Perjuangan Yang Menuai Luka

Angin terus berdesir di pagi hari. Dedaunan menari-nari untuk menampak-kan kesejukannya. Matahari mulai terbit dari ujung timur sana. Hingga mentari pun tampak indah dan mengesankan. Hari-hariku terasa indah dan menyenangkan. Namun ketika aku melihat perempuanku, hati ini mulai riuh bergemuruh. Seperti ombak yang menghantam batu karang di tepi pantai.

Saat itu, aku dan perempuanku itu kuliah di kota yang berbeda. Dia kuliah di kota Jogja, sedangkan aku kuliah di  Jakarta. Namun kami sudah jadian begitu lama dan kami membangun kesepakatan dari SMA untuk komitmen. Tanpa aku sadari jelang semester V tiba-tiba musibah menerpaku. Iya, perempuanku itu, sebut saja Bunga, ia selingkuh dengan laki-laki lain. Aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Ia berjalan berdua dengan seorang lelaki. Sampai-sampai ia bermesraan dengan lelaki itu. Mungkinkah ia ingin menghempaskan semua janji-janji atau mimpi sudah lama itu? Usahaku untuk datang  jauh-jauh di hari ulang tahunnya, ia musnahkan begitu saja. Tubuhku terasa lemas tak terasa. Raut wajah yang sudah cerah, kini kembali suram memerah. Hatinya sudah dipenuhi dengan amarah.

Setelah Bunga melihatku, dia memanggilku. Aku langsung pergi dari tempat itu. Dalam benakku yang muncul, Ada apa dengan perempuanku. Dia sambut rinduku dengan sembilu. Aku terus melangkah menghindari tempat itu. Dan teman yang menemaniku dari Jakarta Sebut saja Doni terus mengikutiku dan menyapaku ” Ton, apa yang kamu lihat itu belum tentu sama dengan apa yang dilakukan Bunga” tetapi aku tak menghiraukannya. Setelah itu ia menarikku agar berhenti. Lalu Bunga menyapaku.

Bunga :  Ton, kamu kemana aja sih? Dari kemarin kok gak aktif, gak ada kabar. Tiba-tiba lho ada di depan gue seperti ini. Sambil nangis..

Bacaan Lainnya

Aku : Terus, handphone gue gak aktif, berarti lho bebas berjalan sama cowok lain?

Bunga : Ton, pliss. Gue mohon sama lho jangan salah paham dulu, gua sama  Ricky gak ada hubungan sama sekali.

Aku : lho sama dia gak ada hubungan apa-apa. Terus kenapa kalian berdua ke tempat romantis gitu ya? Sampai kenapa dia kasih lho kalung? Di pakein lagi, itu kenapa ya? Dengan nada suara mulai tinggi.

Bunga : Ricky cuma ngajak aku buat jalan itu aja gak lebih Ton.

Aku : terus lho mau diajak jalan sama dia? Dia cuma memakaikan kalung aja kok, terus lho mau? Terus dia minta lho nanti jadi pacarnya, lho juga mau Bunga? Lho mau kan?

Bunga : nggak Ton, plis gue mohon, percaya sama gue. Gue gak bakal macam-macam. Dengan suara yang terisak-isak.

Aku : bunga yang ku pegang, aku genggamkan ke tangannya, terus aku bilang “happy birthday Bunga”

Bunga : kamu percaya kan, Ton?

Dengan hati yang sangat kecewa aku langsung pergi dari tempat itu. Meski Bunga memanggilku, tapi aku tak menghiraukan semua itu. Karena hatiku sudah sakit. Dan batinku sudah menjerit. Yang aku butuhkan saat ini hanyalah ketenangan. Bunga masih saja mengejarku, tapi ada Doni yang menariknya.

Doni : lho gak bisa ngomong sama orang yang lagi marah. Plis biarkan Toni sendiri ya..

Bunga : Doni, sebenarnya ini ada apa sihh? Kenapa tiba-tiba kalian ada disini dan gak ngabarin gue?

Doni : Oke, lho pengin tahu, lho pengin tahu kenapa gak ngabari lho, dan lho pengin tahu kenapa gak jawab telpon lho. Itu semua karena lagi di pesawat meluncur kesini. Asal lho tahu, Toni mati-matian dari Jakarta kesini. Hanya untuk apa? Untuk ulang tahun lho. Karena dia tahu kalau dari Jakarta kesini cuma 1 jam itu semua karena dia mau ngasih surprise ke lho. Tapi malah sebaliknya, lho ngasih kejutan yang luar biasa kayak gini.

Bunga : lho percaya sama gue, gua gak ada hubungan apa-apa dengan Ricky. Sambil menangis tersedu-sedu.

Doni : iya mungkin gue percaya, cuman yang Toni lihat sekarang lho salah. Karena lho berduaan dengan cowok lain. Di hari ulang tahun lho, di hari spesial lho. Sekarang putar balik keadaan, jika Toni berduaan sama cewek lain di hari ulang tahunnya. Gue pikir lho pasti akan marah.

Percakapan selesai……

Doni pergi meninggalkan Bunga menyusul Toni yang pergi. Sedangkan Bunga hanya berdiam diri di tempat sambil nangis tersedu-sedu. Bunga saat ini kebingungan karena merasa bersalah pada Toni. Apa yang harus dia lakukan ia tak tahu.

Singkat cerita…aqa

Lima jam kemudian Doni menemuiku, Aku mengajaknya untuk ngopi di sebuah cafe untuk sedikit menenangkan hati dan pikiranku. Lalu kunyalakan sebatang rokok dan kuseduh kopi nikmatnya serasa tak ada masalah apa-apa. Pikiranku kembali tenang. Setelah selesai ngopi kami berdua pergi jalan-jalan melihat indahnya alam. Tiba-tiba kami melihat orang-orang bergerombolan ditengah jalan. Aku dan Doni mencoba pergi kesana untuk mencari tahu ada apa disana sebenarnya?

Setelah sampai disana ternyata ada tabrakan seorang perempuan. Aku mencoba untuk melangkah ke bagian depan. Seketika itu aku terkejut dan ternyata yang tabrakan itu Bunga. Aku dan Doni langsung bergegas membawanya ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit ternyata Bunga tidak bisa terselamatkan. Inna lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun. Hatiku kembali menjerit dengan tangis penuh penyesalan. Seharusnya Aku tidak boleh meninggalkan sendirian, dengan emosi dan tangis yang menyatu. Doni menenangkan diriku untuk sabar dan tabah untuk menerima semua ini. Karena kita hanyalah milik Allah yang dititipkan. Kita doakan saja yang terbaik untuknya.

Bersambung………

Oleh; Mughits

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *