Elegi Bulan Juni

Takdir semesta tidak selamanya memihak manusia. Adakalanya se-iya dengan pengharapan, adakalanya beda pandangan hingga timbul sebuah ratapan. Namun, bukankah manusia memang tanpa daya? Meski berusaha sekuat tenaga, semesta tetap punya sejuta cara untuk tunjukkan kekuatannya.

Tepat ketika malam-malam di permulaan bulan ini, aku seakan semakin tersadar tentang itu semua. Tentang segala semesta dan rahasianya. Menatap langitnya, seolah memandang sepotong lukisan rencana yang siap untuk direalisasikan bagaimana alur ceritanya. Akankah hitam dan putih atau justru ada gelombang warna yang akan memadupadankan mozaik-mozaik spektrumnya?

Memikirkannya, tidak sedikitpun meruntuhkan sekat-sekat pembeda. Aku manusia. Bukan hanya raga yang membutuhkan suntikan nutrisi, jiwa juga. Aku hidup. Bukan hanya fisik yang membutuhkan daya suplemen, perasaan juga. Keduanya tidak dapat terpisah laiknya kemilau air dengan minyak.

Biarlah hari yang lalu semesta tampil menjadi pemenang. Menguasai jiwa dan raga, fisik pun rasa. Dengan goresan lara, tanpa pikir kali pertama, kedua sampai seterusnya, tidak dapat aku tampik pula ia mengukir secercah sukacita. Meskipun momen itu terbalut elegi di ujungnya, semesta pandai membuat luka sekaligus penawarnya.

Namun bagaimanapun, semesta tetap semesta. Pandai mencipta segala kisah dan kasih. Skenario epik buat manusia. Sebagai lakon, aku akan memerankan apa yang menjadi suratannya. Meski elegi mencekik sangat pelik, tetap harus maju ke depan mempertahankan benteng visi dan misi.

Semisal semesta tidak se-iya, kaki ini tidak akan mundur berbelok langkah. Bukannya aku khianat. Bukan pula pemberontak. Aku hanya menjalankan apa yang kuanggap baik sesuai dengan norma dan susila. Ia tetap akan menjejak kuat ke lantai bumi. Netra akan fokus pada tujuan di depan. Jemari ini tanpa sedikitpun meninggalkan diri untuk menengadah pada-Nya.

Bulan Juni akan menjadi saksi cerita bagaimana semesta mencetak rentetan sejarah. Mengukir takdir dalam lembaran hari demi hari.  Diri ini harus siap dan kokoh menerima. Tidak lupa memperkuat sumber daya agar tidak terjerat ketika semesta membuat luka.

Satu yang pasti, tak akan kubiarkan malam berlalu begitu saja di atas tawa semesta. Meski penuh elegi, Juni tetaplah bulan yang tanpanya semesta tak bermakna.

Venesia Jawa, Juni 2021

Oleh: Azalea, Penikmat aksara bertinta samudera berpena flora.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *