Ketika Moderasi Hanya Dijadikan sebagai Pajangan

Kenapa moderasi menjadi sangat penting untuk diaplikasikan ketika bermasyarakat? Akan lebih baik jika kita memahami terlebih dahulu konsep moderasi yang sesungguhnya. Seringkali moderasi hanya dijadikan sebagai simbol saja tanpa menjalankan makna-makna yang seharusnya ada. Moderasi akan terlihat tabu apabila tidak dijalankan sebagaimana mestinya.

Moderasi berasal dari kata moderation yang artinya sikap pertengahan atau tidak berlebih-lebihan. Moderasi juga bisa diartikan dengan sikap untuk menengahi. Dalam hal ini, sikap moderasi yang semestinya akan melahirkan sikap tidak berlebihan dan juga kekurangan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, moderasi berasal dari kata moderat yaitu untuk menghindari sesuatu yang ekstrim. Jika moderat dikaitkan dengan penengah sebuah masalah, maka moderat atau moderator merupakan seorang hakim yang harus bertindak secara bijak tanpa memihak siapapun. Hakim bertugas untuk memimpin jalannya acara atau orang yang bertugas untuk mengontrol jalannya diskusi.

Jadi, ketika moderasi disandingkan dengan organisasi, menjadi moderasi berorganisasi, maka istilah ini merujuk pada mengurangi sikap fanatik, menghindari keekstriman dan kekerasan dalam praktik berorganisasi. Gabungan dari dua kata ini diharapkan bisa menjadikan organisasi sebagai prinsip untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat menimbulkan perpecahan, karena sudah seharusnya organisasi menjadi wadah untuk ber moderasi. Organisasi diharapkan bisa menjadi wadah untuk menyatukan keberagaman dari berbagai elemen.

Sikap moderat merupakan suatu sikap yang sangat diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat. Sikap yang menunjukkan kekerasan, ujaran kebencian, mencaci maki merupakan sikap kekanak-kanakan yang harus segera dihilangkan. Apabila sikap ini terus ada dan bahkan mendarah daging pada masing-masing diri atau bahkan instansi, maka akan menggerogoti pemikiran seseorang dalam berlogika. Orang yang terlalu fanatik terhadap golongan/organisasinya, maka dia tidak akan pernah menikmati manisnya keberagaman. Padahal keberagaman merupakan sebuah kekuatan apabila kita memaknainya dengan benar.

Bacaan Lainnya

Akhir-akhir ini, penulis sering menjumpai oknum-oknum yang terlalu fanatik dengan organisasinya. Mereka selalu membenarkan apa yang dianut dan menyalahkan bahkan menganggap radikal kelompok lain. Ekstrimnya lagi, mereka memusuhi dan memerangi kelompok lain yang tidak se visi dengan mereka. Hal semacam ini sering penulis jumpai pada organisasi-organisasi di berbagai lembaga pendidikan tertinggi yaitu universitas. Miris sekali, padahal secara fundamen mereka berasal dari agama yang sama. Kemudian yang menjadi pertanyaan, konsep moderasi yang seperti apa yang mereka anut? Padahal semboyan moderasi telah terpampang nyata berdampingan dengan logo universitas, akan tetapi banyak sekali oknum-oknum tertentu yang tidak selaras dengan jargon itu. Semboyan moderasi seolah hanya menjadi pajangan saja.

Disadari atau tidak, terkadang ketika seorang  sudah fanatik bisa saja tidak menyadari bahwa dirinya sedang fanatik. Dia tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu. Sikap ini muncul semata-mata hanya untuk kepentingan pribadi atau golongan saja. Akibatnya, banyak yang merasa dirugikan atau terasingkan karena perbuatan itu. Na’udzubillah

Wallahu a’lam bi al-Shawab

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *