Menjadi orang kaya adalah dambaan banyak orang. Ada banyak cara untuk mendapatkan kekayaan, dari mulai cara yang halal, syubhat, bahkan haram. Salah satu cara yang halal adalah dengan bekerja. Bekerja pun harus dilakukan dengan sungguh-sungguh agar mendapatkan hasil yang optimal. Dewasa ini, pekerjaan baru bermunculan dan gajinya pun sangat menggiyurkan. Bahkan, banyak pihak yang memiliki double job bahkan beralih profesi karena tergoda oleh hal tersebut.

Adalah youtuber dan content creator yang menjadi pekerjaan dengan peminat yang relatif banyak. Bahkan, cita-cita anak kecil yang dulu ingin jadi dokter, polisi, tentara, dan lain sebagainya berubah menjadi youtuber. Sungguh tak disangka akan terjadi hal tersebut. Namun, hal tersebut terkesan biasa saja ketika kita tahu bahwa kita sudah berada di era yang serba digital ini.

Pekerjaan-pekerjaan sudah merebak menjadi bisnis yang berbasis internet dan youtuber atau content creator menjadi pilihan banyak orang. Kedua hal tersebut menjadi bisnis yang sangat mudah untuk dilakukan. Terkadang, hanya dengan berbekal gadget yang relatif murah, seseorang dapat dengan mudah meng-upload video dan mendapatkan keuntungan yang luar biasa. Bahkan, ada yang mengaku sudah mampu membeli rumah. Sungguh bisnis yang sangat fantastis di era global ini.

Adanya profesi ini membuka lahan usaha baru bagi banyak orang. Namun terkait konten, apakah hal itu bermanfaat bagi banyak orang atau malah membahayakan bagi banyak orang, masih diperdebatkan.

Berdasarkan data, konten yang paling diminati oleh para penonton khususnya adalah konten yang berbau hiburan. Adapun vlog, menempati tingkatan tertinggi.

Baca Juga  'The Black Death' yang Tak Lagi Black: Pandemik Bukanlah Lelucon

Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat Indonesia masih terbuai oleh hiburan yang tak menghasilkan apa-apa, bahkan dapat merugikan karena waktu terbuang sia-sia dan angan-angan ingin menjadi orang kaya kerap kali timbul. Karena angan-angan tak dapat terwujudkan, stres menjadi akibatnya. Sungguh hal yang membahayakan, terutama bagi kaum muda.

Dalam rangka menanggapi hal tersebut, santri seharusnya sadar bahwa ia mempunyai andil besar dalam rangka menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Selain menyampaikan hal-hal yang berbau dakwah, santri juga dapat menambah penghasilan jika memenuhi ketentuan yang berlaku.

Adapun syarat akun yang dapat dimonetisasi adalah 1000 subscriber, tidak melakukan spamming, dan 4000 jam tayang selama 12 bulan terakhir. Hal itu sebenarnya tidak susah dilakukan. Namun, konten harus dikemas sedemikian rupa agar dapat menarik minat para penonton.

Setelah persyaratan dijalankan, santri tidak berhenti begitu saja. Menambah konten dengan ide-ide menarik adalah hal yang paling penting guna menambah subsribers dan jam tayang yang berpengaruh pada penghasilan.

Jika hal tersebut rutin dilakukan, dapat dipastikan bahwa santri dapat menjadi pribadi yang mandiri secara finansial dan semoga akhirnya terhindar dari intervensi banyak pihak. Dengan itu, idealitas dapat terbentuk dan strategi mewujudkan bangsa yang sejahtera dapat dilaksanakan.

Walaupun di awal penggarapannya sangat susah, tapi jika ditekuni dan melakukan inovasi, pasti semua akan membuahkan hasil yang diinginkan. Santri harus sadar bahwa ia memiliki tugas dan tanggung jawab untuk memajukan negeri dengan berbagai inovasi tanpa mengurangi semangat dakwahnya. Dengan mengisi dunia youtube dengan video yang menarik dan mengandung makna dakwah dan edukasi, santri diharapkan mampu menjadi view untuk mewujudkan bangsa yang cerdas sesuai cita-cita bersama yang tertuang dalam UUD 1945.

Baca Juga  Keadilan bagi Kaum Difabel

Semoga santri tidak ketinggalan zaman dan mampu menjadi agent of change and social control untuk bangsa yang lebih baik dan cerdas dalam berpikir dan berperilaku. Semoga pula Indonesia segera pulih dari virus, baik virus yang menyerang fisik maupun psikis.

Romadiah
Presiden Monash Institute, Sekum Kohati Korkom Walisongo Semarang, Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Walisongo Semarang

    Menggagas Peran Pemuda di Era Global

    Previous article

    Kesatuan Pemuda Menjadi Tiang Negara

    Next article

    You may also like

    Comments

    Ruang Diskusi

    More in Gagasan