Mohammad Nasih dan Pembangunan Qur’anic Habit

Baladena.ID/Istimewa

Bagi penulis, Dr. Mohammad Nasih adalah guru utama (spiritual) sekaligus inspirator-motivator dalam hidup. Lahir di desa pelosok yang tidak terlihat dalam peta, Desa Mlagen, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang, tidak membuatnya merasa rendah diri. Nasih justru tumbuh menjadi sosok yang dikagumi orang-orang di sekelilingnya. Ibarat pelita yang menerangi gelapnya malam, kini Nasih menjadi pencerah atas gelapnya habit sebagian besar umat Islam di Indonesia. Alumnus Tafsir Hadits IAIN (sekarang UIN) Walisongo Semarang ini sering diundang dalam diskusi, training-training dan seminar ke daerah-daerah di Indonesia. Kapasitasnya sebagai pengajar di program Pascasarjana Universitas Indonesia (UI) dan FISIP UMJ ditambah aktif menulis di media massa menjadikan dirinya dikenal luas oleh berbagai kalangan di negeri ini, terlebih dalam bidang politik dan pendidikan.

Putra dari pasangan Mohammad Mudzakir (alm) dan Hj. Chudzaifah itu secara formal memang lebih dikenal sebagai ilmuwan daripada yang lain. Ini berdasar atas dicapainya gelar doktor dalam bidang ilmu politik di Universitas Indonesia (2010), lalu menjadi pengajar di berbagai perguruan tinggi, serta menjadi narasumber di banyak forum ilmiah, serta penceramah di berbagai majlis ilmu. Karier Dr. Mohammad Nasih bisa dikatakan cukup akseleratif. Hal ini disebabkan oleh kematangan pengalaman organisasi yang didapatkan Nasih semasa masih menjadi mahasiswa. Beberapa lompatan-lompatan telah ia lakukan hingga jauh meninggalkan sebagian besar “teman-teman sepermainannya”.

Semasa mahasiswa, pemuda kelahiran 1 April 1979 itu aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), organisasi mahasiswa tertua dan terbesar di Indonesia yang masih survive sampai saat ini. Di HMI, Nasih telah melahap habis seluruh struktural, mulai dari tingkat komisariat, korkom, cabang, hingga Pengurus Besar HMI. Selain itu, ia juga aktif di Gerakan Pemuda Islam (GPI) dan pernah menjabat sebagai Ketua Pimpinan Pusat GPI (2006-2010). Pada 2006, Nasih terpilih sebagai Presidium Pengurus Pusat MASIKA ICMI (2006-2011). Segudang pengalaman itulah, ditambah kecerdasan tidak biasa yang dimilikinya, mengantarkan Nasih dikenal sebagai sosok politisi yang punya idealisme tinggi. Insyaa’a Allah.

Perbaikan dari Pinggir

Bacaan Lainnya

Di dalam politik, Nasih disegani karena ia seorang dosen sekaligus ustadz. Begitupula di dalam dunia pendidikan, ia disegani karena posisinya yang bukan hanya seorang pengamat politik, melainkan juga seorang politisi yang masuk di episentrum kekuasaan, sehingga tahu kondisi bagaimana “mereka di dalam” yang sesungguhnya. Namun, seiring dengan kondisi perpolitikan Indonesia yang semakin hari kian kacau, dan sadar bahwa peranannya (yang seorang diri) tidak cukup untuk memperbaiki semua itu, Nasih memutuskan untuk tidak hanya terjun di dunia politik. Harus ada revolusi mental terhadap orang-orang baik untuk masuk ke dalam dunia politik secara bersama-sama, sehingga diharapkan mampu memperbaiki Indonesia ke depan melalui gerakan “revolusi dari atas”.

Nasih akhirnya sedikit “menarik” diri dari kancah politik dan memilih jalan sunyi, yaitu dengan cara memberdayakan anak-anak muda (kampung) potensial untuk ditempa menjadi pemimpin berkarakter. Perbaikan dari pinggir ini diwujudkan dengan mendirikan rumah perkaderan Monash Institute—Monash adalah singkatan dari Mohammad Nasih—di Semarang. Kini, terdapat hampir 300 an disciples (sapaan untuk santri di Monash Institute) yang dibina di sana. Merasa ada keberhasilan, Nasih mendirikan Monash Institute Ciputat (MIC) yang berlokasi di sekitar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain itu, dengan sistem yang hampir sana, saat ini ia bersama dengan AM. Fatwa juga sedang mengelola mahasiswa-mahasiswi yang kuliah di Stebank Syafrudin Prawiranegara dengan pembinaan super intensif. Nasih bersama Akbar Tandjung juga sedang merintis rumah perkaderan di sekitar Universitas Indonesia, Depok.

Berdirinya rumah perkaderan itu menjadikan Mohammad Nasih harus bolak-balik Jakarta-Semarang-Rembang setiap minggunya. Selain karena harus mengajar-memantau disciples di rumah perkaderannya itu, Nasih juga memanfaatkan waktu ke Semarang untuk bertemu dengan keluarganya yang juga berada di Semarang. Nasih yang telah menikah dengan Oky Rahma—seorang dokter spesialis anak, yang tidak lain merupakan putri dari dosennya ketika kuliah di UIN Walisongo Semarang, yakni Prof. Dr. Sri Suhandjati—pada 2010 lalu, kini telah dikaruniai empat orang anak; Atana Hokma Denena, Atena Hekmata Mellatena, Atana Molka Baladena, dan Atana Dawla Baldanena. Nasih sering mengatakan, jika kepulangannya ke Semarang adalah untuk bertemu dengan anak-anak biologis, juga anak-anak ideologis kesayangannya, dan tentu saja juga isteri tercintanya. Karena itulah, Nasih menjalani aktivitas yang padat itu dengan penuh semangat kenabian. (Ada logika yang terbalik dalam paragraf ini? Mungkin memang disengaja ya).

Tidak hanya itu, sejak awal 2019 lalu, Nasih juga mendirikan Sekolah Alam Planet NUFO di kampung halamannya Mlagen, Rembang. Di sinilah, tempat untuk membiasakan kehidupan Qur’ani (Qur’anic habit camp). Menjalankan dan membiasakan yang diperintahkan oleh Allah swt, agar menjadi karakter generasi kita. Di situlah, para anak ideologis Nasih, yang SMP, SMA, sampai lulusan SM dan perguruan tinggi, digembleng dengan kebiasaan, misalnya, jama’ah tepat waktu, shalat tahajjud, shalat dluha, shalat rawatib, sebagai manifestasi perintah do’a kepada Allah. Bekerja keras, cerdas, dan ikhlas, termasuk di dalamnya belajar dengan giat. Kerjasama dan sinergi dalam menjalani aktivitas dengan membangun tim yang kuat. Semua itu dilakukan agar semua sukses bersama, tidak ada sukses sendiri. Selain itu, ini juga sebuah alternatif gebrakan atas kegagalan pendidikan di Indonesia membuat banyak orang prihatin. Demikianlah Nasih, gelisah terhadap problem umat dan bangsa, berpikir untuk menemukan ide solusi alternatif yang brilian, lalu dieksekusi dalam kerangka pembinaan yang super intensif. Tidak mau kalau hanya sekader membuat sesuatu yang sudah banyak dibuat oleh orang lain. Harus berbeda dan spektakuler.

Kesibukan mengkader anak-anak muda sebenarnya telah ia lakukan saat masih mahasiswa, yaitu menjadi instruktur di Himpunan. Pengalaman panjang soal perkaderan itulah yang membuat Nasih memiliki banyak cara dan strategi lengkap dengan taktiknya untuk melahirkan kader-kader tangguh di masa yang akan datang. Satu hal yang menjadikannya berbeda dengan ilmuwan, politisi, atau pedidik saat ini adalah ia seorang hafidh (penghafal al-Qur’an). Bukan cuma penghafal, tetapi dengan kemampuannya memahami al-Qur’an, Nasih juga berusaha menerapkan nilai-nilai qur’ani dalam kehidupan, baik untuk dirinya sendiri, keluarga, anak-anak ideologis, maupun orang-orang di sekeliling yang mencintainya sehingga segala hal yang dikatakan dan paradigma yang diberikan olehnya “selalu” berdasarkan pada al-Qur’an. Inilah yang kemudian menjadikan Mohammad Nasih menjadi sosok yang dikagumi oleh banyak kalangan.

Terlahir dari keluaga hafidh-hafidhah, membuat Nasih sangat akrab dengan kitab suci agama Islam itu sejak kecil. Jangan heran jika saat ini Nasih termasuk orang yang sangat fundamental dengan al-Qur’an. Fundamental yang rasional, bukan kolot lho ya. Pemahamannya yang komprehensif terhadap al-Qur’an membuat Nasih yakin betul bahwa hanya al-Qur’an (dan Hadits) lah yang layak dijadikan pedoman hidup seluruh umat manusia, bukan yang lain. Paradigma inilah yang berusaha terus ditanamkan Nasih kepada anak didiknya dan seluruh orang-orang yang dekat dengannya, sehingga muncul istilah qur’anic habit. Dimulai dari diri sendiri dan keluarganya, qur’anic habit ini juga ia terapkan di rumah perkaderan Monash Institute, bahkan menjadi tag line; Monash Institute: Exellent with al-Qur’an.

Kematangan Pemikiran

Pandangan Mohammad Nasih mengenai qur’anic habit ini jangan dikira muncul begitu saja. Namun, semua itu berangkat dari pencarian panjangnya. Nasih memang telah hafidh al-Qur’an sejak masih SMA dan ketika nyantri di Pondok Pesantren Annur, Lasem. Namun, hal itu ternyata bukan jaminan untuk tidak “kafir”. Setelah lulus SMA, lalu melanjutkan kuliah di UNNES dan IAIN Walisongo Semarang, serta masuk di HMI yang memiliki kultur menganjurkan kebebasan berpikir, membuat Nasih mengalami guncangan pemikiran. Hal ini disebabkan oleh kegemarannya mengkonsumsi buku-buku yang ditulis para ilmuwan Barat. Mereka sangat mempengaruhi cara berfikir Nasih kala itu. Bahkan, gara-gara itu, Nasih pernah sampai pada pemikiran bahwa al-Qur’an itu buatan Muhammad, bukan wahyu dari Tuhan. Karena itulah, Nasih pernah dikafirkan oleh teman-temannya. Bahkan yang lebih parah, cara berpikir yang demikian itu terdengar oleh ibunya yang ditinggal di Rembang, sehingga membuat anak-ibu itu terlibat konflik biologis-teologis.

Namun, seiring dengan banyaknya buku-buku bacaan yang berasal dari ulama-ulama muslim yang telah ia “habiskan”, ditambah dengan pengalaman-pengalaman spiritual (spiritual experience) yang didapatkannya, akhirnya cara berpikir Nasih lama kelamaan mengalami perubahan, dan bahkan kayakinannya terhadap al-Qur’an lebih MANTAP, dibandingkan sebelumnya. Paradigma yang satu ini sangat mempengaruhi cara pandangnya terhadap segala sesuatu. Cara pandangnya begitu berbeda. Penulis melihat sendiri perbedaan “keimanan” Mohammad Nasih terhadap al-Qur’an, dari mulai saat penulis awal-awal ke MI (2011) hingga saat ini (2015), sehingga hal itu juga mempengaruhi perubahan sistem, cara berpikir, dan tujuan lembaga perkaderan yang didirikannya.

Salah satunya termanifestasikan ke dalam program Menghafalkan al-Qur’an 10 Bulan (2014), bahkan baru-baru ini diluncurkan program Tahfidh Al-Qur’an Lima Bulan. Jika sebelumnya proses menghafalkan al-Qur’an dilakukan bersamaan dengan pemberian beasiswa kuliah di perguruan tinggi, melalui program ini disciples diharapkan sudah hafal al-Qur’an (hafidh) saebelum memasuki perkuliahan. Dengan begitu, proses pembelajaran selanjutnya akan lebih fokus pada pendalaman pemahaman al-Qur’an dan pengembangan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, keinginan kuat Mohammad Nasih untuk melahirkan hafidh-hafidhah yang mampu mengatasi problematika umat-bangsa dalam rangka mewujudkan qur’anic habit untuk Indonesia raya bisa tercapai.

Kini, Mohammad Nasih telah menemukan keyakinannya (baca: haq al-yaqiin), sehingga ke mana-mana, ia selalu meneriakan kebenaran al-Qur’an dan keharusan kita untuk mengikuti ajaran yang ada di dalamnya. Tidak hanya itu, kita harus memperjuangan kandungan-kandungan pesan yang sangat istimewa dari al-Qur’an ke dalam kehidupan nyata. Merasa bahwa Monash Institute institute yang didirikan memiliki hasil yang cukup signifikan, ditambah dorongan-dukungan dari keluarga dan teman-temannya, Nasih berkeinginan untuk membangun Monash-Monash baru di daerah lain di seluruh Indonesia. Tentu saja ini niat yang mulia, tetapi tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk merealisasinya. Semoga niat baiknya dalam upaya untuk melahirkan pemimpin muda berkarakter qur’ani bisa segera terealisasi.

Di tengah kesibukannya yang luar biasa, Nasih menyempatkan diri untuk menghadiri undangan mengisi program-program televisi nasional. Salah satunya, Nasih bersama salah satu gurunya, Chusnul Mar’iyah, Ph.D., menjadi pengisi program Belajar Islam di MNC Muslim (Channel 97) dengan tema-tema sosial, ekonomi, dan pendidikan yang ditayangkan tiap Senin pukul 20.00 WIB. Selain itu juga, menjadi pengisi pengajian sebelum Shubuh di TV One dan Antv. Tentu saja yang dibicarakan tidak jauh dari qur’anic habit, yang meliputi segala persaolan di dunia ini dengan persepektif sosial dan agamaSelain itu, sesekali Mohammad Nasih juga memberikan perspektif terkait situasi perpolitikan nasional di TV One, JakTV, MUTV, dan media-media lainnya. Namun, bagi Nasih yang utama adalah perkaderan. Mengelola perkaderan lebih menyenangkan daripada tampil bersama para elite politik negeri ini, meski Nasih sangat mudah bertemu dengan mereka. Padahal, yang kedua itulah yang sangat didambakan oleh kebanyakan orang.

Sekali lagi, jalan yang ditempuh oleh Dr. Mohammad Nasih, M.Si adalah yang sukar lagi mendaki, lebih dari itu ia memilih melewati jalan sunyi, jalan yang gelap, jauh dari gemerlap cahaya. Jalan yang juga licin dan dipenuhi batu-batu tajam. Mengutip pendapat seorang teman bernama Muhammad Ditya Ariyansyah, alumnus STAN yang juga memilih untuk berguru kepada sang doktor hafidh itu, sebagai berikut:

“Mohammad Nasih adalah salah satu individu yang mengambil pilihan secara sadar untuk berumah di tepi air. Kalaupun sewaktu-waktu timbul ombak yang dapat menyeret dan melenyapkan, hal itu tidak menjadi perhatian utama. Bagi ia, justru tepi air menyajikan suatu keindahan yang tak terperi. Di salah satu sudut, tertanam tegak pohon kelapa yang melambai-lambai mengikuti irama angin. Formasi karang terbentuk di sudut lain tepi air, memecah ombak-ombak kecil yang datang. Tak jarang, sinar matahari kala terbit dan tenggelam semakin memperindah tepi air. Selain keindahan, tepi air memberikan kemudahan untuk mengakses samudera politik yang memiliki kekayaan alam melimpah ruah. Oleh karena itu, banyak individu lain yang juga memutuskan untuk berumah di tepi air. Sayangnya, tidak semua individu mempunyai tujuan yang baik. Bahkan, mayoritas individu berumah di tepi air agar kekayaan alam samudera dapat dieksploitasi untuk kepentingan pribadi maupun golongan.”

Sederhana dan Egaliter

Perlu diketahui, Mohammad Nasih adalah sosok yang sedehana. Dia mengamalkan doktrin yang juga selalu ia kampanyekan kepada anak didiknya, yakni keprihatinan adalah gizi. Sekelas doktor yang punya kesuksesan mentereng, ia menjalani kehidupan dengan penuh kesederhanaan, yang jauh dari bayangan banyak orang tentang seorang yang sukses. Di Jakarta, ia memilih untuk beraktivitas ke sana-ke mari dengan naik ojek online. Ini tentu tidak biasa bagi orang yang mampu membeli mobil dan menjalani hidup dengan gelimang kemewahan kaliber Mohammad Nasih. Ia juga memilih untuk tidur bersama beberapa santrinya di asrama, daripada harus membeli rumah atau bisa tidur di hotel/apartemen mewah. Untuk moda transportasi bolak-balik Semarang-Rembang, ia juga sering naik kereta kelas ekonomi. Dia selalu bilang, “Ada banyak perjuangan yang harus dibiayai.” Bisa dibilang, ia sangat irit (untuk tidak dikatakan pelit) kepada dirinya sendiri, dan royal untuk perkaderannya.

Demikian pula ketika di Semarang, Nasih juga tidak menunjukkan gaya hidup yang glamor. Meski memiliki mobil lebih dari satu, ia memilih menggunakan motor untuk bolak-balik rumah-pesantren dan membiarkan mobil-mobilnya dipakai oleh santri-santri untuk kepentingan program perkaderan dan pembinaan kaum muda belianya. Dalam kesehariannya, ia mengenakan pakaian yang biasa-biasa saja, bahkan ketika ke pesantren, ngimami shalat jamaah atau mengajar santri-santrinya, ia sering memakai kaos berkerah ditambah peci nasional. Ini tentu aneh, jika melihat kebanyakan kiai selalu tampil “mewah” ketika ngaji. Tentu tidak sulit kita temukan, kiai-kiai kita, yang ketika mengajar, mereka menggunakan pakaian “elite” ulama berupa jubah dan udeng-udeng atau jaz “hijau” yang sakral, yang semua itu “tidak bisa dan tidak boleh” dipakai oleh santri biasa. Nasih bahkan sering menyindir disciples yang bajunya lebih bagus dan lebih mewah darinya. Dalam konteks ini, Nasih ingin membangun budaya egaliter yang beradab. Sebuah budaya yang hampir-hampir sulit ditemukan di sebagian besar pesantren di Indonesia. Namun demikian, ia menginginkan budaya egaliter yang berbeda dengan Barat. Egaliter yang tetap memiliki nuansa sopan-santun yang penuh penghormatan khas Timur.

Nasih menyadari bahwa posisi dia adalah sebagai guru sekaligus bapak bagi anak-anak ideologisnya, tetapi ia ingin mereka setara dengannya dan bahkan ia berharap seluruh murid-muridnya melampaui pencapaian yang telah ia raih. Karena dengan begitulah, Nasih bisa dikatakan berhasil mendidik murid-muridnya. Nasih juga menyadari kalau segala yang dilakukan akan dicontoh oleh santri-santrinya, termasuk gaya hidupnya. Ia memilih gaya hidup sederhana dan egaliter. “Kita sederhana begini saja belum tentu ditiru oleh mereka, apalagi kalau kita bermewah-mewahan, bisa dibayangkan apa yang akan dilakukan oleh mereka di masa depan?” Begitulah kata yang sering penulis dengar dari mulutnya.

Jujur saja, penulis beberapa kali merasa kikuk, ketika harus bersikap atas perilaku kiai yang satu ini. Maklum, penulis berasal dari pesantren salaf yang berparadigma sami’na watha’na kepada kiainya, termasuk dalam etiket dan sopan santun yang dengan sendirinya sudah ada keprotokan yang mesti dipenuhi. Beberapa kali ketika awal kali penulis menjemputnya di bandara, setelah Nasih dari Jakarta, misalnya, dengan membawa dua tas ransel dan jinjing yang terlihat ribet, tentu seorang santri yang baik akan menjemputnya dengan sigap dan membawakan tas-tas itu. Namun, penulis kebingunan, antara kebiasaan dari pesantren salaf yang masih terpatri dalam jiwa dan pengetahuan bahwa Nasih tidak suka diperlalukan “istimewa”, akhirnya penulis memilih untuk dengan sigap menujunya untuk mengambil barang-barang yang dibawa olehnya. Namun, terkejutlah, Nasih langsung berkata, “Ayoo cepet, segera masuk. Masuk mobil. Segera!” Demikianlah. Tak berubah hingga kini. Nasih memang begitu, terlatih mandiri dari kecil dan tidak terbiasa dilayani.

Salah satu contoh lagi yang membuat penulis geleng-geleng adalah ketika suatu malam, penulis membersamai Nasih dalam perjalanan menuju satu acara di pagi hari. Di dalam mobil ada Nasih dan tiga orang santri, termasuk penulis. Waktu itu, Nasih menawarkan kepada santri-santrinya untuk membeli buah di pinggir jalan. Para santripun mengiyakan dan memberi isyarat kepada sopir di kala mereka melihat ada toko buah. Para santri saling memandang dan bersiap untuk turun membeli buah. Belum sampai turun, Nasih pun sudah berada di dalam toko buah itu dan santri-santri itu hanya melongok saja. Batin mereka, Ini kita yang lemot apa gimana siih? Jawabannya, tentu tidak. Memang begitulah Nasih. Ia bisa saja memerintahkan salah satu santrinya agar turun membelikan buah untuk di makan bersama, tetapi ia memilih untuk melalukannya sendiri. Ia mengajarkan kepada murid-muridnya tentang cara hidup egaliter. Bukan mentang-mentang.

Ada satu potret contoh yang sederhana tentang bagaimana Nasih ingin merekonstruksi cara cara pandang disciples dalam konteks berhubungan dengan gurunya. Ketika mengaji, Nasih meminta santri-santri untuk membaca di depan dan menanyakan tentang suatu hal berkaitan dengan ayat yang ia baca. Ini dimaksudkan agar santri-santri juga terbiasa dalam menyampaikan idenya, bukan melulu kiainya yang berbicara, sehingga kiainya akan makin cerdas dan terlatih, sementara santrinya akan mengalami perkembangan yang lambat, sehingga selamanya akan menjadi santri. Dalam hal sederhana yang penulis maksud di atas, ada beberapa disciples yang membawa kebiasaan lamanya, ketika hendak maju membaca di forum kajian, ia jalan dengan menggunakan lutut untuk sampai di depan. Jalan ngesot. Nasih dengan nada khasnya langsung menegur, “Ayoo segera. Jalan biasa saja. Tidak usah begitu. Lama nanti.” Tentu santri yang berlaku demikian adalah santri baru yang belum mengenal dan belum paham cara berpikir dan cara hidup kiai yang satu ini.

Demikian pula dalam penulisan buku ini, disciples dilarang keras bertindak alay dengan menuliskan secara berlebihan apa yang ada di pikiran mereka. Himbauan ini telah disampaikan oleh panitia kepada seluruh disciples yang akan turut menuliskan ide/gagasannya tentang perjalanan intelektual atau personal Mohammad Nasih. Tulisan harus sesuai kenyataan dan tidak boleh melebih-lebihkan, bahwa ada kesan baik yang mendalam terhadap Mohammad Nasih, harus diungkapkan dengan proporsional, supaya pembabaca bisa menangkap pesan-pesan dengan tepat alias tidak salah paham. Meski Nasih tidak suka diperlakukan “wah” oleh santri-santrinya, bukan berarti ia tidak memiliki kepercayaan diri. Soal kepercayaan diri ini, Nasih adalah tempatnya. Ia sangat PeDe dengan ide dan gagasannya yang memang banyak berbeda dengan kebanyakan, anti maintream. Apalagi jika ide dan gagasan itu didasarkan kepada al-Qur’an, kepercayaan dirinya untuk menyampaikan kebenaran itu akan mengalahkan segala risiko apapun yang ada di depannya. Dengan demikian, jelas bahwa Nasih memang mengingkan percepatan perubahan. Ia akan mendorong apapun yang dilakukan disciple untuk memacu kaulitas diri dalam menuju pencapaian cita-cita, bahkan merelakan punggungnya untuk menjadi tumpuan agar murid-muridnya bisa meloncat lebih tinggi.

Beberapa contoh di atas menunjukkan bahwa Nasih memang tidak menginginkan kemewahan dan jaim (jaga image), tetapi perbaikan dan percepatan. Hidup sederhana dan egaliter adalah pilihannya. Ia berharap murid-muridnya mengalami kemajuan berpikir dan bertindak untuk menggapai masa depan masing-masing dengan akseleratif. Waktu kita terbatas, maka segala sesuatu harus dilakukan dengan cepat dan tepat. Tentu saja ini tidak mudah bagi yang tidak memiliki kebiasaan akselerasi dan berpikir besar. Demikianlah, tidak ada perjuangan yang tidak sulit. Jika mudah, namanya bukan lagi perjuangan. Namun, dengan tekad kuat yang didasari oleh keimanan yang hanief, tidak mudahnya jalan perjuangan itu justru menjadi kenikmatan dan kebahagiaan tersendiri, karena dijalani dengan penuh kegembiraan. Perlu dicatat, seorang pejuang itu tidak bisa lagi membedakan mana yang enak dan mana pula yang tidak enak. Apapun akan dilakukan untuk merealisasikan visinya.

Namun demikian, sesempurnanya Mohammad Nasih, tetap ia adalah seorang manusia biasa, yang tentu saja melakukan kesalahan dan tidak sedikit kekurangan. Tepat di usia ke 41 tahun (2020) ini, kita semua berdo’a agar Dr. Mohammad Nasih beserta keluarga selalu diberikan kesehatan dan keselamatan dalam mengarungi kerasnya perjuangan. Kita ingin bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar. Dimulai dari pinggir ini, kita berharap cita-cita Pak Doktor (dan kita semua) dalam melahirkan pemimpin besar berkarakter Qur’ani bisa terwujud. Tentu kita juga mendo’akan agar Dr. Mohammad Nasih terus ditambahkan rezeki yang melimpah lagi barokah oleh Allah Swt. untuk menopang perjuangan yang lebih besar lagi, menjadi dana revolusi. Hadirnya orang-orang baik yang lebih banyak lagi untuk membantu Dr. Mohammad Nasih dalam membangun long life ‘caderitation’, tentu juga menjadi harapan kita bersama. Kita berharap ada banyak orang yang mengambil jalan sunyi untuk mewujudkan perbaikan, sebagaimana dilakukan Dr. Mohammad Nasih dkk.

Terakhir, semoga anak-anak (biologis maupun ideologis) Nasih selalu diberikan kesehatan, kekuatan, dan kesabaran untuk terus menempa diri, agar terus menjadi lebih baik, sebagai upaya untuk membentuk insan cita yang menerapkan qur’anic habits di dalam kehidupannya, sehingga akan lahir Nasih-Nasih baru di masa depan. Buku yang ada di tangan pembaca ini memuat segala gagasan dan aksi Mohammad Nasih yang telah disebarluaskan kepada para santri, handai tolan, dan keluarganya. Ditulis berdasarkan pemahaman dan pengalaman masing-masing penulisnya, disusun dan dikelompokkan berdasarkan tema penulisan yang dirasa pas. Ide dan gagasan dalam buku ini layak untuk didiskusikan dan direalisasikan, sementara aksi-aksi mesti dilanjutkan dan dikembangkan. Meski (mungkin) secara sepesifik tidak konvergen, buku ini memberi gambaran tentang lebatnya pemikiran Mohammad Nasih yang diikuti oleh aksi-aksi spektakuler dalam membangun Qur’anic habits. Penulis bangga bisa ikut terlibat sebagai editor dalam penerbitan buku yang, insyaa’a Allah, akan memberikan pencerahan kepada generasi muda di masa depan. Semoga. Wallahu a’lam bi al-shawaab.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

  1. Sosok ilmuwan bersahaja nan sederhana. Sangat memotivasi. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan dan kekuatan dalam perjuangan beliau mendidik generasi muslim muda Indoneisa agar melahirkan ilmuwan2 islam qur’ani.