Jum’at, 30 September, Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang kembali menggelar “UIN Walisongo Bershalawat” dalam rangka perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw 1444 H di lapangan kampus 3 UIN Walisongo Semarang. Acara tersebut dihadiri oleh Rektor UIN Walisongo Semarang KH. Imam Taufiq bersama Habib Ali Zainal Abidin dan Majelis az-Zahir Pekalongan. Imam Taufiq menilai bahwa UIN Walisongo Bershalawat terbilang sukses lantaran peserta yang hadir dalam acara tersebut lebih dari 10.000 peserta. Namun, di balik suksesnya UIN Walisongo Bershalawat, acara tersebut malah melahirkan sejumlah masalah. Bagaimana tidak, shalawat yang mestinya membawa berkah, justru malah menghasilkan sejuta limbah.
Berkah atau Limbah?
Ya, usai pagelaran acara shalawat tersebut, lapangan kampus 3 UIN Walisongo Semarang malah dipenuhi oleh banyak sampah. Tentu saja, hal ini sangat bertentangan dengan tujuan diadakannya UIN Bershalawat sendiri. Shalawat yang harusnya mengantarkan para peserta untuk meraih keberkahan seperti yang disampaikan oleh Rektor Imam Taufiq dalam sambutannya, malah dibanjiri oleh banyak sampah di akhir acaranya. Berkah yang dalam pengertiannya ialah bertambah kebaikan dan kebahagiaan, justru kurang dirasakan seusai acara tersebut. Kebaikan yang bagaimana, kalau pada akhirnya hanyalah sampah-sampah yang berserakan.
Tidak hanya bertentangan dengan tujuan diadakannya UIN Walisongo Bershalawat, fenomena tersebut juga bertentangan dengan visi besar UIN Walisongo sendiri, yakni Walisongo Eco Green Campus (WEGreen), yang di antara usahanya ialah menjadi kampus yang ramah lingkungan, kampus bebas rokok, kampus hemat energi, dan kampus zero emission. Dengan adanya fenomena di atas, visi besar UIN Walisongo menjadi Eco Green Campus akan menjadi sulit untuk diwujudkan. Maka, dibutuhkan peran dan kerja sama dari berbagai elemen agar visi tersebut tidak hanya menjadi program formalitas para birokrat kampus saja.
Siapa yang Salah?
Fenomena sampah yang terjadi dalam acara tersebut disebabkan oleh para peserta shalawat yang tidak mematuhi aturan. Resimen Mahasiswa (Menwa) yang bertugas untuk menjaga keamanan acara pun sudah mengimbau kepada para peserta untuk selalu menjaga kebersihan dan ketertiban agar terciptanya acara yang kondusif dan tertib. Namun, peserta yang terus membludak masuk menyebabkan Menwa kewalahan dalam menjaga keamanan dan kebersihan acara, sebab jumlah peserta dengan petugas Menwa yang berjaga sangat berbanding terbalik. Hal itu disampaikan oleh salah seorang anggota Menwa Rahma Niarma. Dikutip dari amanat.id, Rahma mengatakan,
“Pihak kami sebenarnya hanya menjaga di luar. Namun, karena penonton terus berdatangan dan di lapangan sudah sesak, kami harus alihkan sebagian penonton ke tempat lain. Kendalanya, penontonnya agak sulit diatur karena jumlahnya yang banyak sekali, dan apabila sudah duduk, tidak mau pindah ke tempat lain.”
Tentu, fenomena ini tidak bisa sepenuhnya disalahkan kepada pihak Menwa, sebab mereka juga sudah melakukan tugasnya dengan baik. Alangkah bijaknya apabila persoalan ini menjadi tanggung jawab semua elemen yang mengikuti acara shalawat tersebut, terutama pihak kampus sebagai penyelenggara acara dan para mahasiswa yang menjadi mayoritas peserta dalam acara itu.
Semisal, pihak kampus sebagai penyelenggara acara menetapkan batas kuota peserta agar tidak terjadi pembludakan. Dengan ditetapkannya batasan kuota, maka pihak penyelenggara juga bisa mengira-ngira jumlah penjaga keamanan dan kebersihan, dalam hal ini Menwa, yang dibutuhkan untuk menjaga keamanan dan ketertiban serta kebersihan tempat acara. Dan pihak penyelenggara dirasa juga perlu untuk memberikan imbauan secara langsung kepada para peserta melalui panggung utama, agar para peserta merasa adanya peringatan yang diberikan oleh pihak penyelenggara.
Pun begitu dengan para peserta, terutama para mahasiswa yang hadir dalam acara tersebut. Mahasiswa sebagai elemen tertinggi dalam bidang pendidikan, sudah sepatutnya memberikan contoh yang baik bagi masyarakat sekitar, bukan malah menjadi pelaku dari pencemaran lingkungan itu sendiri. Hal yang sama juga berlaku bagi masyarakat yang hadir dalam acara shalawatan tersebut.
Supaya kejadian di atas tidak terulang kembali di masa mendatang, maka dipandang perlu kesadaran akan masing-masing elemen, baik penyelenggara maupun peserta. Sebab, baik penyelenggara maupun peserta memiliki peran dan tanggungjawab yang sama-sama penting dalam menyukseskan acara. Dan keberhasilan acara shalawat dalam hal kebersihan itu juga merupakan bagian dari menyukseskan visi besar UIN Walisongo Semarang menjadi Eco Green Campus. Oleh karena itu, indikator kesuksesan—apalagi keberkahan—acara shalawat bukan lagi terletak pada banyaknya jumlah peserta, melainkan pada keamanan dan kebersihan acara, baik saat acara berlangsung maupun pasca acara. Wallahu a’lam bi al-shawab.






