Belum banyak pesantren memiliki visi kemandirian ekonomi. Pada umumnya, pesantren fokus hanya kajian ilmu-ilmu yang sering disebut sebagai ilmu-ilmu agama (ulûm al-dîn), seputar tauhid, fikih, dan tasawuf. Namun, Pesantren-Sekolah Alam Planet NUFO sejak awal berdiri sudah mencanangkan visi reintegrasi saintek (sains dan teknologi) ke dalam Islam. Dan di antara prasyarat untuk mewujudkan itu, menurut pendiri dan sekaligus pengasuhnya, Ustadz Dr. Mohammad Nasih, M.Si., lembaga pendidikan Islam harus juga memiliki kemandirian ekonomi. Sebab, pendidikan yang berkualitas membutuhkan pendanaan yang sangat besar, terutama untuk melakukan riset yang di dalamnya ada eksperimen.
Karena itulah, dosen Ilmu Politik di Pacasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ ini, makin serius untuk memberdayakan santri-santrinya, tak hanya di Planet NUFO, tetapi sebelumnya juga di Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monasmuda Institute Semarang. Mereka diajak, dimotivasi, dan bahkan difasilitasi agar di samping belajar al-Qur’an, hadits Nabi, dan rekonstruksi pemikiran Islam, juga membangun usaha yang mumpuni. Kajian-kajian keislaman dengan paradigma kritis dimaksudkan agar santri memiliki kemandirian intelektual. Sementara wirausaha dimaksudkan agar mereka memiliki kemandirian ekonomi. Menurut pria yang akrab disapa para santrinya dengan Abah Nasih atau Abana ini, kemandirian intelektual dan finansial adalah prasyarat mutlak, agar para santri mampu berjuang dengan harta dan jiwa sebagaimana sering ditegaskan al-Qur’an.
Berikut ini wawancara dengan Abana:
Baladena: “Abana, kalau pesantren dan juga sekolah memfokuskan diri pada keilmuan, itu sudah sering saya lihat. Tapi ini, bukan hanya membangun ketrampilan, tetapi bahkan wirausaha. Apa sesungguhnya yang menjadi latar belakang?”
Abana: “Latar belakangnya mau yang serius atau yang tidak serius? Kalau yang tidak serius adalah umat Islam ini miskin-miskin. Ini serius juga ya? Jangankan dalam konteks dunia, dalam konteks Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim saja, mayoritas orang terkayanya, bahkan dikatakan hampir semuanya adalah bukan umat Islam. Ini kaya dalam arti sekuler, banyak duitnya. Ini kan aneh? Bukan bermaksud SARA. Berpikir sederhana saja, mestinya proporsional saja. Karena mayoritas muslim, maka yang jadi pencuri yang muslim, yang korupsi ya muslim, dan seterusnya yang negatif muslim. Itu biasa. Tapi mestinya, yang sebaliknya, yang positif juga muslim. La ini ada yang tidak. Giliran yang kaya-kaya, bukan muslim. Ini pasti ada masalah.”
Baladena: “Nah apa masalahnya? Apakah sudah ditemukan?”
Abana: “Saya melihat, masalahnya adalah umat Islam pada umumnya, salah dalam memahami ajarannya sendiri. Al-Qur’an dan juga hadits menganjurkan umatnya untuk kaya, tetapi mereka memahami sebaliknya. Mereka kira, Islam tidak senang kalau umatnya kaya. Mereka lebih dipengaruhi oleh sebagian ayat bahwa harta adalah penyebab keburukan. Padahal bukan hartanya yang menyebabkan kejahatan. Yang menyebabkan kejahatan adalah cinta kepada harta kekayaan. Saya bisa membuktikan bahwa bahkan al-Qur’an menyebut harta sebagai al-khair, artinya kebaikan. Masalahnya ya itu tadi, kalau rasa cinta sudah menguasai, itu yang akan menyebabkan masalah.
وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ
Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. (al-Adiyat: 8)
Baladena: “Jadi, sebenarnya Islam memandang positif kepada harta kekayaan ya?”
Abana: “Tepat sekali. Dan itu ada di banyak ayat juga. Jadi, al-Qur’an memandang harta kekayaan ini sebagai sekedar sarana saja. Dia akan optimal jadi sarana untuk kebaikan apabila tidak dicintai, tetapi sekedar dikuasai, digenggam di tangan, tetapi tidak dimasukkan ke dalam hati. Kalau dimasukkan ke dalam hati, maka akan jadi bahaya. Harta itu perlu untuk menjalani kehidupan di dunia ini, termasuk di dalamnya untuk menjalani ibadah. Ibadah haji jelas disebut hanya bagi yang mampu. Mampu di sini ya jelas mampu secara finansial juga.
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Ali Imran: 97)
Bahkan orang-orang yang nekat berangkat haji tanpa membawa perbekalan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup normal mereka, dikritik keras oleh al-Qur’an. Bahkan jelas juga disebut bahwa membekali diri dengan bekal terbaik itu adalah perwujudan takwa.
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ
Berbekallah kalian, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. (al-Baqarah: 197)
Ujung ayat ini menyindir kita, kalau kita melakukan apa yang menjadi kritik al-Qur’an ini, berarti otak kita orisinil. Tahu kan maksudnya? Maksudnya nggak pernah kita pakai. Hahaha.
Sayangnya lagi, ayat terakhir ini sering disalahpahami bahwa takwa adalah sebaik-baik bekal. Bukan begitu maksud ayat ini. Bahwa takwa diperintahkan oleh Allah, itu iya. Namun, ayat ini sedang tidak berbicara tentang itu. Ayat ini menjelaskan bahwa memiliki harta yang cukup untuk bekal itu adalah takwa. Ini di antara contoh pemahaman terhadap al-Qur’an yang tidak intelektual. Dengan punya harta yang cukup, kita tidak menjadi peminta-minta. Sebab, meminta-minta itu merendahkan diri sendiri. Itu maksudnya.”
Baladena: “Abah Nasih menekankan betul kedua kemandirian ini, adakah pengalaman khusus yang menyebabkannya?”
Abana: “Pertanyaan yang sangat bagus. Dan ini tidak pernah saya sampaikan kecuali dalam kajian khusus dengan santri di Monasmuda Institute dan Planet NUFO. Tidak pernah saya sampaikan di forum terbuka. Saya khawatir ada yang tersentil. Namun, karena ditanya, saya jadi punya alasan menyampaikan. Pertama, tentang kemandirian intelektual ini dilatarbelakangi oleh sebagian, bahkan sebagian besar santri, yang kalau ada persoalan-persoalan yang sangat sederhana, bahkan sudah ada jabawabannya 14 abad lalu di dalam al-Qur’an dan hadits, masih tanya kepada kiai, ustadz, dan semacamnya. Bahkan dalam fikih juga sudah dibahas dan jawabannya jelas. Lalu, apa gunanya mereka jadi santri menghabiskan beras berton-ton dulu itu, kalau menghadapi sesuatu yang sepele begitu tidak tahu solusinya? Kedua, soal kemandirian finansial. Ini berdasarkan pengamatan saya tentang santri-santri yang sudah selesai belajar di pesantren, lalu pulang kampung. Mereka yang tidak memiliki kemandirian finansial, tidak bisa membiayai idealismenya sendiri. Bahkan mereka tidak memiliki aktivitas untuk mengajarkan ilmu yang mereka miliki, karena dipandang sebelah mata oleh masyarakat yang meterialistis. Atau masih ada santri senior yag sudah dianggap kiai di kampung, sehingga dia menjadi yang “berkuasa”. Karena tidak memiliki peran dan tidak mampu membangun peran itu, ilmu yang mereka miliki, pelan-pelan hilang. Kalau sebelumnya mereka dipandang sebelah mata, lalu mereka bahkan tidak dipandang sama sekali. Saya tidak ingin ini terjadi pada santri-santri di masa depan.”
Baladena: “Apa jalan konkret yang telah dibuat untuk mewujudkan itu?”
Abana: “Jalan konkretnya ya membuat metode belajar baru yang bisa meningkatkan prosentase santri-murid yang memiliki kemampuan menguasai khazanah intelektual Islam. Kalau di pesantren konvensional rata-rata tidak lebih 2%. Namun, di Planet NUFO ini, sudah nampak kira-kira 25% yang memiliki harapan. Itu karena kami menggunakan metode baru yang kami sesuaikan dengan perkembangan teknologi saat ini. Misalnya, saya mengoptimalkan teknologi rekaman dengan menggunakan HP. Sederhana saja sebenarnya. Cara memaknai teks al-Qur’an, tafsir, dan hadits, juga kitab-kitab tertentu saya rekam. Lalu rekaman itu diputar terus-menerus sesuai dengan kebutuhan santri. Jadi santri bisa mengulang kapan saja di mana saja. Di sini, ada tempat khusus yang santri bisa datang sewaktu-waktu untuk menyimak. Kalau harus menunggu pak ustadz dan kiai mengajar, ya santri akan minim sekali aksesnya. Dengan mendengar berulang itu, yang memiliki potensi akan bisa. Yang lambat pun tetap memiliki kesempatan, karena tetap bisa mengulang. Yang penting punya kemauan keras. Dan mereka kami cek dengan cara setoran secara personal. Mengenai kemandirian finansial, kami selalu fasilitasi bisnis sesuai dengan kemauan dan kemampuan santri. Kalau mereka menginginkan usaha tertentu, mereka harus mengajukan kepada kami, melakukan kalkulasi bisnis dengan matematika statik. Mereka harus melakukan analisis bisnis secara profesional. Kalau butuh suntikan modal, kalau memang memiliki prospek yang bagus, kami dukung. Dari sinilah mereka akan memiliki pengalaman untuk membangun amal usaha. Dan jika sejak jadi santri sudah terbiasa menghasilkan uang sendiri, maka setelah lulus, mereka akan siap menjadi pengusaha yang hasilnya bisa digunakan untuk mendukung aktivitas dakwah. Klop sudah. Jadi, mengajar dan dakwah tidak berharap amplop. (AH)





