Semua orang tahu bahwa pendidikan sangat penting dalam memajukan sebuah bangsa yang modern dan berkelas tinggi. Seperti halnya Negara Indonesia yang sedang berkembang termasuk dalam bidang pendidikan. Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengatakan bahwa terdapat empat program pembelajaran nasional yang disebut sebagai “Merdeka Belajar”. Perempuan sebagai pendidikan utama anak perlu bernalar dalam memahami situasi yang demikian. Gender sudah tidak menjadi isu di zaman modern karena semua memiliki hak yang sama dalam mengungkapkan gagasan pemikiran termasuk pendidikan.

Terdapat empat aspek yang dicetuskan oleh Nadiem Makarim seperti meliputi perubahan pada Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), Ujian Nasional (UN), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Peraturan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Zonasi. empat program tersebut akan menjadi perubahan baru untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM). Terkait ujian guru dalam menilai siswa dapat dilakukan dngan tes tertulis yang lebih komprehensif misalnya portofolio dan penugasan kelompok karya ilmiah atau semacamnya.

Perkembangan zaman baik dunia kerja maupun pendidikan serta jumlah penduduk terus meningkat. Kondisi ini memberikan dampak persaingan sangat tinggi di dunia pekerjaan. Untuk itu perlu meningkatan taraf pendidikan dalam mendukung profesionalitas seseorang untuk dapat bersaing mendapatkan pekerjaan yang diinginkan. Bukan hanya itu saja, sekarang banyak temuan baru serta inovasi dalam mengalami problematika seperti berlomba mendapatkan  pendidikan yang layak begitu juga Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Perempuan apalagi seorang ibu pasti mengharapkan pendidikan yang terbaik untuk anaknya, tidak jarang seorang ibu mendapati anaknya yang tidak normal seperti kebanyakan anak-anak seusianya atau sering kita namakan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Akan tetapi perempuan khususnya ibu tidak perlu khawatir mengenai kebutuhan anaknya yang sedikit berbeda dengan yang lain. Pola pikir perempuan perlu dibuka jika mendapati hal yang tidak biasanya seperti menenrima anak apa adanya dan berusaha mencaei jalan keluar. Saat ini Anak Berkebutuhan Khusus (APK) sudah ditangani dengan baik oleh pemerintah melalui Sekolah Luar Biasa (SLB). Namun dalam kehidupan sekarang ini dengan jumlah masyarakat meningkat secara signifikan tidak menyelesaikan permasalahan yang ada. Bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) justru semakin meningkat jumlahnya sehingga sekolah luar biasa (SLB) tidak dapat menampung terlalu banyak.

Baca Juga  Urgensi Perempuan dalam Berdakwah

Indonesia akan terus berkembang dalam menciptakan inovasi terutama dalam mengatasi keresahan masyarakat untuk permasalahan pendidikan. Salah satu problem solving dalam menyelesaikan permasalahan tersebut dengan menyediakan pendidikan inklusif baik ditingkat SD/MI, SMP/MTS, serta SMK/SMK/MA. Pendidikan Inklusif merupakan upaya pemerintah dalam pemerataan pendidikan indonesia bagi seluruh rakyat indonesia, dimana pendidikan inklusif memiliki prinsip setiap anak memiliki kemampuan dan kebutuhan yang berbeda-beda khususnya anak berkebutuhan kusus (ABK). Dengan adanya pendidikan inklusif Anak Berkebutuhan Khusus dapat bersanding dengan  anak normal (non-ABK)  dalam belajar bersama dan saling menghormati satu sama lain.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2017, jumlah anak berkebutuhan khusus di Indonesia mencapai 1,6 juta. Dilansir dari laman kemdikbud.go.id, 1.6 juta anak berkebutuhan khusus baru 18 persen yang mendapatkan layanan pendidikan inklusi. Dari 18 persen tersebut, terdapat 115.000 anak bersekolah di SLB dan 299.000 lainnya bersekolah di sekolah reguler pelaksana sekolah inklusi. Berbagai kendala dihadapi seperti berasal dari anak, guru dan fasilitas yang belum tersedia. Guru masih belum mampu memahami dan terampil dalam permasalahan belajar yang kebutuhan khusus di sekolah inklusif.

Peran guru tentu tidak kalah pentingnya dalam memajukan SDM yang berkualitas. Nadiem Makarim tidak hanya menyampaikan merdeka belajar tetapi juga guru penggerak. Maksudnya adalah guru yang mengutamakan kebutuhan murid-muridnya lebih dari apapun termasuk karirnya sekalipun. Tentu ini menjadi point utama dalam prinsip pendidikan terutama kebutuhan khusus. Semua guru penggerak atau dimanapun diharapkan mampu memahami prinsip-prinsip dasar yang berkebutuhan khusus sehingga guru dapat menangani Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

Baca Juga  Pematahan Konstruksi Kecantikan Ideal Perempuan yang Terkandung dalam Film Imperfrect

Sekolah Inklusi merupakan produk inovasi dalam menjawab pemerataan pendidikan bagi seluruh warga indonesia baik yang normal maupun yang berkebutuhan khusus (ABK), dengan memberdayakan sekolah-sekolah yang tentunya diberikan panduan, bantuan, dan pemahaman terhadap pendidikan inklusi. Oleh karena itu pendidikan harus diusahakan untuk menyesuaikan dengan kondisi anak, untuk menciptakan dan menjaga komunitas yang ramah dan mampu menerima keanekaragaman dan menghargai perbedaan dengan melibatkan seluruh komponen pendidikan terkait sehingga pendidikan inklusif dapat diselenggarakan secara berkelanjutan pada semua jenjang pendidikan. Orang tua terlebih seorang ibu tidak perlu khawatir dengan adanya sekolah inklusif karena anak akan diajari toleransi sesame dan saling menyayangi walaupun terdapat perbedaan. Harapannya dapat menghasilkan output anak berkebutuhan khusus (ABK) yang mampu bersaing dengan anak normal di era modern dan canggih dengan perkembangan keilmuan, iptek dan perkembangan kemajuan jaman serta kebutuhan taraf hidup yang terus meningkat.

Oleh : Deta Novitasari Jayanty, Kader KOHATI HMI Komisariat Syariah Korkom Walisongo

Melebur Rindu

Previous article

Angka Keterwakilan Perempuan dalam Parlemen: Antara Kewajiban dan Formalitas

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Perempuan