Dua Visi Kemandirian Planet NUFO

Oleh: Dr. Mohammad Nasih
Pengasuh Pesantren dan Sekolah Alam Planet NUFO Rembang dan Rumah Perkaderan-Tahfidh al-Qur’an Monasmuda Institute Semarang; Pengajar di FISIP UMJ dan Pascasarjana Ilmu Politik UI.

Pesantren dan Sekolah Alam Planet NUFO (Nurul Furqon) kami dirikan setelah lebih dari sewindu saya mengelola Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monash Institute di Semarang dan juga rumah tahfidh Putra Fatahillah di Jakarta. Tepatnya pada medio 2019 atas ajakan Alm. Mas Arif Budiman, yang saat itu adalah Ketua Yayasan al-Furqon Rembang.

Mas Arif ingin agar putri bungsunya hafal al-Qur’an dan menguasai sains dan teknologi. Kami bertemu dalam visi untuk melahirkan generasi yang memiliki dua kaki. Satu kakinya adalah pemahaman keislaman yang komprehensif. Kaki satunya lagi adalah sains dan teknologi yang sesungguhnya adalah kebutuhan untuk menundukkan dunia. Dalam konteks ini, saya menggunakan istilah reintegrasi sains dan teknologi ke dalam Islam. Sebab, pengembangan sains dan teknologi merupakan bagian integral ajaran Islam.

Hanya saja, mayoritas umat Islam keliru dalam memahami ini, sehingga melahirkan perpektif dikotomi antara ilmu agama dengan ilmu dunia atau umum. Inilah yang menjadi biang ketertinggalan umat Islam. Mereka yang menguasai al-Qur’an tidak menguasai sains dan teknologi. Sebaliknya, yang menguasai sains dan teknologi tidak memiliki basis pemahaman keislaman yang memadai.

Karena juga memiliki anak-anak yang akan saya didik dengan paradigma itu, maka ajakan Mas Arif itu langsung saya tangkap dengan tanpa berpikir panjang. Apalagi saat itu saya sudah punya belasan SDM yang potensial saya konsolidasi menjadi pendidik yang bisa diandalkan. Monash Institute Semarang mulai beroperasi pada medio 2011 dan sudah mulai panen sarjana pada tahun 2016. Setiap lulusan S1 saya wajibkan untuk langsung melanjutkan studi pascasarjana, baik di dalam maupun luar negeri.

Sekolah Planet NUFO Mlagen

Kegiatan pagi SLTP dan SLTA Planet NUFO: Memanen hasil tanaman di Green House NUFO, (02/6/2021). Dok IG Planet NUFO

Pada saat itu, belasan mahasantri angkatan 2014 sudah masuk program pascasarjana. Seingat saya ada 14 orang yang waktu itu berkumpul, lalu saya tawari untuk menjadi guru sekolah yang akan kami dirikan dengan jaminan mendapatkan fasilitas beasiswa bergulir sampai lulur S2 dan setelah itu mereka boleh memilih untuk melanjutkan karier sebagai guru di atau akan memilih yang lain. Mereka setuju. Dan kami langsung tancap gas.

Baca Juga  Dimana Negara?

Pilihan lokasi kami putuskan di kampung saya, tepatnya di sebelah timur Desa Mlagen, hanya beberapa puluh meter saja dari rumah ibu kandung saya. Pertimbangan utama menjatuhkan pilihan ini adalah ketersediaan lahan. Dimulai dengan lahan tegalan milik pribadi saya yang hanya 25 x 75 M2, kemudian ditambah dengan lahan milik ibu saya dengan luas yang sama, dan kemudian ditambah dengan hibah dari istri saya tanah sebelah baratnya seluas lebih dari 2000 M2 yang dijual oleh pemiliknya tidak lama setelah itu.

Kini ditambah dengan beberapa hektar lahan sewaan untuk lahan gembala domba. Posisi ini memungkinkan saya untuk sering berkunjung untuk sekaligus mengajar secara langsung, karena saya bisa pulang kampung untuk sowan ibu saya. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.

Pertimbangan Mendirikan Planet NUFO

Ada banyak pertimbangan lain yang membuat saya sangat bersemangat mendirikan Planet NUFO.

Pertama, para mahasantri Monash Institute Semarang memerlukan “terminal” yang menjadi tempat menunggu selama mereka menjalani studi S2. Sementara asrama Monash Institute tidak memungkinkan untuk menampung mereka. Jika tidak dikonsolidasi secara sistematis, potensi untuk bercerai berai sangat besar, dan itu adalah sebuah kerugian yang jauh lebih besar.

Kedua, ada peserta Program Tahfidh al-Qur’an 10 Bulan yang jumlahnya kian bertambah. Sekali lagi, jika mereka juga berada di asrama Monash Institute, tentu saja akan menyebabkan kepadatan yang membuat kenyamanan menjadi terus terganggu.

Maka harus ada tempat lain yang bisa menampung mereka. Sebelumnya, saya sudah mengirim sebagian mereka untuk menghafal di Pesantren al-Falah yang didirikan oleh Bapak dan Ibu saya. Dan ternyata banyak di antara mereka yang menyatakan bahwa suasana desa lebih nyaman untuk menghafal dengan cepat.

Baca Juga  Sebelum Menghafal Al-Qur'an, Pahami Makna Literal

Ketiga, ketersediaan lahan yang luas, memungkinkan untuk membuat program pendidikan yang biasanya hanya terbatas kepada transfer ilmu, diintegrasikan dengan latihan untuk memiliki ketrampilan hidup. Jika hanya pembangunan wawasan, itu sudah kami lakukan di Semarang dan di Jakarta.

Diperlukan yang lebih dari itu dengan program yang diintegrasikan dalam satu pengelolaan. Maka sejak awal, para santri di Planet NUFO diberi wawasan tentang kewirausahaan. Dengan ketersediaan lahan, para santri di Planet NUFO bisa memilih apa pun usaha yang mereka sukai, mulai dari menanam sayur-mayur, memelihara ikan (lele dan nila), ayam, bebek, burung puyuh, kelinci, domba, sapi, dan lain sebagainya.

Dan usaha-usaha itu pun dilakukan secara integratif dengan menjadikan kotoran hewan tidak hanya sebagai pupuk, tetapi terlebih dahulu dijadikan sebagai media maggot. Dengan usaha ini, semuanya membentuk sebuah siklus seperti rantai makanan dalam pelajaran biologi dasar.

Semua hewan menghasilkan kotoran yang menjadi media maggot, maggot dimakan unggas, dan bekas maggot digunakan sebagai pupuk dan media tanaman yang mengandung nutrisi sangat bagik, dan daun-daunan dari tanaman itu bisa digunakan untuk bahan makanan binatang peliharaan yang masuk dalam kategori herbivora. Dengan cara ini, para murid bisa benar-benar mengalami secara langsung, sebagaimana visi sekolah alam.

Sekolah Alam Indonesia

Sanja Planet NUFO menambah hafalan al-Qur’an sembari mengembala domba. @planet.nufo

Dengan tidak hanya berteori, tetapi juga menghasilkan sesuatu yang menjadi kebutuhan hidup mereka, para murid atau santri melakukan semuanya dengan suka ria. Dan lebih dari itu, mereka mendapatkan keterampilan hidup yang akan membuat mereka siap menjalani kehidupan nyata nantinya.
Jalan ini sangat strategis untuk mengantarkan para warga Planet NUFO untuk mendapatkan dua kemandirian, yakni kemandirian intelektual dan finansial. Kajian al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad saw.

Baca Juga  Pesan Politik Lagu Lir-Ilir

secara rasional mengantarkan mereka kepada kualitas intelektual yang objektif dan matang. Sedangkan berbagai usaha yang mereka lakukan akan membuat mereka menjadi pribadi yang tidak hanya tenggelam dalam kontemplasi, tetapi juga mampu membiayai visi yang mereka miliki. Jika logika hanya berhenti dalam kata-kata, maka akan jadi sekedar retorika.

Jika visi tidak ditopang oleh pembiayaan yang cukup, maka hanya akan jadi imajinasi, bahkan nilainya sama dengan angan-angan. Hanya logika yang ditopang dengan logistik yang kuatlah yang akan berjalan dengan lancar. Visi yang dikawal oleh pemiliknya dengan kekuatan finansial yang cukuplah yang akan terwujud dalam kenyataan. Dari sinilah akan tercipta berbagai manfaat untuk seluruh alam. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Dr. Mohammad Nasih, M.Si.
Oleh: Dr. Mohammad Nasih, Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ, Pembangun Qur’anic Habits di Rumah Perkaderan MONASH INSTITUTE Semarang dan Sekolah Alam Planet NUFO Pilanggowok Mlagen Rembang.

    Upaya Memasyarakatkan al-Qur’an

    Previous article

    Keanehan Pertimbangan Hakim dalam Penjatuhan Putusan Pidana terhadap Eks Menteri Sosial

    Next article

    You may also like

    Comments

    Ruang Diskusi