Menjadi ‘Ulama Masa Kini

Seringkali kita mendengar adagium seperti “al-Ulama Warasah al-Anbiya” yang berarti Ulama Pewaris Para Nabi. Entah kita mendengarnya dari pengajian, acara rohani di televisi, ataupun ceramah-ceramah keagamaan, sehingga adagium tersebut sudah tidak asing lagi di telinga-telinga kita. Jika kita teliti lebih dalam lagi, perkataan tersebut merupakan potongan dari sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 3641. Sebenarnya hadist tersebut juga berisi keutamaan para penuntut ilmu, namun yang sering dikutip oleh para da’i dan para penceramah adalah bagian “al-Ulama Warasah al-Anbiya”.

Entah mungkin karena mudah untuk melafalkannya, karena kata ulama sudah diserap ke dalam Bahasa Indonesia, tapi begitulah fenomena yang sering terjadi dalam dunia penceramah. Salah satu contoh yang seperti itu adalah kutipan dalil berpuasa di bulan Ramadlan. Banyak para penceramah yang hanya berdalil pada ayat 183 surat al-Baqarah, padahal jika kita lebih detil lagi dalam mengkaji tafsir, sesunggahnya ayat tersebut sudah dinasakh.

Begitulah fenomena yang terjadi di dalam dunia penceramah saat ini. Arus globalisasi yang semakin cepat membuat semua orang bisa mengakses apa saja dengan mudah. Tidak ada yang salah dengan itu, bahkan dengan adanya arus globalisasi bisa membuat seseorang lebih cepat dalam menemukan referensi atau argumentasi. Namun di sisi lain, hal itu membuat seseorang menjadi malas dalam meneliti, sehingga orang lebih mudah mengambil dan mengutip apa saja yang mengapung di permukaan tanpa verifikasi juga falsifikasi.

Saat ini, semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi ulama. Jika dahulu hanya orang-orang tertentu yang bisa menjadi ulama, karena mempunyai akses yang lebih dalam belajar, kini tidak lagi. Kemajuan perkembangan teknologi dan informasi membuat semua orang mempunyai akses yang sama dalam mendalami ilmu-ilmu agama. Hanya keinginanlah yang menentukan seseorang itu mau atau tidak.

Bacaan Lainnya

‘Ulama Bukan Sekedar Penceramah

Saat ini, menjadi ulama tidak hanya sekedar ulama yang pandai berbicara saja, akan tetapi ulama yang juga sekaligus ilmuwan. Jika hanya sekedar beretorika, itu sudah dilakukan oleh para penceramah pada umumnya. Ulama juga dituntut untuk bisa meniliti manusia dan alam semesta. Karena, alam sesungguhnya juga bagian dari tanda kebesaran Tuhan.

Ulama hari ini juga harus mampu merekonstruksi pemikiran agama dalam Islam. Islam yang dahulu hanya dipahami sebagai adat istiadat saja, di zaman modern ini, pengetahuan keagamaan harus dipahami dalam bentuknya yang ilmiah. Sebab, menurut Muhammad Iqbal, Islam yang dipahami secara sufistik tidak lagi relevan dengan manusia modern, yakni “orang-orang yang telah membiasakan berpikir konkret”. Baginya, manusia modern, yang hidup dalam situasi tersendiri, di dunia modern, merasakan kebutuhan mendesak akan pengetahuan keagamaan yang ilmiah.

Tugas Ulama hari ini ialah mempelajari dan memahami Islam sebagai aliran pemikiran yang membangkitkan pemikiran manusia, baik perseorangan, maupun masyarakat. Dan bahwa sebagai Ulama, ia memikul amanah demi masa depan umat manusia yang lebih baik.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *