Pada saat awal virus Covid-19 muncul di Cina Tiongkok tepatnya di Wuhan, orang-orang banyak yang berspekulasi bahwa virus ini adalah bentuk hukuman Allah kepada mereka (orang Cina) yang berperan penting dalam penindasan kaum muslim di Ugyur. Ada juga spekulasi yang menyatakan bahwa virus ini datang karena kebiasaan orang Cina yang makan makanan yang menjijikkan dan haram. Entah benar atau tidak, saya tidak bisa memberikan statemen tentang apakah memang benar penyebab-penyebab itu yang menjadikan Allah memberikan bala’ berupa musibah kepada mereka warga Cina. Hanya Allah Yang Maha Tahu jawaban atas segala spekulasi kita. Namun yang jelas, spekulasi negatiflah yang menguatkan batin beberapa warga di Indonesia bahwa virus tersebut layak menimpa warga Wuhan dan sekitarnya.

Namun, setelah virus ini menyebar ke beberapa negara berkembang. Bahkan juga menyerang beberapa negara yang mayoritas berpenduduk beragama Islam, ternyata spekulasi jelek itu pun masih ada dibenak beberapa warga di Indonesia. Ternyata dengan masuknya virus ini ke Indonesia dalam wujud jumlah korban Covid-19 yang semakin meningkat tiap harinya, saya yakin semakin banyak warga yang takut dan khawatir terkena virus ini. Namun yang lebih menakutkan lagi adalah bukan ketakutan yang membawa mereka untuk melakukan beberapa anjuran dari pemerintah. Tapi ketakutan mereka adalah jika mereka terkena virus ini akan dianggap oleh orang lain, khususnya masyarakat sekitar sebagai orang yang hina dan jahat.

Ketakutan yang tidak pada tempatnya saat ini harus segera dihilangkan oleh kita semua. Jika ketakutan ini dibiarkan, maka penyakit dari covid-19 ini pun bisa jadi akan sulit terangkat dari Indonesia, bahkan di bumi kita ini.

Coba kita lihat. Gara-gara ketakutan dan kekhawatiran ini, salah satu orang yang terkena covid-19 di Kota Purwodadi tidak mau berkata jujur ketika diperiksa oleh tenaga medis di RSUD Purwodadi. Gara-gara ketakutan yang berlebih itu, berakibat pada 76 tenaga medis di RSUD Purwodadi harus menjalani rapid test untuk mengantisipasi penyebaran corona (Kompas, 11 April 2020). Padahal 76 tenaga medis tersebut bisa sangat penting perannya untuk membantu penenganan kasus corona di daerah tersebut. Namun, tugas pentingnya pun menjadi tidak terlaksana dengan baik.

Ketakutan yang lebih parah lagi adalah tindakan para warga di Kecamatan Ungaran yang menolak korban virus ini untuk dimakamkan di pemakaman milik warga. Padahal korban tersebut adalah warga asli, bukan penduduk asing. Sungguh sangat disayangkan aksi dari warga yang menolak jenazah korban corona ini. Apakah mereka tidak mau berandai-andai, jika yang meninggal akibat covid-19 adalah saudara mereka, anak mereka, orang tua mereka, apakah mereka masih tega untuk menolak jenazah positif corona?

Baca Juga  Perdebatan Zakat Fithri; Antara Beras dan Uang dan Berapa Ukurannya?

Korban meninggal akibat corona sudah mendapatkan prosedur yang sesuai dari pihak RS dan sudah dipastikan aman, tidak akan menular. Sebab, virus sudah otomatis mati ketika sudah dimakamkan. Namun, lagi-lagi ketakutan masyarakatlah yang saat ini menjadi hal yang harus segera ditangani oleh kita semua.

Mari Lawan Virusnya

Virus ini jangan dianggap sebagai kutukan untuk perseorangan. Jangan beranggapan bahwa yang terkena virus ini adalah mereka yang berdosa besar yang dilaknat oleh Tuhan. Kita bukan Tuhan. Tidak ada hak bagi kita untuk mengatakan bahwa mereka yang terkena virus berarti terlaknat. Jangan pernah berkata seperti itu.

Dalam upaya untuk mencegah penularannya, kecerdasan sangat dibutuhkan dari setiap orang dalam upaya untuk menghindari serangan covid-19. Kita harus bersama-sama melawan gejolak perkembangannya, hindari kegiatan atau perbuatan yang dapat menjadi sarana penularan. Sejatinya, masalah penyakit ini merupakan tanggung jawab bersama dalam upaya untuk mencari solusi pencegahan dan jalan keluar yang terbaik.

Saat ini yang harus bersama-sama kita lakukan adalah melawan virusnya, dengan benar-benar menghindarkan diri kita agar tidak tertular. Dengan cara social distance (menjaga jarak), mencuci tangan dengan sabun, senantiasa membersihkan rumah kita dengan cairan disinfektan (minimal disinfektan buatan sendiri), makan makanan bergizi, banyak makan buah, minum vitamin jika perlu, berolahraga dan khususnya adalah menjaga batin kita dengan baik, agar imunitas kita terjaga dan terhindar dari serangan virus ini.

Jangan Benci Korbannya

Saya sangat sedih ketika mengetahui korban covid-19 yang jenazahnya ditolak oleh warga ternyata adalah seorang perawat yang berjuang dengan sepenuh tenaga dan jiwa untuk menanggulangi virus corona ini. Tapi ternyata warga tidak memberikan penghormatan yang selayaknya diberikan kepada sang pahlawan sejati. Akhirnya jenazah dimakamkan di Bergota, komplek makam keluarga Dr. Kariadi, Kota Semarang. Katanya, makam ini adalah pemakaman yang dikhususkan untuk para pahlawan. Saya semakin bahagia mendengar berita tersebut karena sudah selayaknya perjuangan perawat ini dinobatkan dengan seharusnya, yaitu sebagai Sang Pahlawan.

Baca Juga  Shalat Idul Fitri di Rumah, Ini Panduan MUI

Kisah perawat ini mengingatkan saya dengan kisah jenazah pada masa Sultan Murad IV, salah satu sultan kerajaan Turki. Di dalam buku hariannya, Sultan Turki Murad IV mengisahkan bahwa suatu malam dia merasakan kegalauan yang sangat. Ia ingin tahu apa penyebabnya, maka ia memanggil kepala pengawalnya dan memberitahu apa yang dirasakannya.

Sultan pun mengajak kepala pengawal untuk keluar istananya sejenak. Di antara kebiasaan sang Sultan adalah melakukan blusukan di malam hari dengan cara menyamar. Mereka pun pergi, hingga tibalah mereka di sebuah lorong yang sempit.

Tiba-tiba, mereka menemukan seorang laki-laki tergeletak di atas tanah. Sang Sultan menggerak-gerakkan lelaki itu, ternyata ia telah meninggal. Namun orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya tak sedikitpun mempedulikannya. Kemudian Sultan memanggil mereka. Orang-orang itu tak menyadari kalau orang tersebut adalah Sultan.

“Mengapa orang ini meninggal, tetapi tidak ada satu pun di antara kalian yang mau mengangkat jenazahnya?” tanya Sultan.

“Siapa dia? Di mana keluarganya?” tanya Sultan lagi.

Salah seorang di antara orang-orang itu menjawab, “Orang ini zindiq, suka menenggak minuman keras dan berzina!”

“Tapi, bukankah ia termasuk umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam?” sergah Sultan.

Sejenak orang-orang itu terdiam. Sesaat kemudian, mereka pun bergerak mengangkat jenazah untuk dibawa ke rumahnya.

Melihat suaminya meninggal, sang istripun pun menangis. Orang-orang yang membawa jenazahnya langsung pergi, tinggallah sang Sultan dan kepala pengawalnya.

Dalam tangisnya sang istri berucap pada jenazah suaminya, “Semoga Allah merahmatimu wahai Wali Allah. Aku bersaksi bahwa Engkau termasuk orang yang sholeh.”

Mendengar hal itu, Sultan kaget lalu bertanya, “Bagaimana mungkin dia termasuk wali Allah, sementara orang-orang membicarakan tentang dia begini dan begitu, sampai-sampai mereka tidak peduli dengan kematiannya?”

Sang istri menjawab, “Sudah kuduga pasti akan begini…”

“Setiap malam suamiku keluar rumah pergi ke toko-toko minuman keras. Dia membeli minuman keras dari para penjual sejauh yang ia mampu. Kemudian minuman-minuman itu dibawa ke rumah lalu ditumpahkannya ke dalam toilet, sambil berkata, ‘Aku telah meringankan dosa kaum muslimin’,” kisahnya.

Ia kemudian melanjutkan, “Dia juga selalu pergi menemui para pelacur, memberi mereka uang dan berkata, ‘Malam ini kalian sudah dalam bayaranku, jadi tutup pintu rumahmu sampai pagi”.

“Kemudian ia pulang ke rumah, dan berkata kepadaku, ‘Alhamdulillah, malam ini aku telah meringankan dosa para pelacur itu dan pemuda-pemuda Islam’.”

Baca Juga  Mahasiswa dalam Pusaran Pandemi Covid-19

“Orang-orang pun hanya menyaksikan bahwa ia selalu membeli khamar dan menemui pelacur, lalu mereka menuduhnya dengan berbagai tuduhan dan menjadikannya buah bibir. Suatu kali aku pernah berkata kepada suamiku, kalau kamu mati nanti, tidak akan ada kaum muslimin yang mau memandikan jenazahmu, mensholatimu dan menguburkan jenazahmu. Ia hanya tertawa dan berkata, ‘Jangan takut, bila aku mati, aku akan dishalati oleh sultannya kaum muslimin, para ulama dan para wali’,” tutup sang istri.

Mendengar itu semua, Sultan Murad pun menangis. Ia kemudian berkata, “Benar! Demi Allah, akulah Sultan Murad dan besok pagi kita akan memandikannya, menshalatkannya, dan menguburkannya”.

Demikianlah, akhirnya prosesi penyelenggaraan jenazah laki-laki itu dihadiri oleh Sultan, para ulama, para wali Allah dan seluruh masyarakat.

Dari kisah di atas, mari kita hilangkan ketakutan dan kekhawatiran kita yang berlebihan. Mari satukan tekad kita untuk melawan virus ini dengan menjalankan apa yang sudah dinasehatkan para ahli medis kepada kita.

Jika ada masuk kategori Orang Dalam Pemantauan (ODP), Pasien Dalam Pengawasan (PDP) bahkan yang sudah positif terkena, kita beri semangat kepada mereka. Kita semangati mereka bahwa mereka bisa sembuh. Dengan memberikan semangat batin, bisa menabah imunitas sang korban. Dan harapannya sembuh dari covid-19 ini.

Kalau dulu orang mengatakan bahwa mental yang sehat terletak di dalam badan yang sehat. Maka, Ibnu Qayyim al-Jauziy mengatakan sebaliknya, yaitu kesehatan mental menentukan kesehatan badan.

Karena mental yang sehat menjadikan seseorang mampu memecahkan segenap “keruwetan” batin manusia yang ditimbulkan oleh berbagai kesulitan hidup, serta bisa mendapatkan kebersihan jiwa, dalam pengertian tidak terganggu oleh ketegangan, ketakutan dan konflik batin.

Sebagaimana sabda Kanjeng Nabi Muhammad SAW:
“Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada sekerat daging. Apabila daging itu baik, maka seluruh tubuh itu baik; dan apabila sekerat daging itu rusak, maka seluruh tubuh itu pun rusak. Ketahuilah, daging itu adalah hati.'” (HR. Bukhari) (Ibnu Qayyim al-Jauziy, Ad-Da’u wa Ad-Dawa’. Dar Ibnu Al-Jauzi Li An Nasyri wa At Tauzi’, 2007, hlmn: 23).

Semoga Allah menjaga kita. Semoga kita dan keluarga kita dan semua warga Indonesia mendapatkan anugrah sehat dan afiyat, terhindar dari segala bala’ dan marabahaya. Aaamiin.

Muhammad Abu Nadlir
Direktur Monash Institute Semarang

    Hanya Sebuah Ilusi dan Harapan Semata

    Previous article

    Suara Parpol: Covid-19 vs Pilpres

    Next article

    You may also like

    Comments

    Ruang Diskusi