Hal yang Harus Hilang dari Diri Mahasiswa

Waktu dianggap seakan berjalan cepat bagi mereka, mereka biasa mengira kenapa waktu bisa berjalan begitu cepat, tugas menumpuk, pusing karena merasa tanggung jawab terlalu berat, itulah Mahasiswa-mahasiswa buruk di antara banyak jenis mahasiswa. Memang, salah satu jenis mahasiswa-mahasiswa buruk yaitu mahasiswa yang berpikiran seperti di atas, mereka hanya menyesal tanpa adanya keinginan untuk berubah. Namun, masih mending mereka masih menyadarinya, dibanding mahasiswa yang tidak menyadari sama sekali. Menolak pada perkembangan penyebaran informasi saat ini, informasi maupun hanya satuan penghibur rakyat menyebar dengan cepat tanpa adanya pemilahan dan penyaringan, kerap kali informasi salah disebarkan, entah hanya sebagai hiburan ataupun untuk keuntungan instansi tertentu. Hal tersebut berdampak besar bagi kehidupan bermasyarakat dari segala kalangan.

Mahasiswa adalah figure dari orang-orang yang berpendidikan dari masyarakat yang lebih mampu dibanding masyarakat kebanyakan, itu saja, masih terjerumus dan masih termakan berita-berita hoaks, lalu bagaimana dengan masyarakat yang notabenenya masih krisis pendidikan yang layak? Perlunya perubahan sikap bagi mahasiswa-mahasiswa yang masih saja mengeluh karena tugas menumpuk, tugas terlalu rumit, maupun jadwal yang terlalu padat. Mereka perlu mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah maupun pihak medis psikologis, karena ini merupakan masalah psikologis siswa yang seharusnya tidak menjangkiti siswa hingga jenjang mahasiswa.

Sifat yang seharusnya sudah dibenahi sejak masih jenjang SMP, karena di SMP sudah ada satuan peduli siswa yang biasa disingkat BK. Mahasiswa yang sadar akan dampak buruk dari perilaku di atas dan ingin keluar dari lingkaran perilaku di atas, harus mengikuti arahan psikolog atau paling minimal harus menyadari hal-hal ini. Pertama, Jangan mengeluh. Kegiatan menguras tenaga dan waktu yang hasilnya sia-sia adalah mengeluh, keadaan ini bisa saja terjadi saat mahasiswa tertekan karena tugas numpuk, tugas yang dianggap susah, sudah batas pengumpulan tapi tugas belum dikerjakan, dan lain-lain. Hal-hal yang sepele dan seakan dibuat-buat besar oleh mahasiswa, dari pada digunakan untuk mengeluh yang notabenenya kegiatan tidak bermanfaat, hanya menghabiskan waktu dan tenaga, lebih baik digunakan untuk hal yang bermanfaat seperti membuat tugas dan berolahraga, hal-hal tersebut lebih bermanfaat, selain dapat meningkatkan intelektual, bisa juga digunakan untuk penghilang jenuh dibanding hanya diam dan mengeluh kepada orang-orang. Semakin seseorang mencoba hal yang baik maka hal-hal yang buruk akan terhapus, hal ini dijelaskan pada Al-Quran yang bunyinya

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Bacaan Lainnya

 

وَاَ قِمِ الصَّلٰوةَ طَرَفَيِ النَّهَا رِ وَزُلَـفًا مِّنَ الَّيْلِ ۗ اِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِ ۗ ذٰلِكَ ذِكْرٰى لِلذّٰكِرِيْنَ

“Dan laksanakanlah sholat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).”

(QS. Hud 11: Ayat 114)

Seseorang yang senantiasa berbuat baik otomatis akan terhindar dari dosa, karena orang itu selalu mengerjakan hal positif sehingga hal negatif tidak akan sempat dia kerjakan.

Kedua, Bersikap Skeptis. Mahasiswa yang hanya mengikuti kelas tanpa persiapan, cikal bakal Mahasiswa Telo (Tengak-tenguk lo la lo lo). Mahasiswa jenis ini akan bersikap pasif di kelas, jika dia tidak punya dasar keberanian, dia akan menjadi Mahasiswa yang pendiam dan penakut. Jikalau dia punya sifat dasar pemberani, dia akan dianggap sebagai mahasiswa paling aktif di kalangan para pendiam, dan paling ngawur di kalangan para aktivis. Menurut Pak Teguh selaku Dosen Pengampu Praktikum Thermodinamika dan Kinetika Kimia Kelas PK-3A UIN Walisongo, selalu mengangguk kepada dosen adalah ciri utama Mahasiswa Telo. “Kebanyakan Mahasiswa yang saya ajar, setiap kali penjelasan materi selesai, mereka langsung mengangguk seakan paham. Namun, jika ke esokan hari ditanya, mereka tidak bisa menjawab seakan ilmu yang kemarin baru saja diterima, diterpa angin kencang bersih seketika” Tutur Pak Teguh. Menurut beliau juga, seharusnya mahasiswa bukan lagi seperti anak SD yang hanya menerima pengajaran tanpa adanya diskusi, mahasiswa dituntut untuk dapat berdiskusi dan menyuarakan pendapatnya, jangan malah menganggap dosen selalu benar. Karena, itu adalah anggapan yang benar-benar salah. Dosen Pengajar terlebih untuk para calon pengajar hanya sebagai mediasi dan moderasi mahasiswa dalam penyuaraan pendapat, yang harapannya dapat menghidupkan suasana intelektual kelas, bukan bersumber dari satu pihak saja. Bersikap Skeptis atau tidak mudah percaya adalah sikap yang diharapkan memberikan suasana intelektual. Karena, sikap inilah yang akan membuat dosen tidak main-main dengan apa yang dia sampaikan, jikalau Mahasiswa tidak memiliki sifat skeptis terhadap materi, itu sama halnya dengan membiarkan dosen seperti mengajar anak-anak SD. Karena, mahasiswa dituntut untuk kritis terhadap segala sesuatu.

Ketiga, Suka dengan Tantangan. Mahasiswa Kupu-kupu alias Mahasiswa kuliah-pulang-kuliah-pulang adalah role model ternyaman dan teraman dari seluruh role model mahasiswa yang ada. Mereka hanya fokus dalam kehidupan pribadi dan tak terlalu memedulikan keadaan sekitar, seperti konstelasi politik negara dan dunia, kebanyakan mereka bersifat individualistik. Karena, tujuan mereka hanyalah sekadar lulus dengan baik, padahal untuk mencapai kesuksesan yang sebenarnya, kemungkinannya tidak hanya dengan bersikap begitu. Kecakapan bersosial dan kepedulian perlu untuk ditingkatkan. Karena, sikap tersebut dapat memberikan arti kesuksesan dan rasa tentram dikehidupan selanjutnya, selagi masih berusaha dalam kehidupan untuk mencapai kesuksesan yang kita inginkan. Mahasiswa perlu wadah yang dapat menampung jiwa sosial dan kepedulian terhadap kehidupan bernegara maupun hanya sekadar lingkungan sekitar, mahasiswa indonesia perlu mengugurkan sikap apatisme dan terlalu individualistik. Karena, sikap-sikap demikian hanya membuat psikologis mahasiswa bila berproses dalam suatu lembaga, hanya mementingkan kehidupannya sendiri, padahal bila saja mereka sadar akan kehidupan peduli dan berbagi itu lebih indah, maka mereka akan dapat merasakan arti sebuah kehidupan. Ambisi yang tinggi dan cita-cita yang tinggi akan sangat berarti bila tujuan mereka benar. Berbagai organisasi mahasiswa entah dari kampus atau dari luar kampus mewadahi dan memberikan perspektif yang pastinya bertujuan agar mahasiswa aktif berperan di kalangan masyarakat. Salah satu organisasi yang terkenal dan terpercaya dapat memberikan dorongan semangat juang yang tinggi yaitu HMI, organisasi di bawah nagfas juang agama islam yang dapat mendorong semangat intelektual. Karena, HMI bersistemkan organisasi kader yang membentuk kadernya untuk menjadi seorang figur yang terbuka dan sadar akan islam yang sejati.

Pada akhirnya, mahasiswa dituntut berguna untuk kemajuan peradaban, kemajuan intelektual dan kehidupan bermasyarakat dan juga Mahasiswa dituntut untuk berproses pada lingkungan yang tepat, karena hal itu, dapat menuntun Mahasiswa pada arti proses yang sesungguhnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *