Jeda

Dalamnya lautan memberikan sedikit ruang padaku untuk sejenak menarik nafas. Mengistirahatkan perasaan dan pikiran yang selama hampir empat purnama ini kupaksa bekerja keras. Memberikan kesempatan pada hatiku untuk beristirahat dari sesaknya rasa yang tak pernah sampai pada tuannya. Mungkin kali ini aku harus berterima kasih pada bentangan jarak yang berbaik hati memberikan banyak pembelajaran. Bahwa dalam ‘merasa’ ada jeda yang tidak perlu dipaksa, ada lega yang masih samar wujudnya dan tentunya ada rasa yang tiap hari selalu tumbuh seperti anggrek di pekarangan rumah. Terus tumbuh dan harum mewangi.

Kukira, aku akan merasakan rindu seperti yang mereka rasakan saat tak menjumpai pertemuan. Nyatanya aku malah bertarung dengan ketakutan. Membiarkan malamku hanya berteman harapan yang bisa kuratapi dengan menggigit ujung jari. Adalah aku yang semenjak pertemuan itu mulai mengharapkan sesuatu yang lebih pada sosok di depan sana. Tawanya tidak semanis gadis kecil yang mengucapkan “terima kasih” saat diberi gulali impiannya. Tapi bisa kupastikan tawa itu tidak dibuat-buat. Tawa yang sama di pagi yang berbeda.

Apa yang bisa memenangkan hatimu selain bisikan lembut di sepertiga malam yang aku adukan pada Tuhan? Meski aku juga tidak bisa memastikan bisa melembutkan hati yang memang tidak pernah luluh sepanjang aku mengenal sejarahnya. Lalu aku harus bagaimana? Mengabaikan ketakutan yang terus berjalan sejajar denganku adalah kebodohan. Tetapi terus maju tanpa memiliki peta juga akan membuat aku buta, tak akan mendapat arah dan rambu.

Kata seseorang yang selalu membakar semangat dalam jiwaku, apa yang aku rasakan saat ini adalah hal biasa namun bisa membuat seolah aku adalah tawanan perang yang tidak dapat melakukan apapun kecuali pasrah. Membiarkan udara menyapa pagi dengan atau tanpa Mentari. Aku memang tidak akan mati tanpa kehadiranmu. Namun aku menghirup udara yang jauh lebih segar, meringankan beban dan mengangkat garis bulan sabit di wajah saat bersamamu.

Bacaan Lainnya

Memastikan apakah kamu baik-baik saja bukan tugasku. Aku hanya perlu mengangkat tangan dan berharap kau baik-baik saja. Sebab, semakin banyak titik dua tanda kutip buka hanya akan membuat aku terjebak dalam dialog yang menuntut jawaban dan menepis kemungkinan untuk diabaikan. Bukankah dengan begitu kau akan menyadari dinding tebal yang selama ini aku pertebal? Aku yakin kau tidak akan menanyakan atau membahasnya. Namun, apakah yang lebih jelas selain sikap yang berubah ketika sesuatu yang telah lama disembunyikan terbagikan secara tidak sengaja? Mungkin akan lebih baik jika aku yang mengatakannya. Lalu kenapa tidak? Karena egoku masih belum bisa menerima kenyataan itu. Karena lingkaran di mana aku ada tidak pernah menginginkan itu.

Percaya atau tidak, aku diam-diam suka meminta agar apa yang pernah aku dengar adalah kesalahan yang sengaja Tuhan sisipkan untukku. Berharap agar peran yang esok aku mainkan bisa mengubah itu semua.
Sorot mata itu tak pernah terasa dalam saat kupandang. Hanya sorot mata kecil yang Nampak berbianar dengan tawa yang menjadi ciri khasnya. Tawa yang sama untuk setiap pasang mata yang memandangnya. Ya, tentu bukan aku saja. Memangnya siapa aku? Bukankah sejauh ini aku hanya ‘teman’ becanda yang selalu menemanimu tertawa? Tidak pernah tahu apakah engkau menyimpan duka atau tidak. Tidak pernah tahu apakah engkau benar-benar tertawa atau sekadar bercanda. Ya, itulah aku. Tidak tahu banyak tentangmu. Namun berani banyak berharap darimu.

Lihat lampu lalu lintas diujung sama. Mereka selalu bersama, selalu dekat dam saling melengkapi. Begitu mungkin Tuhan mengggambarkan aku dan kamu. Seringkai berdampingan kayaknya lampu merah kuning dan hijau. Namun tidak pernah bisa tampil bersama di hadapan semua orang. Merasa saling memiliki, namun semesta tak pernah memberikan ruang.

Sampai jumpa diwaktu yang sudah ditentukan oleh-Nya namun belum bisa aku pasikan. Semoga di waktu itu aku baik.

Kota Atlas, Mei 2021

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *