orang lain dan dilakukan secara maksimal, bahkan sampai mati-matian. Mungkin ada banyak orang yang merasa empati melihat kondisi di sekitar lingkungannya yang sangat memprihatinkan, tetapi tidak semua berani mengambil risiko untuk sampai mengadvokasi dan memberi jaminan kehidupan yang lebih baik, meski harus dengan mengorbankan tenaga, pikiran, dan finansial. Ini berbeda dengan Dr. Mohammad Nasih.
Doktor ilmu politik Universitas Indonesia dari kampung yang memiliki ambisi dan mimpi besar untuk memperbaiki negara ini memiliki empati yang sangat tinggi terhadap sesama. Salah satu wujud upaya dari semua itu adalah dengan mengumpulkan pemuda-pemudi kampung yang memiliki potensi tetapi tidak mampu secara ekonomi untuk dia bina secara intensif. Bagi kebanyakan orang, hal itu akan dianggap tabu dan dirasa mengandung unsur kepentingan pribadi.
Abah Nasih, panggilan akrab kami kepada beliau, benar-benar serius dalam membuat perkaderan tersebut sejak tahun 2011 sampai sekarang dan akan berlanjut hingga kiamat tiba, in syaa’a Allah. Beliau sangat yakin dengan melakukan ini, akan jauh lebih mudah untuk mewujudkan cita-cita besarnya. Kekuatan kelompok yang terorganisir dan memiliki visi yang sama, dapat meringankan seseorang untuk merealisasikan keinginannya. Keberanian beliau untuk mengambil resiko besar itulah yang jarang dimiliki oleh kebanyakan orang. Meski harus bermodal besar, beliau tidak pernah takut atau putus asa atau pun sekedar mengeluh dalam menjalankan semua itu. Pengorbanan yang dia lakukan sungguh tidak tanggung-tanggung.
Beasiswa perkuliahan yang diperuntukkan bagi mereka yang tidak mampu tetapi berprestasi, membuat banyak orang memiliki peluang untuk menjadi kaum akademisi. Seperti saya pada saat itu, termasuk salah satu orang yang beruntung karena mengenal beliau dan keluarganya. Walau berawal dari tujuan yang berbeda, yaitu mengajari ngaji anaknya (pembantu/baby sitter), justru beliau memerintahkan saya untuk mengikuti tes beasiswa yang digelar oleh Yayasan Bina Insani (YBI) (waktu itu). Sebab, Abah ingin mengetahui seberapa besar kemampuan saya, dan ternyata di luar dugaan saya, Alhamdulillaah saya masuk dalam kategori 20 peserta yang lolos seleksi. Sesuatu yang tidak saya duga dan tidak pernah terbayang dalam benak saya.
Pada akhirnya saya bisa kuliah sampai lulus magister. Sesuatu yang tidak pernah terbayang dalam benak saya. Selain itu, Abah Nasih juga menyediakan tempat tinggal yang dia sebut sebagai rumah perkaderan untuk kami meskipun beliau sendiri belum memiliki rumah pribadi, dan itu dia berikan secara cuma-cuma. Padahal biaya kontrak rumah tidaklah sedikit dan setiap tahun selalu mengalami peningkatan. Pada saat itu ada 6 rumah yang beliau kontrak untuk asrama para santri. Bahkan Abah juga melengkapi rumah tersebut dengan internet supaya kami bisa mencari informasi apapun secara cepat. Ditambah lagi kami juga diberi laptop untuk dapat mengakses data-data dan berlatih menuangkan gagasan melalui tulisan.
Anehnya lagi, semua itu beliau usahakan sendiri dan tidak pernah membebankan orang lain atau meminta sepeserpun bantuan kepada siapapun, bahkan dari pemerintah dengan penyodoran proposal pun tidak pernah sama sekali. Sungguh luar biasa. Belum lagi ditambah biaya bulanan dan semesteran yang harus dia bayarkan untuk menanggung sebanyak anak yang dia bina. Tentang ini, saya tahu betul seberapa banyak uang yang dia keluarkan untuk semua itu. Terkadang pula sesekali waktu beliau mengajak kami menikmati makanan bersama-sama dengan tujuan perbaikan gizi. Begitu besar cintanya kepada kami meski berwatak keras tetapi hati tetap lembut. Kesungguh-sungguhan yang semakin nampak jelas dan nyata itu membuat banyak orang terheran-heran dan bertanya-tanya.
Menunjukkan jalan yang cepat dan tepat menjadi prioritas Abah dalam melakukan kaderisasi ini. Tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga harus mempunyai skill dan jaringan yang luas. Karena itu, Abah selalu mendorong kami untuk senantiasa mengikuti kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan kemampuan kami, sehingga mengalami lompatan secara signfikan. Bahkan beliau sering meminta kami untuk memiliki keunggulan yang melejit dan melebihinya. Abah juga selalu memotivasi kami untuk sesegera mungkin gabung dalam pelatihan-pelatihan organisasi, terutama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Bukti dorongan tersebut tidak hanya sekedar omongan, tetapi juga memberi jaminan bantuan finansial. Lagi-lagi beliau harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit hanya untuk memberangkatkan kami menuju forum-forum nasional.
Supaya bisa mengikuti kegiatan di luar secara maksimal, Abah memberi fasilitas berupa motor. Sungguh aneh tapi nyata. Dimana-mana, tidak ada guru yang mau membelikan motor untuk murid atau santrinya, tetapi yang ada justru sebaliknya. Seperti layaknya di beberapa pesantren, para santri memberikan sesuatu kepada kiainya. Namun, beda dengan Abah Nasih. Beliau dengan senang hati memberikan fasilitas yang menunjang kemampuan para santrinya. Salah satu tujuan fasilitas kendaaraan dari Abah adalah sebagai sarana para santrinya yang aktif di HMI untuk latihan mengelola forum kaderisasi dan bisa bertemu dengan banyak orang dengan mobilitas tinggi.
Perkaderan semacam ini ternyata tidak berhenti hanya pada kaum muda saja, tetapi juga berlanjut pada dunia anak-anak. Abah menyadari bahwa perubahan dalam dunia pendidikan yang mengarah pada peradaban yang unggul harus diwujudkan dengan mendirikan sekolah yang berbeda pada umumnya. Maka beliau mendirikan sekolah mulai dari tingkat rendah, yaitu pendidikan anak usia dini dengan nama PG-TK Islam Mellatena. Harapannya, melalui sekolah tersebut, akan ada banyak anak yang memiliki pola pikir hebat dan mantap. Berlogika baik dan lurus sehingga tumbuh menjadi generasi yang unggul. Lagi-lagi, beliau harus menambah kontrak rumah karena belum memiliki gedung milik sendiri. Tetapi karena semangat beliau yang benar-benar ingin mewujudkan perubahan, uang keluar banyak pun tidak jadi masalah. Beliau juga tidak mengkomersialkan pendidikan dengan menarif biaya tinggi. Bahkan dia membebaskan biaya sekolah dengan meminta mereka untuk berlatih infaq sebesar dua ribu rupiah saja perhari.
Merasa belum puas dengan capaian yang ada, Abah membuat lembaga pendidikan setingkat menengah yang didesain berbasis alam dengan program uggulan menghafalkan al-Qur’an. Menjadikan sekolah ini sebagai pusat Qur’anic Habit. Melahirkan generasi qur’ani yang mampu memahami dan menghafal serta memperjuangkan isi al-Qur’an. Abah juga memberikan beasiswa full bagi mereka yang tergolong keluarga miskin. Lagi-lagi Abah membuktikan bahwa dirinya benar-benar serius dalam memperjuangkan dan membina anak orang lain. Semua ini dilakukan demi mewujudkan cita-cita mulianya dalam membangun umat dan bangsa.
Oleh: Zahrotur Rochmah, M.Ag., Disciple 2011 Monash Institute, Guru Utama PAUD Islam Mellatena.







