Oleh: Muhammad Abu Nadlir, Direktur Monash Institute Semarang

Dalam kitab Shahih Ibn Khuzaimah terdapat riwayat yang bersumber dari Salman al-Farisi. Riwayat ini berisi tentang khutbah Rasulullah Saw yang disampaikan di akhir bulan Sya’ban dengan tema menyambut bulan Ramadhan.

Adapun riwayatnya sebagaimana berikut:

عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ، عَنْ سَلْمَانَ الْفَارِسِيَّ، قَالَ: خَطَبَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي آخِرِ يَوْمٍ مِنْ شَعْبَانَ فَقَالَ: “يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيمٌ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، شَهْرٌ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، جَعَلَ اللهُ صِيَامَهُ فَرِيضَةً، وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا، مَنْ تَقَرَّبَ فِيهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ الْخَيْرِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيضَةً فِيمَا سِوَاهُ، وَمَنْ أَدَّى فَرِيضَةً فِيهِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِينَ فَرِيضَةً فِيمَا سِوَاهُ، وَهُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ، وَالصَّبْرُ ثَوَابُهُ الْجَنَّةُ، وَشَهْرُ الْمُوَاسَاةِ، وَشَهْرٌ يُزَادُ فِي رِزْقِ الْمُؤْمِنِ، مَنْ فَطَّرَ فِيهِ صَائِمًا كَانَ لَهُ مَغْفِرَةً لِذُنُوبِهِ، وَعِتْقَ رَقَبَتِهِ مِنَ النَّارِ، وَكَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أَجْرِهِ شَيْءٌ” قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، لَيْسَ كُلُّنَا يَجِدُ مَا يُفْطِرُ الصَّائِمَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” يُعْطِي اللهُ هَذَا الثَّوَابَ مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا عَلَى مَذْقَةِ لَبَنٍ أَوْ تَمْرَةٍ أَوْ شَرْبَةٍ مِنْ مَاءٍ، وَمَنْ أَشْبَعَ صَائِمًا سَقَاهُ اللهُ مِنْ حَوْضِي شَرْبَةً لَا يَظْمَأُ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ، وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ مَنْ خَفَّفَ عَنْ مَمْلُوكِهِ فِيهِ غَفَرَ اللهُ لَهُ وَأَعْتَقَهُ مِنَ النَّارِ. فَاسْتَكْثِرُوا فِيهِ مِنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ، خَصْلَتَانِ تُرْضُونَ بِهَا رَبَّكُمْ، وَخَصْلَتانِ لَا غِنَى لَكُمْ عَنْهُمَا، فَأَمَّا الْخَصْلَتانِ اللَّتَانِ تُرْضُونَ بِهَا رَبَّكُمْ: فَشَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَتَسْتَغْفِرُونَهُ، وَأَمَّا اللَّتَانِ لَا غِنَى لَكُمْ عَنْهُمَا فَتَسْأَلُونَ اللهَ الْجَنَّةَ، وَتَعُوذُونَ بِهِ مِنَ النَّارِ”. (صحيح ابن خزيمة)

Baca Juga  Toleran Dalam Diam

Artinya: Dari Sa’id bin Musayyab dari Salman al-Farisi, ia berkata bahwa Rasulullah Saw. pernah berkhuthbah di akhir hari dari bulan Sya’ban. Beliau Saw bersabda: “Wahai umat manusia! Benar-benar telah memberi keteduhan pada kalian bulan agung yang penuh berkah, yaitu bulan yang di dalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan, Allah menjadikan puasa di bulan ini sebagai ibadah fardhu, ibadah pada malam harinya sebagai ibadah sunnah. Siapa saja yang dalam bulan itu berbuat kebajikan (sunnah) satu kali, maka ia bagaikan yang berbuat ibadah fardhu satu kali pada bulan yang lain. Dan siapa saja yang berbuat ibadah fardhu sekali dalam bulan itu, maka ia bagaikan melakukan ibadah fardhu tujuh puluh kali dalam bulan yang lain. Bulan itu bulan kesabaran dan pahala sabar adalah surga, bulan kepedulian dan bulan ditambahkan rizki bagi orang mukmin. Siapa saja yang dalam bulan itu memberi makanan berbuka kepada orang yang berpuasa, maka ia akan terampuni dosa-dosanya, terbebas dari ancaman api neraka dan mendapatkan pahala yang sama dengan pahala orang yang berpuasa dengan tanpa terkurangi sedikitpun pahalanya”. Kami (sahabat) pun berkata: “Wahai Rasulallah, tidak semua bagi kami bisa memberi sesuatu untuk berbuka kepada orang yang berpuasa. Lalu Rasulullah Saw. bersabda : “Allah memberikan pahala ini kepada orang yang memberi makanan berbuka meskipun berupa seincip air susu, sebutir tamar (kurma kering) atau hanya seteguk air. Siapa saja yang memberi minuman untuk berbuka kepada orang yang berpuasa, maka Allah akan memberinya minuman dari telagaku, minuman yang tidak akan membuat haus dan dahaga sehingga ia bisa masuk ke dalam surga. Bulan itu adalah bulan yang permulaannya merupakan rahmat (kasih sayang), pertengahannya merupakan ampunan dan penghujungnya merupakan keterbebasan dari api neraka. Siapa saja yang memberikan peringanan kepada budaknya dalam bulan itu, niscaya Allah mengampuni dosanya dan membebaskannya dari api neraka. Maka berbanyaklah dalam bulan itu empat hal, yang dua hal dapat menyebabkan kalian memperoleh ridha Tuhan, dan dua hal lainya kalian tidak dapat menghindarinya. Adapun dua hal yang menyebabkan kalian memperoleh ridha Tuhan yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan senantiasa memohon ampun kepada-Nya. Dan adapun dua hal yang kalian tidak bisa terhindar dari padanya yaitu memohon kepada Allah agar mendapatkan surga dan memohon perlindungan dari neraka. (Shahih Ibnu Khuzaimah).

Dari riwayat di atas, bisa dipahami bagaimana Rasulullah Saw. mengingatkan kepada kaum muslimin untuk memanfaatkan bulan Ramadhan semaksimal mungkin. Dalam wujud mengisi kegiatan yang positif. Karena bulan Ramadhan memilki berbagai keistimewaan yang tidak ditemukan di bulan lainnya. Pahala ibadah sunnah di bulan Ramadhan akan disamakan dengan pahala ibadah fardhu, pahal ibadah fardhu akan dikalikan 70 kali lipat. Dan berbagai keistimewan lainnya yang sungguh rugi jika kita tidak mengisi bulan Ramadhan dengan ibadah fardhu maupun sunnah.

Baca Juga  Tahun Baru Momentum Introspeksi Diri

Selain itu, pada bagian akhir khutbah Rasulullah, beliau berpesan agar kita tidak melupakan empat hal selama bulan Ramadhan. Hal yang pertama kali harus kita perbanyak saat bulan Ramadhan adalah bersyahadat. Selain mengucapkan syahadat, memperbanyak bacaan syahadat bermakna senantiasa menguatkan serta memperbarui keimanan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya. Dan puasa adalah termasuk dari perwujudan syahadat kita.

Kompas.com

Kedua, memperbanyak istighfar. Manusia biasa tidak luput dari kesalahan. Rasulullah Saw. yang terjaga dari dosa saja ratusan kali beristighfar tiap harinya. Apalagi di bulan Ramadhan, pintu ampunan dari Allah Swt. terbuka lebar. Sehingga, bulan ini momentum yang tepat untuk semakin berbenah, memperbaiki kesalahan di masa lalu.

Adapun yang ketiga dan keempat yakni meminta surga serta memohon perlindungan dari neraka merupakan doa setiap orang beriman. Pada bulan Ramadhan, pintu langit terbuka, doa-doa yang dipanjatkan dengan tulus oleh seorang hamba akan sampai pada sisi Allah Swt. sehingga akan dikabulkan. Maka dianjurkan bagi kita untuk memperbanyak doa khususnya agar kita kelak mendapatkan surga dan kita terlindung dari siksa neraka.

Demikian khutbah Rasulullah Saw. yang disampaikan pada akhir bulan Sya’ban dalam rangka mempersiapkan penyambutan bulan Ramadhan. Semoga kita bisa mengamalkannya. Semoga bermanfaat.

Wa Allahu a’lamu bi ash-Shawwaab.

Pandemi Bukanlah Halangan untuk Tetap Berkreasi

Previous article

Politikus Golkar: Larangan Minuman Alkohol Rugikan Indonesia!

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi