Monash institute (MI) merupakan lembaga nirlaba yang fokus mengkader pemuda-pemudi potensial untuk dibina menjadi pemimpin berkarakter qur’ani. Dengan cara memberikan beasiswa bagi lulusan SMA/sederajat untuk kuliah di perguruan tinggi, Dr. Mohammad Nasih, pengasuh MI berharap bisa terus mengadvokasi mereka yang awalnya tidak berani kuliah karena faktor finansial, menjadi berani untuk melanjutkan studi dan kemudian juga berdikari. Karena itu, rata-rata penerima beasiswa ini adalah lulusan SMU dari keluarga kelas ekonomi menengah ke bawah. Sebagai rumah perkaderan, Monash Institute didesain sebagai kawah candradimuka yang diharapkan bisa melahirkan kader unggulan dengan kualitas ilm al-‘ulama’, amwâl al-aghniyâ’, dan siyâsat al-mulûk wa al-mala’.
Untuk mewujudkan tiga kualtias insan kamil itu, Monash Institute melakukan berbagai upaya. Pertama, dalam rangka memenuhi kualitas ilmu al-ulama’, MI mengajarkan berbagai disiplin ilmu pengetahuan secara holistik, baik “umum” maupun “agama”. Dan yang paling penting bagi disciples Monash Institute adalah menghafalkan dan memahmi al-Qur’an. Sebab, al-Qur’an merupakan sumber utama acuan hidup dalam Islam. Oleh sebab itu, setiap disciples wajib setoran satu halaman per hari dan mengikuti kajian tafsir rutin bersama pengasuh. Selain itu, MI juga mengajarkan bahasa asing; Inggris dan Arab, dengan tujuan menunjang keilmuan para disciples di masa sekarang dan yang akan datang. Bahkan, pada konsepnya mahasantri MI diwajibkan untuk menggunakan bahasa Inggris atau Arab dalam kehidupan sehari-hari, meski pada praktiknya tidak semudah yang dibayangkan.
Tidak hanya itu, untuk terus meningkatkan kualitas keilmuan disciples, MI juga mengadakan jurnalistik secara super intensif. Tujuannya adalah untuk membiasakan disciples dalam menyampaikan gagasan dalam bentuk tulisan yang impresif. Target utama program ini adalah bisa menulis di media massa. Tentu saja, pada akhirnya akan mengarah kepada sesuatu yang lebih memacu disciples dalam menumbuhkan budaya intelektual, semisal menulis jurnal, buku, dan lain sebagainya. Bahkan, sebelum kuliah, diciples (terutama mulai angkatan 2012) diharapkan sudah mampu menulis di media massa. Selain untuk memacu dan menumbuhkan budaya intelektual, menulis juga bisa membantu untuk meringankan biaya hidup. Pasalnya, dengan menulis di media cetak, para disciples akan mendapatkan honorarium dari media yang memuat tulisan mereka. Dan lebih dari itu, tulisan yang mencantumkan status sebagai civitas akademika UIN Walisongo akan mendapat insentif dari pihak kampus, karena dianggap ikut mempromosikan UIN Walisongo di masyarakat.
Kedua, untuk memenuhi kualitas amwâl al-aghniyâ’ (manusia yang kaya raya), MI terus mendorong dan mengajarkan enterpreneurship kepada para disciples dan mahasantri. Dalam konteks ini, setiap disciples dituntut untuk mengetahui bakat masing-masing dan diwajibkan memiliki usaha konkrit yang bisa menghasilkan uang. Usaha-usaha disciples pun bermunculan. Ada yang berjualan gorengan dan aneka makanan, pakaian, sandal, peralatan rumah tangga, dan lain sebagainya. Selain usaha pribadi disciples di atas, Monash Institute juga memiliki tempat usaha yang ditujukan seluas-luasnya untuk melatih sekaligus memenuhi kebutuhan disciples. Sebut saja, ada usaha berternak lele, bebek, dan bahkan kambing. Ada PINPUS yang menawarkan jasa foto copy dan sejenisnya. Juga terdapat peralatan menjahit untuk para disciples agar bisa membuat usaha jasa menjahit. Dengan begitu, di semester enam, para mahasantri diharapkan mampu memenuhi kebutuhan hidup sediri, tanpa menggantungkan orang tua.
Ketiga, yang tidak kalah pentingnya adalah kualitas siyasat al-mulûk wa al-mala’. Kualitas ini harus dimiliki setiap disciples MI setelah lulus kuliah. Doktrin ini muncul salah satunya karena latar belakang Dr. Mohammad Nasih adalah ilmuwan dan sekaligus pratikus politik, sehingga memiliki perspektif komprehensif mengenai jalan hidup yang mesti ditempuh untuk mengoptimalkan peran dalam kehidupan. Dan hanya ketika mampu mengendalikan negaralah, peran optimal itu bisa dilakukan.
Dengan kata lain, berpolitik bisa disebut sebagai maqam tertinggi dalam hidup ini. Karena itu, profesi paling mulia yang memiliki potensi pahala terbesar adalah politikus. Sebab, politik memiliki implikasi yang sangat besar dalam konteks bernegara dan dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Untuk menjalani politik dengan baik, seorang politisi mestilah telah memiliki kualitas kualitas ilmu al-ulama’ dan amwalu al-agniya’. Seorang politikus, terutama dalam sistem politik yang sangat liberal, mestilah orang yang cerdas dan kaya raya. Itulah yang kemudian melahirkan slogan “cerdas, kaya raya, dan berkuasa”.
Karena orientasi ini, Monash Institute mewajibkan setiap disciples untuk berorganisasi, baik intra maupun ekstra kampus. Dalam konteks organisasi intra kampus, disciples disarankan untuk mengikuti organisasi yang masih berhubungan dengan peningkatan intelektualitas, semisal KSMW, JHQ, Nafilah, WEC, dan lembaga-lembaga pers kampus. Sedangkan, untuk organisasi ekstra kampus, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menjadi pilihan utama.
Tidak hanya itu, di intern Monash Institute juga dibentuk pemerintahan yang fungsinya adalah mengatur dan mengurusi segala yang dibutuhkan disciples, baik dalam proses pendidikan, ekonomi, maupun sosial. Dipilihlah presiden dan wakil presiden, perdana menteri, para menteri, anggota parlemen, gubernur, dan sebagainya untuk mengambil peran tersebut. Dengan demikian, diharapkan para disciples akan terbiasa dengan berpolitik praktis dengan bekal idealisme yang dimiliki.
Ketiga kualitas di atas merupakan bentuk penyempurnaan Dr. Mohammad Nasih terhadap konsep kualitas insan kamil yang digagas oleh Syekh Abdul Qadir al-Jilani, yaitu ilmu al-ulama’, hikmatu al-hukama’, dan siyasatu al-mulk dengan menambahkan amwalu al-aghniya’, terinspirasi oleh konsep “kaum bazari” Ali Syariati. Untuk mewujudkan semua itu tentu tidak mudah. Oleh sebab itu, perlu upaya keras dari setiap individu dalam membangun jamaah, sehingga akan tercipta komunitas santri canggih yang mandiri secara keilmuan dan aplikasi kehidupan.
Untuk mengetahui kualitas dan sekaligus menguji kesiapan menempuh hidup pasca lulus S1, maka pada semester enam disciples dituntut untuk bisa mandiri, terutama mandiri secara intelektual dan finansial. Dalam konteks ini, kualitas ilm al-‘ulamâ’ dan amwâl al-aghniyâ’ disciples diuji. Sedangkan, kualitas siyasatu al-mulk wa al-mala’ akan terpenuhi belakangan seiring dengan kemampuan kepemimpinan yang diasah dan kualitas ini menempati derajat tertinggi.







