Dewasa ini moral atau kepribadian generasi muda semakin merosot. Berbagai macam media menyoroti bahwa kekhrisisan kepribadian para generasi muda yang kian tampak pada setiap harinnya. Media-media tersebut memberitakan bahwa tingkah laku atau kepribadian yang buruk sering terjadi. Akhlak bertegur sapa, kejujuran, kasih sayang dan tolong menolong semakin luntur dan pudar. Bahkan, siswa sekarang ini banyak yang tidak sopan terhadap gurunya, berkata kasar kepada teman sebaya, dan tidak segan-segan untuk melakukan bulliying atau kekerasan kepada siapapun.
Kepribadian buruk seperti di atas dapat ditemui hampir di seluruh wilayah Indonesia. Dilansir dari liputan 6.com (14/3/2010) terjadi tawuran antar pelajar di Jalan Underpass, Ganda Agung, Bekasi Timur yang mengakibatkan satu pelajar SMP tewas. Aksi tawuran antar pelajar ini merupakan salah satu dari krisinya kepribadian di kalangan pemuda saaat ini. Namun, agaknya kemerosotan kepribadain ini tidak menjadi masalah bagi masyarakat. Masyarakat cenderung menganggapnya menjadi hal yang biasa atau lumrah. Berdasarkan hal tersebut, generasi mudah saat ini berkembang dengan akhlak atau kepribadian yang minim. Keminiman akhlak dan kepribadian ini salah satu faktor penyebabnya yaitu kurangnya ilmu agama yang menjadi bekal dalam setiap diri para generasi muda.
Kurangnya ilmu agama dalam stiap diri individu di zaman yang semakin canggih sudah tentu akan sanagt berdampak buruk. Zaman semakin berkembang dan internet semakin menguasai meluas dan berpengaruh di segala aspek kehidupan. Internet semakin berkembang, berbagai macam tampilan tersedia dan dapat dikses sewaktu-waktu oleh siapapun. Pelajar yang ada di Indonesia saat ini hampir secara keseluruhan tidak dapat terlepas dengan handphone atau telephone pintar. Apapun kegiatan dan dimanapun mereka berada seakan-akan handphone tersebut menjadi setengah dari jiwa mereka. Keduanya sangat sulit untuk dipisahkan. Selain itu, sekolah-sekolah formal saat ini telah menggunakan hp sebagai salah satu alat penunjang dalam pembelajaran. Tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan hanphone tersebut dapat membantu proses pembelajaran.
Disisi lain, layaknya peran orang tua pada umumnya sudah tentu akan memfasilitasi anak-anak mereka dengan membelikannya handphone tersebut. Dengan demikian anak-anak ini mempunyai waktu yang relatif lebih lama untuk berinteraksi dengan handphone yang telah dimilikinya. Kondisi ini diperparah dengan kurangnya orang tua dalam melakukan pengontrolan penggunaan handphone dan memperhatikan pola tingkah laku dari anak-anak mereka.
Anak-anak yang mempunyai pembekalan agama sedikit, kurangnya pengawasan dari orang tua, serta pengaruh globalisasi yang semakin cepat menyebabkan kepribadian mereka semakin pudar bahkan rusak. Rusaknya kepribadian anak-anak ini akan sangat merugikan suatu bangsa kelak. Beberapa kerugian yang akan terjadi pada suatu bangsa apabila generasinay memiliki kepribadain yang buruk yaitu akhlak masyarakatnya menjadi rusak, negaranya menjadi tidak aman, timbul kekacauan di mana-mana, bangsanya tidak akan produktif, dan tidak akan dipercaya oleh negara-negara lain.
Beberapa akibat di atas dapat diminimalisir dengan cara menyekolahkan anak di pondok pesantren. Seorang anak yang didik di pondok pesantren aka memiliki kepribadian yang baik. Pasalnya pesantren dibentuk dengan tujuan besarnya yaitu membentuk akhlak kepribadian yang baik, disamping tetap menyesusaikan dengan perkembangan zaman. Menurut Nur Komariah (2016) dalam jurnalnya menyatakan bahwa pendidikan dipesantren mengajarkan anak untuk hidup mandiri. Mandiri yang dimaksud yaitu belajar untuk memenuhi segala hasrat keinginannya atau kebituhannya sendiri tanpa harus menyusahkan orang lain.
Pondok pesantren mengajarkan anak-anak dengan pembekalan agama yang baik. Selain itu, melalui pengajaran ini berbagai macam kitab yang sarat pembelajaran diajarkan kepada seluruh santri dengan tujuan santri dapat dapat memahami dan mengamalkannya. Di dalam pendidikan di pesantern, anak-ana akan mendapatkan waktu pembelajarn yang terratur. Anak-anak tidak akan merasa mempunyai waktu yang cukup longgar untuk bersantai tanpa ada kesibukan yang berarti.
Anak yang dididikdi pondok pesantren akan terbentuk kepribadain yang baik pula. Mereka akan mempunyai landasan yang kuat apabila diterjunkan di tengah-tengah masyarakat. Selain mndapatkan pembelajaran agama, di pesantren para santrinya di ajarkan pula untuk melakukan kegiatan yang dapat menunjang kehidupan nantinya seperi pendidika formal dan pelatihan santripreneur.
Di dalam pembelajaran formal dan pelatihan menjadi enterpreneur ini menyesuaikan dengan perkembangan zaman yang ada. Santri tidak akan ketinggalan zaman dalam kemajuan teknologi. Justru, di pesantren inilah mereka mendapatkan bimbingan khusus atau pengontrolan untuk mengisi kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Penanaman nilai-nilai agama yang baik, serta pembelajaran para santri dalam, pendidikan untuk menjadi pribadi yang mandiri di dapat di dalam di sebuah lembaga pendidikan ini yaitu pesantren. Pesantren merupakan sistem pendidikan yang mampu mencetak generasi-generasi yang cakap. Sistem pendidikan di pesantren merupakan sistem pendidikan yang ideal. Oleh karena itu, pesantren dapat menjadi role mode sebagai pembentuk kepribadian unggul bagi seluruh pemuda di masa yang akan datang.
Waullou’alambishowab.





