Pesantren dan Sekolah Alam Planet Nufo Tak Ingin Santri Miskin

Durasi Jam Sekolah Lebih Lama Tetapi Kualitas Pendidikan Di Indonesia Masih Rendah

Ada sebuah kisah nyata tentang dua orang sufi bernama Syaqiq al-Balkhi dan guru/mursyidnya Ibrahim bin Adham. Kepada gurunya, sang murid meminta izin kepada sang mursyid untuk berdagang beberapa pekan. Namun, baru beberapa hari, Syaqiq sudah nampak lagi dalam majelis gurunya.

Melihat keberadaan muridnya, sang mursyid bertanya: “Kenapa engkau sudah kembali? Bukankah engkau bilang untuk berniaga dalam beberapa pekan?”

Syaqiq menjawab pertanyaan gurunya: “Dalam perjalanan dagang, saya melewati sebuah oase. Di sana ada seekor burung kecil yang patah sayapnya, sehingga tidak bisa terbang mencari makan. Dalam keadaan itu, tiba-tiba mendarat burung besar dan menyuapinya.”

Sang mursyid mengatakan: “Begitulah sesama manusia mestinya saling mengasihi. Lalu apa yang membuatmu pulang?”

Sang murid menjawab: “Allah maha kuasa untuk memberikan rizki kepada hambanya, sebagaimana burung kecil yang patah sayap itu mendapatkan rizki. Maka saya ingin fokus beribadah kepada Allah dan berpasrah total kepada Allah”.

Mendengar itu, Ibrahim bin Adham mengatakan: “Anakku, bukankah engkau pernah mendengar Rasululla bersabda bahwa tangan di atas lebih baik dibandingkan tangan di bawah? Mengapa engkau tidak berpikir untuk menjadi burung besar itu?”

Paradigma yang disampaikan oleh sufi besar Ibrahim bin Adham ini pada kenyataannya justru tidak dimiliki oleh masyarakat kalangan pesantren. Belum banyak santri yang mendapatkan bekal ketrampilan yang memadai untuk menghadapi kehidupan dunia ini. Rerata menganggap bahwa kehidupan di dunia itu tidak begitu penting, karena memahami secara keliru doktrin bahwa hidup di dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau, sedangkan kehidupan sejati adalah akhirat. Akibatnya, umat Islam kalah dalam dinamika kehidupan dunia, baik secara ekonomi maupun sains dan teknologi. Padahal kekalahan dalam dua hal itu merupakan awal kekalahan dalam politik.

Karena itu, Pesantren dan Sekolah Alam Planet NUFO yang lebih dikenal dengan sebutan Planet NUFO selalu menekankan agar santri memiliki usaha sejak belia. Pendiri Planet NUFO yang terletak di Desa Mlagen Pamotan Rembang Jawa Tengah, Dr. Mohammad Nasih menekankan pentingnya para santri berwirausaha sembali belajar dengan sungguh-sungguh. “Nabi kita adalah nabi yang profesional, kaya, dan menikah dengan perempuan kaya raya pemilik 2/3 kekayaan Makkah. Namun sering disalahpahami sebagai manusia miskin, hanya karena meninggal dalam keadaan baju perangnya tergadai. Nabi Muhammad dan istrinya menghabiskan harta kekayaannya untuk berdakwah. Tidak hanya secara kultural, tetapi juga struktural dengan menjadi presiden di Madinah. Kedua jalan dakwah itulah yang membuat Nabi Muhammad saw. menuai sukses besar. Mestinya kita para santri ini malu kalau sampai tidak meneladani nabi kita yang hebat luar biasa itu”, terang dosen pascasarjana ilmu politik UI dan FISIP UMJ itu.

Untuk merealisasikan cita itu, Planet NUFO memfasilitasi seluruh santri dengan domba dan kambing untuk dipelihara. Yang berasal dari keluarga berkecukupan, dibiayai oleh orang tua masing-masing. Sedangkan yang berasal dari keluarga pra sejahtera difasilitasi oleh koperasi Planet NUFO dengan mekanisme bagi hasil. Dengan cara ini, berdasarkan kalkulasi rasional, setiap murid yang lulus SMP NUFO atau menjalani usaha ini selama tiga tahun, akan sudah bisa memiliki belasan ekor domba/kambing. Dengan cara ini, diharapkan semua santri akan bisa menempuh pendidikan sampai strata tertinggi dan tidak ada yang menjadi pengangguran. Kebiasaan berwirausaha sejak dini ini akan membuat mereka menjadi muslim intelektual profesional dengan daya kontribusi yang signifikan bagi pembangunan umat dan bangsa Indonesia. Kualitas muslim dibangun dengan program menghafalkan al-Qur’an yang diselenggarakan dengan metode yang terus diperbaiki sehingga tingkat keberhasilannya makin baik.

Lokasi Planet NUFO yang berada di pedesaan, membuat suasana belajar dan usaha yang dilakukan berlangsung kondusif. Anak-anak yang pada umumnya berasal dari perkotaan justru menikmati suasana asli pedesaan dengan aktivitas fisik yang tidak pernah mereka bisa nikmati di kota. Belajar, menghafalkan al-Qur’an, menggembala, dan menanam tanaman di lahan milik Planet NUFO secara beramai-ramai menjadi sarana belajar tersendiri yang menyenangkan. Terutama pelajaran biologi, matematika, fisika, dan kimia diajarkan dengan langsung terjun ke alam. Dan cara itu ternyata membuat para murid menjadi cepat paham.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *