Suka Cita Selama Bulan Ramadlan

Namaku Amelia. Aku berasal dari Kota Sumatera Selatan. Aku dan keluargaku tinggal di Kota Bandung, Kota tempat aku dan keluargaku merantau. Suasana Kota Bandung yang sejuk, indah, nyaman, dan asri masih dapat kulihat dari balik jendela kamarku. Ketika akan memasuki bulan Ramadlan, seluruh umat Islam akan bersuka-cita menyambut datangnya bulan suci yang penuh berkah. Antusias dan kegembiraan begitu terasa.

“Horeee, bulan puasa telah tiba. Mulai nanti malam aku akan sholat tarawih berjamaah di masjid bersama keluarga dan teman-temanku,” sorakku dengan riang.

“Kak, Mama mau bicara sama kamu,” kata Mamaku.

“Ngomong apa, Mah?” jawabku dengan rasa penasaran.

Bacaan Lainnya

“Nanti malam kita akan bertemu dengan bulan Ramadlan, bulan yang penuh berkah,” balas Mamaku.

“Alhamdulillah, di bulan Ramadhan tahun ini aku puasanya full ya, Mah. In sya’a Allah,” jawabku.

“Ahamdulillah,” ungkap Mamaku sambil tersenyum.

“Mah,pah,kenapa setiap tahun kita puasa ya?” tanyaku dengan penuh rasa penasaran.

“Bulan Ramadhan hanya ada 1 kali dalam setahun, Kak. Setiap umat muslim di seluruh dunia wajib menjalankannya, kecuali bagi yang sedang berhalangan. Bulan Ramadlan sangat diagungkan oleh Allah SWT, karena di bulan Ramadlan Allah menurunkan Al-Qur’an dan barangsiapa yang memaksimalkan ibadah di bulan Ramadlan akan dilipatgandakan pahalanya daripada bulan-bulan lainnya,” jelas Papaku secara rinci.

“Spesial banget berarti  ya, Pah, bulan Ramadhan?” tanyaku kembali.

“Iya dong,” jawab Papaku.

Penentuan 1 Ramadhan 1444 H akan dilaksanakan nanti malam dengan metode penglihatan dan penghitungan hilal.

“Pah, kapan sidang isbat 1 Ramadhan?,” tanya Mamaku.

“Nanti malam, Mah,” jawab Papaku.

“Pah, sidang isbat itu apa?” tanyaku kebingungan.

“Sidang isbat itu sidang untuk menentukan kapan kita puasa, Kak” jawab Papaku.

“Pakai apa, Pah, nentuinnya?” tanyaku lagi.

“Pakai hilal kak, jadi nanti bulannya dilihat menggunakan teropong oleh para ahli,” jawab Papaku lagi.

“Hilal itu apa?” tanyaku lagi.

“Hilal itu adalah bulan sabit yang nampak pada awal bulan. Dalam agama Islam, hilal dijadikan sebagai penentu perbedaan waktu dan menentukan  kapan waktu yang tepat untuk beribadah kepada Allah SWT,” jelas Papaku.

“Tapi Pah, kenapa hanya bulan Ramadlan saja yang ada rapatnya?” tanyaku kebingungan.

“Karena bulan sebelum Ramadlan dan bulan Ramadlan jumlah tanggalnya tidak tetap, Kak,” ungkap Papaku.

“Oh begitu, Pah, aku paham sekarang,” balasku.

Keesokan harinya, mama membangunkanku untuk melaksanakan sahur bersama.

“Kak, bangun sahur,” ucap Mamaku.

Aku masih merasakan ngantuk, sehingga mataku belum dapat terbuka sempurna.

“Kak, ayo bangun,” ucap Mamaku lagi.

Tak lama kemudian aku pun terbangun. Lalu, aku menuju kamar mandi untuk membasuh wajah agar terlihat lebih segar. Setelah itu, aku pun keluar dari kamar menuju ruang makan dan terlihat keluarga ku sudah berkumpul di meja makan untuk melaksanakan sahur bersama. Setelah selesai sahur, tepat sekali adzan subuh berkumandang. Langsung saja aku dan keluarga ku beranjak untuk mengambil wudhu dan melaksanakan sholat berjamaah. Kemudian aku pun melanjutkan tidurku.

Kring….kring…kring….

Alarmku berbunyi nyaring. Aku pun beranjak dari tempat tidur dan mulai membuka gorden. Langit tampak terang, namun hari sedikit berbeda karena suasananya sepi dan tenang. Aku membuka jendela kamarku untuk melihat keluar.

“Tumben belum rame, biasanya jam segini sudah ada yang keluar untuk pergi ke kantor ataupun kuliah,” ucapku sambil memandang jendela.

Karena melihat kondisi yang sepi, aku pun memutuskan untuk keluar dari kamar.

“Kok sepi juga,” ucapku heran.

Tiba-tiba Papaku muncul dari arah belakang

“Loh, Papa tumben tidak ke kantor?” tanyaku.

“Hari ini hari puasa pertama, Kak, jadinya libur,” jawab Papaku.

“Oh iya hari ini puasa, Kakak lupa,” ucapku.

“Aduh, Kakak ada-ada saja,” balas Papaku seraya mengelus dada.

“Sudah sholat Subuh belum, Kak?” tanya Papaku.

“Sudah dong, Pah,” jawabku bersemangat.

“Alhamdulillah,” ucap Papaku.

Setelah Papaku  pergi, Aku melanjutkan kegiatanku. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 1 siang, aku merasa sudah banyak sekali menghabiskan waktu. Karena melihat jam sudah menunjukkan pukul 1, aku pun bergegas mengambil wudlu dan melaksanakan sholat Dluhur. Setelah selesai sholat aku membaca novel dan selang beberapa waktu aku pun melihat jam kembali ternyata masih jam 2. Waktu aku melihat jam, Mama melihatku dan mengatakan,

“Kok lihat jam terus, Kak?” tanya Mamaku.

“Hehe iya, Mah, tadi kakak lihat jam ternyata baru jam 2. Padaha, kakak rasa sudah jam 3,” jawabku.

“Sabar, sebentar lagi buka kok kak,” balas Mamahku.

“Itu karena perasaannya kakak saja, namanya juga hari pertama puasa. Jadi engga fokus,” ucap Mamahku lagi.

“Oh begitu ya, Mah,” ucapku.

Sore pun tiba….

Setiap sore di bulan Ramadlan jalanan begitu ramai, setiap sudut jalan dipenuhi oleh berbagai macam makanan seperti takjil. Semua orang berbondong-bondong untuk membelinya.

“Kak, pergi ngabuburit yuk,” ajak Mamaku.

“Ngabuburit? Apa itu ngabuburit, Mah?” tanyaku.

“Ngabuburit itu menunggu waktu berbuka puasa dengan pergi keluar, beli takjil ataupun mengaji,” jelas Mamaku.

“Ayo, Mah, keburu buka puasa nanti,” ajakku tak sabar.

Aku dan Mama pun bersiap untuk pergi, kami berkeliling mencari makanan yang dituju. Betapa ramainya kota ketika sore hari. Setelah lelah berkeliling aku dan Mama memutuskan untuk pulang dan beristirahat sambil menunggu adzan berkumandang.

Dug…dug…dug…Allahu Akbar, Allahu Akbar…..

“Alhamdulillah sudah buka, Ayo kak kita buka puasanya,” ucap Papaku

“Bentar, Pah, lagi seru baca novelnya,” jawabku.

“Harus disegerakan, Kak,” ucap Papaku.

Ketika mendengar perkataan Papaku tadi aku langsung beranjak untuk mengambil teh panas. Aku merasa bingung kenapa Papa bilang harus disegerakan, karena aku penasaran aku pun bertanya.

“Mah, tadi Papa bilang harus disegerakan buka puasanya. Maksudnya apa ya, Mah?” tanyaku.

“Jadi begini, Kak, kalau sudah waktunya berbuka puasa, adzan sudah berkumandang, kita harus segerakan untuk membatalkan puasa,” ungkap Mamaku.

“Kenapa begitu, Mah?” tanyaku lagi.

“Karena pada saat berbuka puasa kita mendapatkan berkah bagi yang menjalankan dengan baik dan tidak bolong puasanya,” jawab Mamaku.

“Alhamdulillah, semoga kita dapat bertemu dengan bulan Ramadlan selanjutnya dan puasa kita hari ini diterima oleh Allah,” sambung papaku.

“Aamiin,” ucapku dan Mama secara bersamaan.

 

Oleh: Annisa Arianti, Sanja Sekolah Alam Planet Nufo Mlagen Rembang asal Bandung, Pengurus IPM Planet Nufo.  

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *