Bagi saya, pandemi covid-19 adalah musibah dan sekaligus juga berkah. Musibah karena membuat banyak aktivitas yang sebelumnya bisa dilakukan secara bebas dan fleksibel menjadi serba dibatasi. Beberapa teman, bahkan salah satu pendiri Planet NUFO yang kedekatannya dengan saya melebihi saudara, Mas Arif Budiman (Ketua KAHMI Rembang), meninggal dunia. Namun, sekaligus juga menjadi berkah karena saya bisa mengunjungi Planet NUFO dua kali dalam sepekan. Walaupun dari Semarang harus menempuh perjalanan selama kira-kira tiga jam, rasanya makin semangat saja ke sana, karena melihat perkembangan anak-anak belia di atas ekspektasi saya. Setelah lebih dari sewindu membersamai para mahasantri di Monash Institute Semarang, saya melihat bahwa santri-santri belia di Planet NUFO adalah harapan baru yang lebih besar.

Jika mahasantri di Semarang memulai proses kaderisasi setelah lulus SMU selama masa kuliah, para santri remaja di Planet NUFO, sudah memulainya jauh lebih awal. Setiap setelah mendirikan shalat shubuh, saya mengecek kemampuan mereka membaca dan mengartikan teks Arab satu persatu. Dilanjutkan dengan kajian atas permasalahan yang mereka ajukan, sampai lewat pukul 07.00. Di luar itu, menyimak hafalan mereka yang sudah siap menyetor hafalan minimal 1 juz (20 halaman) secara langsung dengan kesalahan yang sudah diverifikasi ustadz bagian tahfidh maksimal 20 kali. Sebab, berdasarkan pengalaman, jika setoran hanya 1-2 halaman saja, biasanya santri akan terpacu untuk mengejar setoran, tetapi tidak menjaga hafalan.

Di pesantren dan sekolah alam yang kami dirikan pada awal 2019 ini, terkumpul berbagai entitas yang saling mendukung. Awalnya, Alm. Mas Arif hanya mengajak untuk mendirikan SMP dengan program khusus menghafalkan al-Qur’an untuk puteri bungsunya, Aisya Sasmaya, yang akan segera lulus SDI al-Furqon Rembang yang ia kelola bersama istrinya, Mbak Rita (Ketua Forhati Rembang). Sebab, Mas Arif agak terkesima melihat puterinya mampu menguasai tashrif setelah sepekan dalam liburan sekolah, mondok di Rumah Perkaderan Monash Institute Semarang. Waktu itu dia bertanya kepada saya, kenapa yang ditekankan adalah tashrif. Saya jawab bahwa itu adalah modal penting untuk bisa menguasai bahasa Arab al-Qur’an. Dan penguasaan bahasa Arab al-Qur’an adalah modal penting untuk bisa menghafalkan al-Qur’an dengan cepat.

Sebab, berdasarkan data yang saya kumpulkan, para penghafal al-Qur’an yang terlebih dahulu memahami artinya, bisa menyelesaikan hafalan di bawah dua tahun. Sedangkan yang tidak menguasai bahasa Arab, rata-rata hanya mampu menghafal 13 juz dalam tiga tahun. Hanya sedikit sekali yang mampu menyelesaikan 30 juz. Itu pun dengan kualitas hafalan yang buruk.

Dalam kasus ini, saya menarik simpulan bahwa menghafal tanpa arti membutuhkan usaha lebih dari tujuh kali lipat dengan risiko cepat lupa. Itulah yang menyebabkan proses menghafal menjadi sangat lama. Dan bagi sebagiannya, karena sangat lama itu, kemudian menyebabkan semangat menghafal menurun dan kemudian menyerah.

Baca Juga  Agar Tidak Menjadi Santri Abadi

Rupanya Mas Arif ingin agar Aisya hafal al-Qur’an. Saya agak terkejut juga dengan keinginannya ini. Sebab, dia adalah putera Kiai Masduqi, Kasingan, Rembang, pengasuh Pesantren al-Furqon yang sebelumnya bercorak tradisional, kemudian diubah menjadi modern. Ayahnya adalah teman dekat Kiai Mu’ti Ali (mantan Menteri Agama) semasa mondok di Tremas, Jatim, yang membuatnya “berubah haluan”. Tradisi menghafal al-Qur’an, setahu saya waktu itu kental dalam kultur pesantren tradisional.

Namun, saya juga senang, karena ajakannya itu membuat saya melihat setidaknya dua hal yang sangat menguntungkan saya. Pertama, saya memiliki anak-anak yang masih usia awal SD, yang tentu saja nanti memerlukan lingkungan pendidikan khusus di bawah kendali saya, agar bisa menghafalkan al-Qur’an berbasis data saintifik yang saya miliki. Berharap kepada sistem dengan kurikulum pendidikan yang ada sekarang, jika harapan itu terwujud, bisa dikatakan itu hanyalah kebetulan. Maka harus ada terobosan baru yang khusus diarahkan untuk ini. Kedua, sekolah ini memerlukan guru dalam jumlah banyak. Dan saya mengelola rumah perkaderan di Semarang, juga di Jakarta, yang setiap semester sudah menghasilkan lulusan S1 yang saya wajibkan melanjutkan studi pascasarjana.

Sekolah ini bisa menjadi semacam terminal baru untuk mewadahi mereka agar memastikan mereka tidak “pulang kampung” dulu. Sebab, jika mereka pulang kampung, terutama atas yang perempuan, risiko didesak menikah oleh orang tua mereka, akan sangat besar. Dan jika itu terjadi, maka usaha pemberdayaan mereka selama kuliah S1 bisa gagal total. Ini juga berdasarkan data yang saya kumpulkan. Maka langsung saja, ajakannya saya terima, dengan menyediakan lahan di dekat rumah ibu saya di desa kelahiran saya, Mlagen, Pamotan, Rembang, Jawa Tengah. Dengan modal tanah saya seluas 1500m2 lalu ditambah dengan tanah ibu saya 1750m2 dengan tambahan lagi tanah hibah dari istri saya 2500m2 ajakan Mas Arif itu kami realisasikan. Empat belas orang mahasantri Monash Institute angkatan 2014 yang semuanya adalah aktivis HMI dan baru saja menempuh studi pascasarjana, secara bulat menerima tawaran saya untuk menjadi guru.

Dengan modal dua rumah bambu yang menjadi ikon alam, dua asrama tembok, satu rumah kayu, dan tujuh gazebo, lembaga pendidikan berkarakter beda ini kami buka. Hanya sembilan anak saja yang menjadi murid periode awal ini. Kemudian disusul beberapa hingga menjadi belasan. Dan pada tahun ketiga, alhamdulillah penghuninya sudah hamper 200 orang. Namun, suasana awal Planet NUFO dengan sedikit orang itu sangat dinamis karena para peserta Program Tahfidh 10 Bulan yang awalnya berada di Monash Institute Semarang ingin berpindah ke Planet NUFO.

Kata mereka, suasana di Planet NUFO yang sepi, karena memang di luar desa, lebih mendukung untuk menghafal al-Qur’an. Dua puluhan santri dewasa ini, tidak hanya jadi mentor bagi santri remaja, tetapi menciptakan suasana di Planet NUFO menjadi sangat sinergis. Karena mereka dituntut untuk mengejar hafalan, maka mereka sering melakukan simaan al-Qur’an di berbagai sudut Planet NUFO. Ini yang menyebabkan para santri remaja melihat langsung bagaimana aktivitas para penghafal al-Qur’an. Cukup hanya dengan memberikan perspektif tentang menghafal, kader-kader belia itu pun tertarik untuk menghafalkan al-Qur’an. Sederhananya, lingkunganlah yang mendorong dan menarik mereka melakukannya.

Tidak hanya belajar, dengan jargon “berilmu, berharta, dan berkuasa” atau “cerdas, kaya, dan berkuasa” kami mendorong mereka berwirausaha.

Baca Juga  Ramadlan, Bulan Meningkatkan Derajat Taqwa

Di antara program wajibnya adalah memelihara domba. Domba menjadi pilihan awal, sebelum ada ayam, kelinci, sapi, maggot, ikan, dll, karena berbagai alasan, baik ideologis maupun pragmatis. Argumen ideologisnya adalah hadits Nabi Muhammad bersabda bahwa semua nabi adalah penggembala kambing; dan beliau sendiri menggembala kambing untuk mendapatkan upah dari penduduk Makkah. Argumen pragmatisnya, semua santri harus memiliki ketrampilan hidup minimal yang bisa menghasilkan uang dari hasil kerja tangan sendiri. Sebab, itu akan sangat mereka perlukan saat menjalani kehidupan di luar pesantren.

Awalnya, saya membelikan 40-an ekor domba untuk diurus para santri. Setiap ke Planet NUFO, setelah shalat dan memberikan semacam kultum, saya memerankan diri sebagai tukang kebun; memotong dahan-dahan pohon peneduh yang ada di sekitar asrama dengan maksud merapikannya dan memberikan kepada domba-domba di NUFO-Farm. Rupanya, dengan melihat yang saya lakukan itu, tanpa disuruh, para santri mengikuti apa yang saya lakukan. Dari sinilah saya menemukan jawaban sementara kenapa rerata santri tidak berdaya secara ekonomi. Istilah lebih terbukanya “miskin”.

Pengasuh pesantren, bisa disebut ustadz, kiai, ajengan, dll, adalah role model santri. Mayoritas santri memandang bahwa pengasuh mereka adalah idola. Kehidupan guru mereka itulah yang harus mereka jalani nanti. Apa yang dilakukan pengasuh, itulah yang sesungguhnya akan mereka lakukan. Sebab, di dalam diri pengasuh terdapat kriteria yang lengkap, terutama dalam hal ilmu dan kecukupan harta kekayaan. Semua santri tahu bahwa untuk bisa memiliki ilmu, tentu saja mereka harus belajar. Bahkan walaupun ada mitos ladunni pada para gus atau anak kiai, tetapi karena mereka sadar bukan anak kiai, maka mereka meyakini bahwa jalan untuk pintar adalah belajar, sebagaimana pada umumnya para pengasuh pesantren bergelut dengan kitab-kitab kuning.

Yang menjadi masalah adalah jalan berkecukupan harta. Sebab, pada umumnya guru di pesantren, tidak memiliki ketrampilan hidup, karena fokus utama mayoritas pesantren adalah mempelajari ilmu agama. Tepatnya, aspek teoritik lebih mendominasi. Sebagian mereka mendapatkan kesejahteraan hidup karena mendapatkan “salam tempel”. Ini berlaku sampai di elite agama level kampung, karena mereka biasanya menjadi pemimpin acara-acara berbau agama, baik syukuran, nikahan, sampai kematian. Di kampung saya, amplop ini disebut dengan “wajib” atau di lingkungan pesantren pada umumnya disebut “bisyarah (kegembiraan)”. Maksudnya, imbalan itu tentu saja membuat yang menerimanya gembira. Inilah yang akan menjadi awal “petaka” atas para santri. Dan pada umumnya mereka tidak menyadari.

Baca Juga  Inferioritas Ganda

Di dalam kultur pesantren, ada lingkaran kekuasaan yang oleh Antonio Gramsci disebut dengan kekuasaan kultural. Dan ini tidak bisa didapatkan dengan tiba-tiba atau ujug-ujug. Santri yang cerdas sekalipun, ketika pulang kampung tidak akan langsung begitu saja mendapatkan kekuasaan itu. Apalagi jika penguasa lama masih ada. Jika itu yang terjadi, sementara kebutuhan hidup tidak bisa ditunda, maka santri harus memenuhinya dengan cara biasa. Dia harus bekerja. Padahal, ada pandangan keliru dalam masyarakat bahwa seorang yang memahami agama, tetapi masih bekerja, itu adalah orang yang loba dunia, dan derajatnya dianggap hina. Ini mirip pandangan tentang kasta dalam agama Hindu. Seorang brahmana adalah yang harus fokus pada ilmu dan yang immateri. Padahal Nabi Muhammad adalah seorang fund manager andal yang menikah dengan seorang pengusaha yang memiliki kekayaan lebih dari separuh kekayaan Makkah.

Di dalamnya, karena 100% guru intinya adalah aktivis HMI, terbangun wawasan yang sangat terbuka. Sampai Angkatan ketiga, yang masuk ke dalamnya makin beragam. Dalam aspek latar belakang afiliasi ormas Islam, tidak hanya NU, tetapi juga Muhammadiyah, NW, dan yang lainnya. Dari aspek politik berasal dari keluarga dengan afiliasi berbagai partai. Bahkan di antaranya adalah anak-anak elite partai, juga pejabat negara. Keragaman itu dimanfaatkan untuk membangun organisasi pelajar sesuai dengan latar belakang yang diharapkan membangun kualitas kepemimpinan. Ada PII, HPI, IPM, dan IPNU. Keberadaan beragam organisasi itu dimanfaatkan lagi untuk membiasakan mereka untuk saling bantu (bekerjasama dan sinergi) dalam kebajikan dan ketakwaan (ta’âwanû alâ al-birri wa al-taqwâ) dan meminimalisir perlombaan atau kompetisi.

Planet NUFO memberikan kepada saya harapan akan lahir santri-santri baru dengan kualitas intelektual berbasis al-Qur’an-hadits dan juga kekuatan finansial berbasis wirausaha konkret. Logika mereka akan mendapatkan topangan logistik dari hasil kerja tangan mereka sendiri, sehingga tidak ditentukan oleh jumlah pengikut di dalam masyarakat. Mereka akan menjadi manusia-manusia merdeka, yang akan bisa mengatakan kebenaran yang mereka yakini, tanpa rasa takut dijauhi oleh siapa pun, karena takut kehilangan bisyarah. Sebab, mereka memiliki sumber penghidupan dari ketrampilan hidup yang mereka miliki. Mereka juga akan terkondisikan untuk bersinergi dengan sesama muslim, juga siap berkompetisi dengan ummat lain, untuk membuktikan bahwa muslim adalah ummat terbaik, tanpa sikap merendahkan ummat yang lain. Semoga Allah meridlai. Aamiin.

 

Oleh: Dr. Mohammad Nasih, Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ; Pengasuh Pesantren dan Sekolah Alam Planet NUFO Mlagen, Rembang dan Rumah Perkaderan Monashmuda Institute Semarang.

KKN UIN Walisongo Kelompok 26 Lakukan Kunjungan UMKM Roti dan Kue “Dapur Sinta Rahma”

Previous article

Cegah Covid-19, Tim KKN UIN Walisongo Lakukan Penyemprotan Disinfektan

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Kolom