Sederet Kata Tentang Sesal

Hari itu, tepat setelah kajian Al-Qur’an selesai, aku merasa kepalaku sangat berat. Aku merasa tubuhku seakan tak punya energi sedikitpun. Padahal, saat aku berangkat menuju tempat kajian, aku merasa baik-baik saja.

Setelah kajian Al-Qur’an bersama Abah dan kajian bersama Mentor Sebaya selesai, aku bergegas pulang. Aku berniat untuk tidak berangkat sekolah. Sebab, sakit kepalaku rasanya tidak seperti biasanya, kurang wajar. Tapi, aku mencoba untuk menggagalkan niatku itu.

Saat aku hendak menyiapkan pakaian untuk sekolah, aku mendengar informasi dari kakak kelasku yang juga satu sekolah denganku. Katanya, ia mendapat informasi dari temanya bahwa hari itu libur. Awalnya aku tidak percaya tentang informasi itu. Sebab, aku tidak mendapat kabar langsung dari kelasku.

Untuk memastikan informasi itu benar, aku izin mengambil handphone untuk mengecek barangkali ada informasi yang sama di grup kelasku. Hasilnya adalah benar. Wali kelasku mengirimkan pesan di grup tentang informasi bahwa hari ini libur. Tepat seperti apa yang kakak kelasku katakan.

Bacaan Lainnya

Mendapat kabar itu, akhirnya aku langsung menuju gorong-gorong (kamar tidur santri). Aku tidak langsung membaringkan tubuhku. Namun, aku sempat membuka WhatsApp lagi untuk melihat pesan yang dikirimkan oleh sahabat-sahabatku  di rumah. Selang beberapa saat setelah itu, sakit kepalaku menjadi bertambah. Rasanya kepalaku sedang dipukuli oleh banyak orang. Aku masih mencoba untuk menahanya, namun rasa sakit itu seperti tidak biasa.

Aku meletakan handphone-ku, kemudian aku mengambil bantal dan meletakan kepalaku di atasnya. Aku memejamkan mataku, mencoba untuk tenang dan tidak menangis. Aku membuka mata perlahan kemudian membuka lagi aplikasi watsap untuk mengirimkan beberapa pesan pada kontak watsapku.

Aku mengirimkan pesan kepada dua temanku. Pertama aku meminta izin tidak membantu menggambar untuk tugas Seni Budaya. Kedua aku izin kepada kakak kelasku selaku ketua di pondoku untuk tidur pagi. Sebab jika tidak izin, aku takut terjadi salah faham. Tidur pagi di pondoku merupakan salah satu masalah, dan para pelanggar akan mendapatkan sanksi.

Setelah izin, aku meletakan kembali handphone-ku tepat disamping badanku yang terbaring. Aku tetap mencoba untuk tidak menangis tersebab rasa sakit yang sedang aku rasakan saat itu. Namun, beberapa saat setelah itu, tubuhku terasa panas, semua yang ada didepan mataku berputar dengan sangat kencang sehingga membuat pandanganku seketika buram. Air mata yang sedang aku tahan menetes begitu saja. aku mual, rasanya semua makanan yang telah aku makan sudah tidak nyaman berada di perutku. Mereka memberontak, memaksa agar di keluarkan. Pada akhirnya hanya air mata yang saat itu mewakili rasa sakit yang sedang aku rasakan.

Aku memejamkan mataku, tak berani aku membukanya. Sebab aku tahu hanya akan ada benda-benda berputar di depanku. Mulutku seolah terkunci hingga sulit untuk sekedar mengatakan satu kata saja.

Aku sendirian di kamar. Teman sekamarku sudah ke gedung untuk kelas. Aku mengangkat kepalaku dan mengganti bantal temanku dengan bantal miliku sendiri. sebab, Aku takut jika air mataku akan membasahi bantal milik temanku itu. Dengan mata hanya sedikit terbuka. Aku menggantinya.

Setelah beberapa menit aku terbaring. Aku mencoba membuka mataku perlahan. Dan hasilnya, Aku justru melihat hal-hal aneh. Seperti halnya baju seragam yang aku gantung di jendela kamar, tiba-tiba berubah menjadi wanita setengah badan dengan dress putih. Wajahnya hitam dan rambutnya terurai menutupi seluruh wajahnya yang suram. Tangisku langsung pecah setelahnya. Aku menutup mataku, membalik badan dan menenggelamkan wajahku di bantal yang telah basah terkena air mata.

Tidak lama dari kejadian itu, tiba-tiba semuanya hilang. Aku merasa aku berada di alam lain. Aku rasa, itu alam mimpi. Di alam itu, Aku berada di ruangan kosong berwarna putih tulang tanpa pondasi. Aku tidak bisa menggambarkan keadaan ruangan itu dengan jelas. Yang aku tahu, disana aku sendirian dan sangat ketakutan. Aku mencoba memanggil siapa penghuni ruangan itu dengan mengatakan “permisi”. Tapi, tidak ada jawaban. Aku tidak tahu lagi bagaimana alur mimpi itu. Sebab, tiba-tiba, semuanya hilang lagi.

Aku terbangun dari mimpi aneh yang tak berujung. Mataku terbuka, dan alhamdulillah tidak ada benda-benda berputar lagi di depan mataku saat itu. Mungkin saat itu jam menunjukkan pukul 11:30. Sebab, teman-teman sekamarku sudah pulang. Saat itu, kamarku dipenuhi orang. Tapi, mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Saat itu juga, aku mulai kembali meneteskan air mata.

Di tengah tangisku, aku hanya bisa memeluk selimut hijau yang waktu itu Ibuku pilihkan agar dibawa ke pondok oleh diriku. Selimut hijau yang menjadi saksi betapa aku tidak bisa jauh dari Ibuku. Pada akhirnya, selimut itu menjadi selimut favoritku. ibuku juga mengatakan, selimut itu lebih ringan, tidak terlalu tipis dan hangat. Untuk itu, setiap kali aku dipilihkan selimut itu, aku tidak pernah menolak, karena aku juga menyukainya.

Sembari memeluk selimut itu, pikiranku tidak teratur. Ada sesal sekaligus sesak yang memenuhi isi kepala dan perasaan hatiku. Aku teringat tentang kisahku dulu. Saat itu aku masih berumur kurang lebih 8 tahun. Aku dan Bapaku diberi sakit dalam waktu bersamaan. Ibuku dengan sigap dan kuat menjalankan tugasnya sebagai seorang istri sekaligus seorang Ibu, bahkan punggung keluarga.

Ibuku merawat Bapaku sembari menggendong aku yang terus-menerus merengek karena kesakitan. Bahkan, bukan hanya sedang merawat Bapakku saja, di setiap kegiatan yang ia lakukan di rumah, selalu ada aku yang berada di atas punggungnya. Digendong dengan jarik dan terkadang sarung yang mampu membuat rasa nyaman yang tak biasa.

Setiap kali mata ini terbuka untuk memandang apa yang ada, aku tidak pernah melihat Ibuku berhenti mengerjakan sesuatu. Rasa bersalah selalu saja mengiringi rangkaian kejadian yang kerap muncul di kepala. Ingatan yang terkadang membuat air mata ini keluar begitu saja.

Aku selalu meminta ini dan itu tanpa memikirkan bagaimana keadaan Ibuku saat itu. Tanpa marah, ia menuruti apa yang aku inginkan. Meski aku yakin ia sedang dalam keadaan lelah. Kalaupun ia menolak, beliau dengan lembut akan mengatakan kata-kata ajaib yang mampu membuatku lupa dengan apa yang aku inginkan dan menuruti apa yang ibuku katakan.

Ia selalu berhasil membuatku kagum dan terharu. Di tengah kesibukanya mengurusi kami yang saat itu sedang sakit serta mengerjakan banyaknya perkerjaan rumah, kulihat ia tidak pernah mengeluh. Bahkan, saat ada tamu yang menjenguk aku atau Bapaku, ia dengan senyum khasnya akan menyambut mereka. Sesekali, aku juga mendengar tawa Ibu bersama tamu yang datang kerumahku.

Kini, setelah aku dewasa, aku sadar bahwa bertambah dewasanya aku, berarti semakin menuanya ibuku. Tulang yang dulu kokoh, kini mulai rapuh. Namun, ia selalu berhasil membuat semunya seolah-olah tetap utuh.

Di tengah tangisku karena rasa haru atas semua jerih payahnya, aku juga menuai kecewa dan sesal. Sebab, aku yang mulai tumbuh dewasa, justru seakan menyia-nyiakan apa yang aku punya. Aku yang memiliki tenaga lebih, justru mengandalkan tubuh yang sudah tua dan letih. Setelah jauh darinya, semakin dalam rasa kecewa dan sesal yang aku rasa. Di tengah kesepian yang terkadang datang tanpa aba-aba, bayangan beliau selalu muncul dengan rentetan gambaran pengorbanan dan perjuangan yang beliau lakukan.

Sering kali saat aku tiba-tiba merasa kesepian, saat aku tiba-tiba merindukan rumah, aku duduk terdiam di kapsul. Menutup sekaligus mengunci pintu depan, membuka pintu belakang dan menikmati sore di kapsul sendirian, di rumah yang ‘bukan rumah’. Aku menatap dedaunan hijau yang bergoyang tertiup angin.

Kesendirian itu membuat aku bertanya banyak hal pada diriku sendiri. Seperti; “Mak, bisakah aku sekuat engkau?, apa yang akan aku berikan untuk membalas jasa dan pengorbanan yang telah engkau lakukan? Bagaimana caraku membalas? Sedangkan kasih sayangmu tiada batas?, benarkah aku sanggup?” Dan rentetan pertanyaan yang selalu berhasil membuat aku lagi-lagi merasa bersalah.

Terkadang, rindu yang tidak bisa lagi tertahan, masalah yang datang berhamburan, dan tidak aku temukan teman untuk menyampaikan apa yang aku rasakan, membuat aku ingin pulang. Namun, langkah jauh yang telah aku tempuh membuat aku bimbang. “Benarkah pulang, atau meneruskan perjalanan hidup yang telah di tempuh dengan bahagia dan sedih yang selalu dengan setia menjadi teman?

Lagi-lagi, sesal. Sering kali aku lebih memilih bercerita kepada temanku daripada bercerita pada Ibuku sendiri. Padahal, aku yakin, sepasang telinganya pasti akan dengan setia mendengarkan berbagai kisah yang aku ceritakan. Bahkan, aku yakin, ia mampu menjadi pendengar yang baik saat aku ceritakan yang senang bahkan, saat aku bercerita hal yang (sedang) tidak baik. Aku yakin pula, ia tidak akan lupa memberikan petuah ajaib untuk keresahan yang sedang anaknya rasakan. Sembari petuah itu diucapkan, telapak tangannya akan mengusap lembut puncak kepala anaknya dengan kasih sayang yang tak pernah bosan diberikan.

Akhirnya jarak ini mampu membuat aku luluh dengan rasa sesal yang masih saja setia menemani. Saat aku sedih, saat seolah aku sedang bingung bagaimana mengekspresikan apa yang aku hadapi, ingin sekali aku kembali pada peluk yang tak mampu aku gapai saat ini.

Deretan kata tentang sesal ini bukan hanya sekedar sesal, sebenarnya. Namun beberapa deret kata (pula) tentang terima kasih yang tersirat di dalam haru yang aku rasakan dan aku ekspresikan dengan tulisan. Aku harap, deretan kata tentang sesal ini tidak akan bertahan lama. Mereka akan berubah menjadi deretan kata tentang kebahagiaan yang tidak terduga datangnya dan menetap lebih lama.

Mak, jika suatu saat nanti tanpa sengaja Mak membaca deretan kata tentang sesal ini, Percayalah satu kalimat terakhir dalam tulisan ini. “Saya sangat bersyukur dan bangga memiliki sosok sebaik Mak dalam hidup saya”

 

Oleh: Bunga Sukma Indah, Santri-Murid Kelas XI Sekolah Alam Planet Nufo  Mlagen Rembang asal Tegal. 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *