Perasaan yang berkecamuk itu akhirnya terobati, setelah pada tengah malam, saya mendapatkan SMS dari Pak Nasih yang berisi bahwa saya diterima di Monash institute. Perasaan takutpun mengiringi langkah saya untuk kembali ke Semarang untuk bertemu dengan teman-teman yang kualitasnya di atas rata-rata.
Hal itu terbukti. Saya merasa minder dan takut ketika mengikuti kelas pertama kali. Perubahan mental dalam diri saya sepertinya memang belum benar-benar sempurna. Semalaman saya tidak bisa tidur memikirkan masa depan saya di Monash Institute. Hingga pada akhirnya, muncul sebuah keputusan yang, menurut saya, sangat tidak masuk akal.
Waktu itu saya memutuskan ingin kembali ke kampung dan tidak menerima beasiswa yang akan saya dapatkan. Dengan kata lain, saya ingin mengundurkan diri dari program beasiswa tersebut. Saya merasa tidak pantas mendapatkan fasilitas itu. Masih banyak teman-teman di luar yang memang kualitasnya lebih baik dari saya. Namun, sepertinya, keputusan saya itu tidak dikehendaki oleh Tuhan.
Ketika hendak berpamitan pulang ke kampung, saya dipengaruhi dan “ditahan” oleh Direktur Monash Institute Ustadz Muhammad Abu Nadlir dan mentor-mentor lain; Ustadz Misbahul Ulum, Ustadz Mansur Syarifudin, Ustadz Faedurrahman, dan Ustadz Attabik Imam Zuhdi.
Saya diingatkan bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan emas seperti yang saya dapatkan, dan belum tentu pula kesempatan semacam itu datang untuk kedua kalinya kepada saya. Dengan berat hati, waktu itu, saya “terpaksa” bertahan di MIS dan saya niatkan untuk benar-benar belajar, menempa diri untuk meningkatkan kualitas diri demi masa depan yang lebih indah. Saya mesti berterima kasih banyak kepada para mentor atas motivasi yang diberikan.
Ada satu kejadian yang mengagetkan saya, yang belakangan terasa (sangat) lucu. Di akhir kegalauan atas keberadaan saya di Monash Institute yang baru terselesaikan pagi itu, entah disebabkan oleh apa, sebagian besar teman-teman saya justru pamit pulang. Alasan yang disampaikan oleh mereka pada saat itu adalah mengambil ijazah di sekolah sebagai syarat mendaftar di IAIN Walisongo Semarang.
Dari total 20 santri, yang tersisa hanya 7 orang; 5 laki-laki dan 2 perempuan. Satu disciple perempuan lagi ada di rumah Pak Nasih (Hayyoooo, tebak siapa dia? He3). Saya sebut mengagetkan, karena yang tadinya berencana pulang pada hari itu adalah saya, tetapi yang pulang justru teman-teman saya.
Selidik punya selidik, alasan sebenarnya mereka pulang ternyata terkait dengan isu NII (Negara Islam Indonesia), bukan karena mengambil ijazah sebagaimana yang disampaikan kepada mentor pada saat itu. Kepastian ini saya dapatkan saat ada beberapa teman mengirim pesan SMS ke saya, yang isi pesannya memberitahu bahwa beasiswa YBI ini terkait NII. Sontak saja, itu membuat saya tambah kaget.
Kekagetan ini membuat saya terlihat panik dan membuat para mentor dan teman-teman menganggap saya takut, bahkan ada yang bilang “menangis”. Padahal, di sinilah kepekaan saya terhadap realitas sosial mulai tumbuh. Di saat yang lain bersikap santai, karena tidak tahu menahu atau tidak mau tahu, saya menunjukkan sikap yang berbeda.

Saya masih ingat, seorang teman laki-laki dari Rembang, sebut saja NK, tiba-tiba menelepon saya dan bertanya: “Kamu masih di situ, Broo? Kamu belum tahu kalau di situ NII?” Juga SMS seorang teman perempuan dari Banjarnegara menjelaskan tentang NII: “NII itu menghalalkan segala cara, lhoo, bahkan menghalakan darah. Mereka memperbolehkan dan menyuruh untuk membohongi orang tua, demi meng-goal-kan tujuan.” Demikian di antara pesan yang masuk, dan masih banyak lagi.
Pesan-pesan itu saya sampaikan kepada para mentor dan di situlah baru diketahui bahwa alasan teman-teman pulang itu bukan karena mengambil ijazah, tapi karena isu NII. Mendapati kabar itu, para mentor juga tampak panik. Ada seorang mentor berkata: “Kita ini mau membantu, kok malah dituduh mau membunuh, menghalalkan darah, katanya. Sontoloyo memang anak-anak ini.” Suasana panik bercampur sendau gurau pun tak terhindarkan. Untuk menghibur diri, karena kecewa dianggap NII. Mau dibantu, kok, malah bergaining. Inilah yang menyebabkan muncul istilah: “Bantulah kami untuk membantu anda”.
Setelah musyawarah, salah seorang mentor menelepon Pak Nasih yang pada saat kejadian berada di Jakarta, melaporkan soal kondisi terkini perihal kejadian tersebut. Mendapat laporan tersebut, di tengah kepanikan yang melanda, Pak Nasih memberikan jawaban yang menenangkan: “Biarkan saja dulu. Mereka, kan, orang kampung. Jadi biasa saja. Nanti juga akan kembali kalau sudah sadar dan paham.” Jawaban itu lantas membuat para mentor tenang, tetapi dengan tetap berupaya menghubungi satu persatu disciples yang pulang untuk dijelaskan yang sebenarnya.
Kepulangan teman-teman saya itu nampaknya membawa berkah kami yang tertinggal, karena malam harinya saya dan teman-teman yang masih bertahan di ajak jalan-jalan malam mengelilingi jalanan Ngaliyan. Kami ditraktir makan dan minum oleh para mentor di angkringan pinggir jalan sambil ngobrol ke sana ke mari. Itulah pengalaman pertama makan nasi kucing di Semarang. Keren, kan, hikmah pragmatisnya? Intinya, positif thinking terus saja. Ahay.
Belakangan akhirnya diketahui, ada kesalahpahaman yang memang disebabkan oleh ketidakmampuan menangkap pesan secara cerdas. Ada tulisan “Posko Pengaduan NII” di depan salah satu sekretariat organisasi kemahasiswaan, yang memang dijadikan sebagai salah satu tempat tes masuk Beasiswa YBI. *Kampungan*. He. Lucu, kan?
Di samping karena mungkin ada pihak-pihak yang tidak senang adanya perubahan dan perbaikan yang tengah Monash Institute gaungkan. Keberadaannya dianggap mengancam kepentingan dan eksistensi mereka. Eaaa. Tapi hikmahnya positif atas ini sangat banyak, salah satunya, setelah Monash Institute berdiri kokoh, banyak muncul institute-institute, foundation, dan berdiri asrama-asrama dan pondok yang menawarkan pembinaan bagi mahasiswa. Alhamdulillah.
Ini kisah versiku. Kalau kau tidak terima, tulis saja kisah versimu! Haha.
Ditulis pada 16 Desember 2012. Ketika itu, semua disciples menulis tentang pengalaman dan kesan masing-masing selama satu tahun.
Versi lengkap: Menjadi Kerang Mutiara







