Pengasuh Pondok Pesantren & Sekolah Alam Planet NUFO Mlagen Rembang; Pengajar di Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ.

 

Kira-kira sepekan setelah Idul Fithri 1442H, pagi-pagi bell rumah kami berbunyi. Tak lama kemudian, Bu De Is menyampaikan bahwa ada Bang Anwar mahasantri Monash Institute dan seorang perempuan di depan. Memang tidak ada janjian sebelumnya, sehingga saya tak memiliki dugaan sama sekali tentang kedatangannya. Saya langsung keluar hanya dengan kaos oblong. Dan saya lihat Anwar dan Ulfah yang juga mahasantri MI duduk di kursi tamu yang sejak pandemi covid di keluarkan dari ruang tamu dalam. Saya langsung memiliki dugaan kuat. Apalagi Anwar sudah lulus S2 Fakultas Hukum Unnes.

 

Ternyata dugaan saya benar. Keduanya meminta doa restu untuk menikah. Dan saya diminta untuk memberikan nasehat dalam resepsi pernikahan mereka. Saya tidak pernah menolak santri yang meminta saya memberi nasehat pernikahan, apalagi jika datang langsung, jika waktunya cocok, walaupun tempat acara jauh dari Semarang atau Rembang. Bahkan beberapa, untuk sampai lokasi, kami harus melewati jalan yang membahayakan. Iya, ini serius. Bukan mendramatisasi.

 

Saya bertanya kepada Anwar, kenapa memilih Ulfah. Jawabnya membuat saya senang bukan kepalang: “Karena dia mahasantriwati Monash Institute”. Saya langsung serang balik dengan pertanyaan: “Memangnya apa menariknya mahasantri Monash Institute?” Dia menjawab dengan kerangka berpikir kami: “Agar tidak perlu menyamakan visi lagi, Bah. Kan sudah sama-sama tahu, ke depan kita harus melakukan apa.”, jawabnya membuat Ulfah yang duduk terhalang meja tersenyum simpul.

Baca Juga  Sebelum Menghafal Al-Qur'an, Pahami Makna Literal

 

Menikah memang tak sulit-sulit amat. Tapi sesungguhnya juga tak mudah-mudah amat. Menjaga hubungan kedua pribadi yang pasti berbeda ini yang tidak mudah. Sebab, ada banyak hal yang sebelumnya cukup dengan “aku” kemudian harus mengatasnamakan “kita”. Namun, di situlah juga sesungguhnya ada sesuatu yang besar yang tidak bisa dihasilkan dengan kesamaan. Kesamaan hanya memungkinkan untuk melakukan kerjasama. Namun, perbedaan memungkinkan untuk melakukan sinergi. Kerjasama ibarat 1+1=2. Namun, dalam sinergi 1+1 bisa sama dengan 1000.

 

Untuk membangun sinergi itu, diperlukan suasana keluarga surgawi. Al-Qur’an memberikan gambaran yang cukup detil tentang keluarga surga, dengan dasar komunikasi yang sangat efektif: “Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa, akan tetapi mereka mendengar ucapan salam.” (al-Waqi’ah: 26).

 

Kepada mereka, anak-anak ideologis itulah, saya memiliki harapan, dan dalam kesempatan ma’idhah pernikahan saya menyampaikan:

 

Pertama, mereka benar-benar harus melakukan KB alias keluarga berencana. Bukan dua anak cukup, tetapi justru sebaliknya dua anak tidak cukup. SDM yang berkualitas baik, bisa diharapkan menghasilkan generasi baru yang lebih baik. Dan generasi yang lebih baik harus berjumlah banyak. Sebaliknya, yang tidak mampu bertanggung jawab atas anak-anak, mestinya dicabut haknya untuk memiliki anak.

 

Kedua, memelihara hubungan, bukan hanya berdasar cinta tetapi konvergensi visi. Sebab, cinta itu soal rasa. Ia bisa hilang kapan saja. Namun, visi baik baik harus diwujudkan dengan missi yang hanya akan besar jika ada sinergi. Tidak usah khawatir dengan hubungan tanpa cinta (mawaddah). Sebab, Allah memberikan rasa lain yang bernama rahmah atau kasih sayang. Rahmah ini lebih dari cukup untuk menjalani kehidupan bersama untuk mewujudkan rencana besar berdua di awal pernikahan.

Baca Juga  Simbol-simbol Penolak dan Penghalang Kebenaran

 

Ketiga, membangun hubungan yang mampu menghargai segenap potensi dua belah pihak. Al-Qur’an menegaskan posisi lelaki dalam rumah tangga sebagai pemimpin, dengan tanggung jawab penuh dalam hal nafkah kepada keluarga. Sedangkan perempuan, baik dalam al-Qur’an maupun di dalam hadits Nabi Muhammad, bertanggung jawab dalam hal pengurusan anak-anak. Bahkan disebut juga sebagai madrasah yang pertama, bisa juga diartikan yang utama. Dalam konteks inilah, cara berpikir dalam konteks materi dan immateri mesti diseimbangkan. Sebab, keduanya, dalam membangun keluarga yang berkualitas sangat diperlukan. Data menunjukkan bahwa di antara faktor penyebab perceraian adalah masalah ekonomi. Karena itu, lelaki harus bertanggung jawab menjalankan tugas agar keluarga tidak mengalami masalah ekonomi. Masalah ekonomi bisa berimplikasi besar kepada kualitas generasi karena sejak dalam kandungan sampai masa tumbuh kembang, anak memerlukan gizi yang cukup. Gizi yang cukup sangat ditentukan oleh kemapanan ekonomi. Ibu yang memiliki waktu berkualitas untuk mengasuh anak, tentu saja lebih bisa diharapkan menghasilkan generasi yang berkualitas.

 

Keempat, mensupport perjuangan ummat. Kalau hidup hanya untuk pasangan dan/atau anak, banyak jenis hewan pun telah melakukannya. Makin banyak variabel yang membedakan dengan hewan, maka manusia akan menjadi lebih baik. Pasangan yang baik adalah yang memberikan dukungan untuk melakukan aktivitas-aktivitas di luar keluarga. Peran-peran sosial, dalam konteks ini, menjadi indikator kesuksesan sebuah keluarga. Peran sosial meniscayakan sikap mementingkan orang lain, kedermawanan, dan lain-lain yang semacamnya yang membutuhkan pengertian tingkat tinggi dari pasangan. Jika tidak ada kesepahaman dalam hal ini, maka bisa terjadi konflik yang membahayakan keutuhan keluarga.

Baca Juga  Salah Paham Sebaik-baik Bekal Adalah Taqwa

 

Kemampuan menjalankan empat hal di atas, sebuah keluarga akan bisa menjadi keluarga dengan kriteria surgawi. Dan kelurga yang demikian tentu saja adalah keluarga yang berpotensi besar akan berkumpul kembali di surga yang hakiki. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Dr. Mohammad Nasih, M.Si.
Oleh: Dr. Mohammad Nasih, Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ, Pembangun Qur’anic Habits di Rumah Perkaderan MONASH INSTITUTE Semarang dan Sekolah Alam Planet NUFO Pilanggowok Mlagen Rembang.

    Planet Nufo Mengundang Berkurban

    Previous article

    You may also like

    Comments

    Ruang Diskusi