Tatap Muka (Bagian Pertama)

Sedikit aku menyalahkan waktu atas kejadian itu, namun banyak pula aku bersyukur karena bertemu denganmu

“Bener, kamu ngak papa?” tanya Vian memastikan.

Mendengar itu dengan cepat aku mengangguk. Mana mungkin aku bilang kalau tangan kananku sakit karena terkilir. Enggak! aku gak boleh lemah dihadapan orang yang kusuka.

“Tadi gimana kok bisa kamu jatuh gitu, apa karena ada Vian jadi kamu gak fokus jalan?” giliran Devi yang bertanya, bahkan terdengar seperti menggodaku

Bacaan Lainnya

KKN sudah berlalu dan satu posko tahu bahwa aku menaruh hati dan menyukai Alvian Dirgantara, pria 21 tahun yang kini duduk dihadapanku. Aku sendiri juga tidak mengetahui pasti mengapa aku bisa menyukai Vian.

Oh iya kenalin aku Difa Sabila Khaerani, biasa dipanggil Difa. Umurku 20 tahun, masih muda kan? Akan aku ceritakan sedikit tentang diriku, tinggi badanku tidak lebih dari 158 cm sedikit berisi berkulit kuning langsat serta dipadukan dengan pipiku yang cubby membuat setiap orang merasa gemas dan ingin menyubit pipiku. Emang ya punya wajah imut itu menyenangkan.

Kembali ke topik Vian.

Sebenarnya niat awal dulu aku hanya ingin menggoda Vian, karena Vian adalah pria tampan rupawan alias ganteng. Dan tanpa sadar akupun terpesona dengan segala tingkah polosnya saat kugoda.

Menggodaku ini bukan yang jelek-jelek ya, seringkali aku memanggil Vian dengan sebutan ‘Vianku’. Sebut saja itu adalah panggilan kesayanganku hehe. Dan kalian tahu Vian sedikitpun tidak pernah marah, sehingga aku semakin gencar untuk menggodanya dengan panggilan itu.

Aku kira 45 hari bersama akan meluluhkan perasaan dan pertahanan Vian. Ternyata tidak, sedih memang karena akulah yang berharap. Kenyataan itu aku ketahui saat kami bermain trutd or dare di malam terakhir KKN dan sialnya Vian lah yang mendapat jatah trutd. Sontak semua orang bertanya bagaimana perasaannya terhadapku.

“Aku gak akan mudah menyukai gadis dalam jangka waktu singkat, minimal satu tahun lah baru aku mulai suka” ucapnya dengan mimik muka yang sulit diartikan. Jelas membuatku terkejut bukan main, jadi selama 45 hariku gencar menggodanya sia-sia dong. Oh ya ampun!

Lantas setelah ini aku harus menunggu satu tahun lagi? Satu tahun kan lama, ya ampun Vian. Iya bakal aku tunggu, tapi kalau Vian duluan punya pacar dan akupun sama dekat dengan pria lain bagaimana? Kan aku yang sedih.

Etss tunggu dulu bukan Difa namanya kalau sudah menyerah sebelum berjuang. Aku akan berjuang demi perasaanku ini, serta kusalurkan energi-energi positif kepada Vian, agar dia juga merasakan betapa aku menyukai dia. Bahkan hingga sekarang ini akupun masih tetap semangat menebarkan pesona kepada Vian.

Sebuah tangan melambai-lambai didepan wajah sukses membuyarkan lamunanku.

“Heh Difa cerita dong, kok malah bengong?” cerocos Syifa tak sabaran.

Flasback on

Saat itu aku buru-buru menaiki anak tangga, dengan nafas yang enggap-engapan seperti dikejar setan akhirnya akupun sampai dilantai dua. Karena aku ngak sabaran ingin bertemu dan memandang wajah ganteng Vian. Kulihat sekeliling lantai dua, senyumku mengembang saat aku temuan sosok yang selama ini kurindukan. Dengan perasaan riang akupun melangkah menuju rombongan jilbab merah maroon itu. Aku dan teman-teman memang sepakat untuk menggenakan jilbab merah maroon karena setelah ini kita akan foto studio. Biar gaya gitu, ya kan?

Sebelum melangkah samar-samar aku mendengar lagu kesukaanku diputar. Seketika aku berhenti dan mendengar lagu ‘Cheer up’ dari aktris girl band Korea, masak iya cafe segede ini muter lagunya Twice, kan gak lucu. Ah aku kok jadi halu semacam mendapat surprise ulang tahun gitu deh. Kemudian kurasakan ada getaran dari dalam tas kecilku. Dua detik kemudian aku tersadar ternyata handponeku bergetar, oalah ternyata handpone ku yang bunyi.

Dari layar pipih berwarna gold ini kulihat nama Ayun memanggil. Ayun adalah teman satu kost denganku. Dengan cepat aku menggeser keatas tombol warna hijau dan ku tempelkan pada telinga kananku.

“Waalaikumsalam, apa? Tanyaku to the point

(…..)

“Lagi di Mcd, kenapa?” cerocosku lagi

(…..)

“Hahh, hujan?” tanyaku memastikan

Reflek aku membalikkan badanku untuk memastikan apakan benar diluar sedang hujan, ah ternyata benar hujan telah membasahi bumi. Belum sempat kuubah posisi sempurna, kakiku meronta meminta berjalan saja, hingga akhirnya..

Brugg

Aku terjatuh dengan tepat kudaratkan pantat kelantai dengan kedua tanganku untuk menopang tubuhku. Setengah sadar aku melihat dua gelas melayang diatas kepalaku kemudian kurasakan ada tetesan air membasahi jilbabku, ah ini pasti hujan.

Apa, hujan? Hujannya diluar kenapa basahnya sampai kedalam?

Dengen gerakan cepat aku sadar dan menyentuh jilbabku yang sudah basah oleh air soda, pantes aja kayak ada manis-manisnya.

Satu tangan kokoh terulur didepan wajahku

“Kamu ngak papa?” tanyanya dengan wajah sedikiit cemas

Mendengar pertanyaaan itu aku mendongak menatap kepada pria yang menabrakku, pria menyebalkan ini. Sakitnya memang tidak seberapa dibanding dengan rasa malu karena semua pasang mata melihatku jatuh tersungkur. Ah menyebalkan!

Kulihat matanya lurus menatapku, tatapan itu sukses membuatku balik melihatnya tanpa berkedip. Oh ya ampun ganteng sekali pria ini, boleh gak aku yang jadi istrinya? Jangan yang lain, please!

Aku masih betah dalam dunia fantasiku, kemudian kurasakan ada yang merangkul tubuhku dan membantuku berdiri, kutengok sebelah kanan dan ternyata Anisa.

“Maaf mas, dia ngak sengaja. Sekali lagi maaf!” ucap Anisa sedikit membungkuk. Aku masih terdiam dan kulihat pria itu tersenyum, setelahnya Anisa membawaku masuk kedalam toilet cafe.

Flasback of

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar