Belakangan ini, bidang kesehatan mulai menjadi sorotan para masyarakat dan pemerintahan. Bagaimana tidak? Berbagai macam makanan diolah dengan bumbu dan bahan pengawet yang dapat membahayakan tubuh. Bagi sebagian orang, mencegah penyakit memang lebih baik daripada mengobati. Namun, tidak semua orang setuju dengan slogan tersebut. Faktanya, masih banyak orang yang tetap memakan makanan yang jelas tidak baik untuk kesehatan, bahkan dilarang oleh agama islam. Kebanyakan dari mereka selalu mengikuti keinginan dalam konsumsi makanan seperti junk food, makanan pinggiran maupun restoran, dan jenis makanan lainnya.
Tidak jarang masyarakat diingatkan untuk menjaga kesehatannya dengan berbagai macam perilaku sehat. Akan tetapi, hal tersebut terkadang tidak diperhatikan hanya karena ada tetangga atau temannya yang tetap baik-baik saja. Contoh kecil pada tahun 2020 lalu, saat maraknya virus COVID-19. Beberapa orang menyepelekan gerakan yang telah digaungkan oleh pemerintah, yaitu memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, dan menghindari kerumunan. Ada orang yang tidak melakukan hal tersebut dan tidak tertular virus covid, hal ini dijadikan apologi oleh orang-orang yang terbiasa melanggar peraturan. Padahal, peraturan yang demikian dibuat untuk menjaga kesehatan bersama. Bisa jadi orang yang tidak mematuhi peraturan dan tidak tertular itu karena memiliki kekebalan imun yang baik, sehingga mampu menangkal virus yang akan menyerang tubuhnya.
Sistem imun tubuh sangat berpengaruh terhadap kesehatan seseorang, karena begitu sistem imun sedang lemah, maka seseorang akan dengan mudah terkena penyakit. Indonesia hingga saat ini masih mencoba untuk menghadapi masalah kesehatan yang cukup serius, yakni triple burden of malnutrition. Penjelasan singkat dari triple burden of malnutrition yaitu tiga beban masalah gizi, yakni kekurangan gizi, defisiensi (kekurangan) zat gizi mikro dan kelebihan gizi.
Pada hakikatnya, ketiga masalah kesehatan tersebut saling berhubungan. Salah satu contoh dari kekurangan gizi yaitu stunting. Meski prevalensi stunting saat ini mengalami penurunan yang semula 30,8% menjadi 24,4%, akan tetapi hal tersebut tidak boleh dibiarkan begitu saja. Stunting dapat disebabkan oleh defisiensi mikronutrien. Defisiensi mikronutrien merupakan kondisi saat zat gizi mikro (vitamin dan mineral) tidak mencukupi kebutuhan tubuh, sehingga akan menimbulkan berbagai macam gejala penyakit yang tidak diinginkan, bahkan dapat mempengaruhi mental dan IQ.
Stunting juga dapat mengakibatkan obesitas. Bagaimana bisa? Obesitas biasa disebut dengan gizi berlebih, yang ditandai dengan nilai IMT (Indeks Massa Tubuh) yang berkisar di atas ambang batas, yakni >25. Obesitas terjadi akibat asupan energi dan pengeluarannya tidak seimbang, sehingga asupan energi berlebih dan disimpan oleh tubuh dalam bentuk lemak. Obesitas pada umumnya disebabkan karena kurangnya aktifitas fisik dan peningkatan asupan tinggi lemak. Selain itu, metode pemberian makan dan penyapihan mampu membentuk daya terima makanan dan kebiasaan makan anak hingga dewasa.
Beberapa penelitian mengungkap bahwa hal tersebut dikarenakan adanya perubahan metabolik pada semua jaringan dan sistem tubuh anak yang kekurangan gizi. Perubahan demikian dikaitkan dengan penghematan energi dan upaya mempertahankan laju metabolisme anak, sehingga mampu menyebabkan adanya gangguan regulasi asupan makanan. Dengan begitu, anak akan gemar mengkonsumsi makanan tinggi lemak. Akibatnya, energi dari makanan akan menimbun lemak dalam jangka waktu yang lama, terutama di bagian perut.
Menghasilkan generasi gemilang bukanlah suatu hal yang mudah. Hal ini karena membutuhkan persiapan yang sangat matang. Penulis menyebutnya dengan istilah persiapan matang karena dibutuhkan waktu yang relatif panjang. Persiapan harus dilakukan sejak calon orang tua masih menginjak usia remaja. Mengapa demikian? Usia remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa, sehingga tidak menutup kemungkinan akan terjadinya beberapa perkembangan yang meliputi perkembangan fisik, kognitif, kepribadian, dan sosial.
Masa remaja juga disebut “masa pubertas”, yang berasal dari bahasa latin dan berarti “usia menjadi orang”. Dalam masa ini, anak sedang dipersiapkan untuk dapat menjadi individu yang mampu melaksanakan tugas biologis, yakni menghasilkan keturunan dan berkembang biak. Dalam menghasilkan keturunan, seseorang dituntut untuk dapat memiliki keturunan yang berkualitas, sehingga seseorang berlomba-lomba mendirikan sekolah dan lembaga pendidikan lainnya untuk dapat mencapai tujuan tersebut.
Mayoritas orang berpendapat bahwa masa remaja adalah masa yang paling indah dan nikmat, karena hampir dipenuhi dengan kebahagiaan. Ya, memang tidak salah. Akan tetapi, tidak semua remaja selalu merasakan kebahagiaan, tergantung dari sisi mana kita memandang. Jika dilihat dari sisi keinginan yang tidak dikaitkan dengan masa depan, ia akan berfoya-foya tanpa memikir harus memeras keringat demi mendapatkan rupiah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Tetapi jika memandang dari sudut yang dihubungkan dengan masa depan, ia memiliki tanggung jawab yang cukup berat dan dipenuhi berbagai macam tantangan. Ia harus bekerja lebih ekstra, memanfaatkan waktu semaksimal mungkin, dan memiliki kesehatan tubuh yang dapat diandalkan. Untuk dapat memenuhi hal itu, diperlukan pengetahuan tentang gizi, ekonomi, dan daya terima yang cukup.
Indonesia saat ini masih sangat minim SDM yang berkualitas. Faktor utama yang menjadi penyebab yaitu tingkat ekonomi masyarakat yang rendah. Ekonomi yang rendah ini akan terus menyebabkan ketidaksesuaian antara espektasi dengan realita. Orang dengan kalangan ekonomi ke bawah akan terhambat untuk melanjutkan pendidikan, sehingga akan memiliki intelektual yang jauh di bawah rata-rata, dan tidak akan pernah menghasilkan keturunan yang berkualitas. Dan akan terus berputar seperti itu, layaknya sebuah siklus.
Beda halnya dengan orang yang memiliki ekonomi menengah ke atas. Selain bisa mencukupi semua keinginan, kebutuhannya juga tak kalah terpenuhi. Ia dapat bergerak bebas, terutama dalam bidang pendidikan, sehingga mampu melanjutkan ke jenjang yang paling tinggi. Dari jenjang tersebut, ia akan memiliki ilmu pengetahuan yang cukup untuk mempersiapkan masa depannya, sehingga akan memperoleh keturunan yang berkualitas. In Syaa’a Allah.
Wallahu a’lam bi al-shawaab
Oleh: Erina Febri






