Saben malem jum’at, ahli kubur muleh nang omah
Kanggo njaluk dungo, wacan al-Qur’an najan sak kalimat
Lamun ora dikirimi, banjur balik mbrebes mili
Bali nang kuburan, mangku tangan tetangisanKebacut temenan ngger, anak turunku
Kowe ora wirang podo mangan tinggalanku
Lamun aku biso bali nang alam ndunyo
Bakal tak ringkesi dunyoku sing isih ono
Bagi generasi 90-an, syi’ir lagu di atas bukanlah sesuatu yang asing di telinga. Bahkan beberapa diantara kita pasti bisa melantunkannya dengan begitu lancer. Sebab, seringkali lagu tersebut menjadi sebuah barang mewah yang sering di putar di berbagai mushola saat sore hari. Mendekati waktu Magrib, lagu tersebut akan menjadi sebuah penanda untuk segera bersiap dan bergegas melaksanakan ibadah sholat Magrib.
Bagi penulis pribadi, lagu tersebut tak ubahnya sebagai sebuah peluit panjang untuk segera pulang. Ya, karena biasanya, selepas sekolah sore (red: Madrasah Diniyah), penulis sering menghabiskan waktu untuk bermain sepakbola di lapangan desa. Dan lagu “Saben Malam Jum’at” ini, juga bersama syi’iran lainnya menjadi sebuat pertanda untuk segera mengakhiri permainan sepakbola dan bergegas untuk segera pulang.
Suasana seperti itulah yang saat ini begitu mahal. Kini segalanya sudah terpinggirkan oleh perkembangan zaman. Suara toa dari pengeras suara di Masjid tak ubahnya seperti lantunan instrument yang ketinggalan zaman. Maka tidak mengherankan, jika saat ini lantunan syi’ir-syi’ir seperti “Saben Malam Jum’at” akan sangat jarang, bahkan tidak akan pernah kita temui lagi menemani sore hari.
Padahal, syi’ir-syi’ir yang biasa diputar di mushola-mushola setiap petang memiliki kandungan makna yang mendalam. Dalam tulisan ini, akan penulis paparkan sedikit perihal kandungan makna yang terdapat dalam syi’ir “Saben Malam Jum’at”. Pada penggalan kalimat pertama, terdapat syair; “Saben malem jum’at, ahli kubur muleh nang omah. Kanggo njaluk dungo, wacan al-Qur’an najan sak kalimat”(Setiap malam Jum’at, ahli kubur akan pulang ke rumah untuk meminta do’a, meskipun itu hanya bacaan al-Qur’an satu kalimat).
Dalam kitab Majmu’ al-Fatawa, Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa Sesungguhnya pahala ibadah secara fisik seperti salat, membaca al-Quran dan lainnya, bisa sampai kepada mayit sebagaimana ibadah yang bersifat harta secara Ijma’. Lebih lanjut, Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa bacaan keluarga mayit bisa sampai, baik tasbihnya, takbirnya dan semua dzikirnya, karena Allah Ta’ala. Apabila mereka menghadiahkan kepada mayit, maka akan sampai kepadanya” (Majmu’ al-Fatawa XXIV /165).
Pada bait kedua, “Lamun ora dikirimi, banjur balik mbrebes mili. Bali nang kuburan, mangku tangan tetangisan”. (Namun jika tidak dikirimi (do’a dan bacaan al-Qur’an), kemudian akan kembali ke kubur dengan berlinangan air mata. Kembali ke kuburan dan mengangkat tangan menangis sesengukan). Pada bait kedua ini dijelaskan keadaan seorang ahli kubur yang pulang ke rumah. Namun apa daya, dia tidak mendapati keluarganya membacakan do’a dan al-Qur’an untuknya. Maka dengan sangat kecewa, ahli kubur tersebut kembali ke makamnya untuk kemudian menangis sesngukan.
“Kebacut temenan ngger, anak turunku. Kowe ora wirang podo mangan tinggalanku”. (Sungguh sangat disayangkan sekali, wahai anak keturunanku. Kalian tidak memiliki malu karena makan dari harta peninggalanku). Penggalan sya’ir ini kembali menegaskan betapa kecewanya si ahli kubur terhadap anak dan keturunannya. Dimana mereka menikmati apa yang telah ditinggalkan oleh si ahli kubur. Namun setelah meninggalnya si ahli kubur, tidak ada do’a dan bacaan al-Qur’an yang dihadiahkan untuknya. Justr anak dan keturunannya melupakan dirinya tanpa mempunyai rasa malu.
Terakhir terdapat lirik “Lamun aku biso bali nang alam ndunyo. Bakal tak ringkesi dunyoku sing isih ono”. (Jika aku bisa kembali lagi kea lam dunia, aku akan membereskan duniaku yang masih tersisa). Bait ini merupakan penegasan kembali dari bait sebelumnya. Dimana pada bait ini, puncak dari kesedihan si ahli kubur adalah tentang penyesalannya di dunia ketika masih hidup. Dalam sisa penyesalannya tersebut, jika diberi kesempatan, dia akan “membereskan” segala harta peninggalannya semasa hidup agar tidak menjadikannya kecewa ketika sudah meninggal.
Dalam hal ini, penulis memandang bahwa maksud dari “membereskan harta” semasa hidup memiliki dua artian. Pertama, harta dalam makna harfiah. Dimana harta disini meliputi kekayaan dan asset-aset lainnya. Dan yang kedua memiliki arti anak dan keturunan. Dimana si ahli kubur ini ingin mendidik anak dan keturunannya menjadi pribadi yang sholih dan Muslih. Sehingga nanti ketika dirinya sudah meninggal, dia akan memiliki anak dan keturunan yang senantiasa mendo’akannya.
Semoga kelak ketika kita sudah meninggal, kita akan mendapati anak dan keturunan kita yang senantiasa mendo’akan selalu. Aaamminnnn.







