Sudah masyhur di kalangan kaum muslimin, sebuah fragmen dialog antara Abdullah bin Umar bin Khaththab, atau yang lebih sering dikenal dengan Ibnu Umar dengan seorang penggembala kambing. Isi ringkas dialog tersebut begini, Ibnu Umar menguji amanah seorang penggembala kambing, ia mencari kambing yang pas untuk disembelih. Lalu dijelaskan oleh penggembala bahwa di sini pemilik kambingnya tidak ada, maka tidak bisa. Lalu Ibnu Umar membujuk untuk mengambilnya saja, dan nanti disuruh bilang ke pemiliknya bahwa salah satu kambingnya dimangsa srigala. Penggembala menolaknya karena ada Allah yang selalu mengawasinya. Begitu kurang lebihnya.
Fragmen cerita tersebut dapat ditemui antara lain di dalam Majma’ az-Zawaa’id wa Manba’ al-Fawaa’id, jilid 19, halaman 267-268. Berikut ini kutipannya.
عن زيد بن أسلم قال مر ابن عمر براعي غنم فقال يا راعي الغنم هل من جزرة قال ما هاهنا ربها قال تقول أكلها الذئب فرفع الراعي رأسه إلى السماء ثم قال فأين الله؟ فقال ابن عمر فأنا والله أحق أن أقول فأين الله فاشترى ابن عمر الراعي واشترى الغنم واشترى الغنم فأعتقه وأعطاه الغنم
Dari Zaid bin Aslam, dia berkata: Suatu ketika Ibn Umar berjalan melewati seorang penggembala kambing. Lalu ia berkata kepadanya: Wahai kisanak penggembala kambing, (saya sedang mencari kambing) apakah di sini ada kambing yang pas untuk disembelih (jazrah)? Ia (penggembala) berkata: (Waduh, maaf) Pemiliknya sedang tidak ada. Lalu Ibn Umar berkata: (ambil saja) lalu nanti bilang saja ada yang dimakan srigala gitu. Kemudian penggembala domba menengadahkan kepalanya ke langit seraya berkata: (Waduh) Ini kalau begini Allah di mana ini?. Lalu Ibn Umar berkata: Demi Allah, saya adalah yang seharusnya lebih pantas mengatakan di mana Allah. (Dengan kejadian itu) Lalu Ibnu Umar memerdekan (hamba sahaya) penggembala domba tadi, dan membeli dombanya kemudian memberikannya kepada penggembala tersebut.
Fragmen dialog tersebut sangat inspiratif untuk manusia yang hidup di era millenium saat ini. Inti dari fragmen dialog tersebut adalah, pentingnya memegang teguh amanah dan kejujuran. Meskipun seorang hamba sahaya, seorang penggembala kambing yang kesalahannya tidak berdampak luas kepada masyarakat ia pegang tegus amanah gembalaannya. Ia jujur dan tidak mau berbohong. Itu terejawantah dari adanya rasa malu kepada Allah, jika melakukan perbuatan tidak baik. Meskipun toh perbuatan tidak bainya itu tidak berdampak sistemik kepada masyarakat luas. Seandainya toh ia tetap menjual seekor kambing misalnya, niscaya tidak akan berdampak bagi munculnya kerusakan di sekitarnya. Bahkan bosnya pun tidak akan tahu jika dombanya dijual. Akan tetapi dia tidak mau lakukan itu. Karena ia kuat memegang amanah memegang amanah itu harus diikuti dengan kejujuran, kejujuran itu akan terwujud jika menjauhi praktik kebohongan. Itu semua akan muncul dengan adanya rasa malu kepada Allah rasa malu muncul karena didasari oleh keimanan yang kuat.
Tiga hal itu, amanah, jujur dan menjauhi kebohongan adalah hal pokok yang harus dimiliki oleh orang yang diamanahi untuk menggembala umat manusia. Sebagaimana seorang penggembala yang diamanahi untuk mengurus kambing di atas. Untuk memunculkan sikap tersebut, harus ada rasa malu kepada Allah dibenak para pemegang amanah masyarakat. Rasa malu itu dengan sendirinya akan tumbuh dari keimanan seseorang. Rasulullah dalam banyak kesempatan menjelaskan bahwa malu itu adalah salah satu dari cabang iman. Penjelasan Rasulullah tersebut salah satunya sebagaima di kutip dalam *Riyadh ash-Shalihin* berikut ini.
ألإيمان بضع وسبعون اوبضع وستون شعبة فأفضلها قول لا اله إلا الله وأدناها إماطة الأذى عن الطريق والحياء شعبة من الإيمان
Iman itu jumlah cabangnya ada tujuh puluh atau enam puluh. Yang paling utama adalah kalimat la ilaaha illa Allah, yang paling bawah adalah menghilangkan rintangan yang ada di jalan. Dan malu itu adalah salah satu cabang dari iman.
Fenomena banyaknya para pemimpin yang diamanahi untuk menggembala masyarakat terjerat kasus korupsi dan ditahan di KPK adalah bentuk dari penyelewengan amanah. Orang yang menyelewengkan amanah pasti tidak jujur. Orang yang tidak jujur pasti berbohong. Yang dibohongi adalah publik. Orang demikian itu hakikatnya tidak memiliki rasa malu dan tidak tahu malu. Jika ada masalah dengan rasa malunya, itu berarti juga ada masalah dengan keimanannya. Malunya para koruptor dan penyeleweng amanah atau pelaku kebohongan hanya kepada manusia, bukan kepada Allah. Bukti bahwa pelaku kebohongan publik, penyeleweng amanah publik hanya malu kepada manusia, ya kebohongannya itu sendiri. Dengan berbohong, manusia lainnya tidak tahu perbuatan buruknya, karena itu dia tidak malu kepada manusia lainnya karena tidak ditahu kejelekannya. Ia menutupi keburukannya dengan kebohongannya, tujuannya yang tampak di mata manusia agar yang baik-baik saja.
Ini sebagaimana dijelaskan dalam sebuah ayat, bahwa kebanyakan manusia itu hanya malu kepada manusia, bukan kepada Tuhannya. Perbuatan jelek disembunyikan di antara manusia namun tidak bagi Allah, QS. an-Nisa [4]: 108.
يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَىٰ مِنَ الْقَوْلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا
Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridha. dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.
Imam al-Baghawiy dalam karya tafsirnya menjelaskan bahwa ayat tersebut berhubungan dengan Bani Dzafr bin Haris. Beliau memaknai kata yastakhfuun (menyembunyikan) pada ayat tersebut dengan menutupi dan malu. Jadi menutupi perbuatannya di antara manusia, dan malu hanya kepada manusia. Namun tidak menutupinya dan tidak malu kepada Allah.
Gejala yang tampak saat ini antara lain adalah pelaku kemaksiatan, seperti para koruptor pun tidak lagi punya rasa malu. Hal itu tampak betapa mereka bisa berpose foto bersama-sama dengan wajah tanpa dosa di depan gedung KPK, misalnya. Banyak fenomena lain yang menunjukkan bahwa rasa malu itu sudah terdegradasi sedemikian rupa. Karena itu, melatih dan mendidik diri sendiri dan juga generasi penerus bangsa dengan menumbuhkan rasa malu ketika melakukan perbuatan melanggar norma kebaikan dan kepatutan perlu menjadi prioritas utama pendidikan karakter kita. Dari situ, tampaknya kita semua apalagi para pengemban amanah masyarakat, perlu mengambil hikmah dan i’tibar dari penggembala kambing yang diceritakan di atas.
Demikain Hikmah Jum’at kali ini, semoga bermanfaat dan Allah senantiasa menjaga muru’ah kita serta menjaga martabat kemanusiaan kita baik di hadapan manusia terlebih di hadapan-Nya kelak. Billaahi fii sabiilil Haq.
Oleh: Achmad Maimun







