Oleh: Dr. Mohammad Nasih

Pengasuh Pesantren dan Sekolah Alam Planet NUFO Mlagen Rembang; Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ

Kematian sahabat yang sudah seperti kakak saya, Mas Arif Budiman, sehingga saya mengikuti prosesi dari menyolatkan sampai penimbunan liang kubur dengan gumpalan tanah terakhir, membuat saya bertafakkur dan bertadabbur lebih dalam. Orang yang sehari sebelumnya, masih terlihat segar bugar, bahkan masih terjadi proses saling menyemangati dengan saya, hanya berselang beberapa jam pada malamnya sudah tak bisa lagi bernafas. Dan kita semua akan mengalami kematian juga seperti karib saya itu. Hanya waktu, tempat, dan keadaan saja yang berbeda.

Memahami al-Qur’an akan mengantarkan kepada berbagai pandangan yang sangat lapang dan terang. Dengan mengetahui bahwa makin banyak informasi saintifiknya terverifikasi benar, kita akan dituntun untuk menyadari bahwa informasi ghaibnya pun pastilah kebenaran. Hanya saja, untuk membuktikan keseluruhannya, kita harus menunggu kematian kedua terjadi, lalu mengalami kehidupan kedua. Saat itulah, kita baru bisa mengetahui semua yang disampaikan oleh al-Qur’an adalah kebenaran.

Ya, berbeda dengan orang-orang yang tidak percaya kepada kitab suci, orang-orang beriman percaya tentang adanya kehidupan kembali setelah kematian yang sering mereka saksikan. Al-Qur’an menegaskan dengan bahasa yang sederhana tetapi sangat indah bahwa manusia mengalami kematian sebanyak dua kali. Demikian pula kehidupan, juga dua kali.

قَالُوا رَبَّنَا أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَأَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوبِنَا فَهَلْ إِلَىٰ خُرُوجٍ مِنْ سَبِيلٍ

Mereka menjawab: “Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?” (Ghafir: 11).

Baca Juga  PAK NADIEM, BERESKAN GURU! (Surat Terbuka Untuk Mendikbud)

Tanpa al-Qur’an, banyak manusia gagal untuk mencapai pemahaman bahwa ada kehidupan kedua yang bahkan bersifat kekal. Kehidupan pertama menjadi uji kelayakan apakah manusia akan layak mendapatkan derajat kemuliaan karena kebaikan amal, ataukah sebaliknya akan mendapatkan balasan buruk yang menghinakan?

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (al-Mulk: 2).

Yang lebih menarik lagi, Islam membangun konsep perumpamaan dalam tidur dan bangun tidur. Tidur yang sesungguhnya hanya wafat, diibaratkan dengan kematian. Sebab, ada banyak kesamaan antara tidur dengan mati. Karena itulah, di antara doa yang diajarkan oleh Rasulullah saat akan tidur dan bangun tidur adalah sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari ini:

حَدَّثَنَا قَبِيصَةُ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ عَنْ رِبْعِيِّ بْنِ حِرَاشٍ عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ قَالَ بِاسْمِكَ أَمُوتُ وَأَحْيَا وَإِذَا قَامَ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Telah menceritakan kepada kami [Qabishah] telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Abdul Malik] dari [Rib’i bin Hirasy] dari [Hudzaifah bin Yaman] dia berkata; “Apabila Nabi saw. hendak tidur, beliau mengucapkan: ‘Bismika amuutu wa ahya (Dengan nama-Mu aku mati dan aku hidup).’ Dan apabila bangun tidur, beliau mengucapkan: “Al-Hamdu lillahi al-ladzii ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilaihi al-nusyuur (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah tempat kembali).” (HR. Bukhari 5837).

Baca Juga  MENINGKATKAN DIRI MENJADI SOCIOPRENEUR

Dalam konteks ini, Allah memberikan perspektif yang tidak pernah dikemukakan oleh seorang pun yang tidak percaya kepada al-Qur’an.

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. (al-Zumar: 42).

Di dalam ayat ini, Allah menyampaikan konsepsi yang sangat fundamental, yakni tentang perbedaan antara mati dan wafat. Mati pasti wafat, tetapi wafat belum tentu mati. Sebab, orang bisa wafat dalam dua keadaan, yakni: tidur atau mati.

Untuk membangun kepercayaan tentang wafat dan mati, al-Qur’an memberikan dua kasus, yaitu wafatnya ashhabul kahfi di gua selama 309 tahun.

وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا

Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi). (al-Kahfi: 25)

Sungguh di luar kebiasaan. Para pemuda yang sudah tidur selama 309 tahun, bangun kembali. Kisah ini untuk memberikan ibrah tentang masuk akalnya Nabi Isa yang menurut al-Qur’an tidak disalib, melainkan diangkat dan diwafatkan oleh Allah.

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ ۚ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ ۚ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا

dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. (al-Nisa’: 157)

Baca Juga  Lockdown Itu Berat; Tapi Harus! 

بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (al-Nisa’: 158)

Perspektif ini untuk mengarahkan pembaca al-Qur’an bahwa kalau ashhabul kahfi bangkit kembali setelah wafat ratuan tahun, Nabi Isa juga bisa mengalaminya. Dan pada saat bangkit kembali itu akan membela ajaran Nabi Muhammad.

Kembali ke persoalan kematian, dari berbagai ayat yang dikoneksikan ini, sudah nampak betapa Islam memiliki konsepsi tentang kematian dan apa yang akan dialami setelahnya. Karena itu, kita semua harus mempersiapkan diri untuk mengalaminya dan mempertanggungjawabkan kesempatan hidup di dunia ini. Sebab, kematian berjarak paling dekat dengan kita. Siapa pun, akan mengalaminya.

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (al-Anbiya’: 35)

Dunia adalah ladang bagi akhirat. Karena itu, mari kita banyak menanam di ladang kita sekarang. Agar kita bisa memanen lebih banyak untuk kesejahteraan dan kemakmuran dalam alam baka. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Satu Kakiku Mendahului Kembali

Previous article

Elegi Bulan Juni

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi