Kelas Kosong (Refleksi Seorang Guru)

Kelas Kosong (Refleksi Seorang Guru)

Setiap pagi saya selalu ke sekolah untuk mengajar. Saya masuk ke dalam kelas dan menghidupkan laptop, telepon genggam, mempersiapkan bahan ajar dan mulai mengajar. Saya menyapa para siswa, mengecek kehadiran dan berdiskusi dengan mereka. Proses belajar mengajar berlangsung seperti biasa akan tetapi saya mengajar di sebuah kelas kosong dan siswa-siswi saya berada di layar laptop dan telepon genggam saya.

Hal ini sudah berlangsung selama enam bulan. Saya sering mengingat proses belajar mengajar yang sudah saya jalani selama ini. Setiap pagi mempersiapkan para siswa untuk belajar, mereka berdoa sebelum pelajaran dimulai dan setelah itu mereka mulai belajar. Ada siswa yang terlambat datang, yang lupa membawa buku pelajaran atau buku catatan, yang masih mengantuk, dan yang sudah gelisah untuk berceloteh. Ada juga siswa yang sangat antusias untuk belajar dan senang berdiskusi.

Selain itu saya juga mengenang pada waktu saya memberikan penilaian dan evaluasi terhadap hasil belajar mereka, mempersiapkan rapor dan membagikan rapor. Saya menikmati kebersamaan dengan mereka selama bertahun-tahun. Selain kebersamaan di dalam kelas ada juga kebersamaan di luar kelas, misalnya: menghadiri acara ulang tahun mereka, acara syukuran, dan foto bersama menjelang kelulusan.

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia telah banyak mengubah tatanan  kehidupan kita, dunia pendidikan juga tidak terluput. Larangan untuk  bertemu secara fisik dengan para peserta didik telah membuat para insan pendidik untuk memikirkan bagaimana proses belajar mengajar tetap bisa berjalan tanpa tatap muka. Trimester pertama, bulan Maret sampai Juni,  kami mengadakan proses belajar mengajar dengan menggunakan Whatsapp. Pada tahun pelajaran 2020/2021 kami mulai menggunakan Google Classroom, Zoom, dan tetap menggunakan Whatsapp.

Bacaan Lainnya

Tidak ada yang pernah menyangka akan melihat sekolah dan kelas yang kosong. Para pendidik dan peserta didik berupaya beradaptasi dengan kondisi yang tidak lazim ini. Saya sangat bersyukur keadaan ini terjadi pada waktu kita sudah  bisa menikmati kecanggihan teknologi sehingga kita bisa memanfaatkan teknologi untuk belajar dan mengajar. Meskipun demikian, tidak mudah memberikan motivasi kepada para siswa untuk tetap konsisten belajar tanpa tatap muka.

Peran orang tua sangat besar di dalam menjaga kestabilan emosi dan semangat anak-anak mereka untuk tetap mau bersekolah. Pernah ada teman yang bercerita bahwa anaknya yang masih kelas satu mendadak mogok sekolah karena merasa bosan dan ingin bertemu dengan teman-teman dan guru-gurunya. Dia ingin merasakan suasana belajar yang hidup dan bisa bermain sambil belajar. Saya mengira hal yang sama juga dirasakan oleh para siswa yang lain.

Pada waktu revolusi industri 4.0 masuk ke dalam dunia pendidikan, peserta didik diharapkan untuk memiliki kompetensi: 1) mampu berpikir kritis, 2) mampu berpikir kreatif  dan melakukan inovasi, 3) mampu menjalin hubungan  komunikasi yang baik, 4) berkolaborasi dan memiliki kepercayaan diri. Selain itu kurikulum nasional juga menekankan pentingnya penguatan pendidikan karakter. Hal ini menjadi tantangan bagi para pendidik dan orang tua untuk bisa membentuk anak-anak yang memiliki kompetensi di atas pada masa pandemi seperti sekarang ini.

Saya menekankan peran orang tua di sini karena guru sudah sangat jarang bahkan tidak pernah bertemu dengan para siswa mereka. Guru memberikan motivasi pada waktu belajar dalam jaringan dan perlu didukung oleh orang tua untuk memantau perkembangan para anak. Sama halnya dengan penguatan pendidikan karakter terutama untuk para siswa yang masih berada di PAUD dan Sekolah Dasar. Orang tua dan guru diharapkan mampu menjalin kerja sama yang baik supaya para siswa tetap mendapatkan pembelajaran yang bermakna.

Sebagai penutup saya ingin menyampaikan hal yang menggelitik nurani saya bahwa ada yang mengatakan  pada masa yang  akan datang para guru sudah tidak akan dibutuhkan lagi karena keberadaan mereka sudah bisa digantikan oleh kecanggihan teknologi dan robot. Apakah hal tersebut akan terjadi? Saya meyakini setiap insan membutuhkan insan yang lain untuk bertumbuh dan berkembang.

Kita membutuhkan ‘sentuhan yang manusiawi’ dalam setiap fase hidup kita. Untuk mengetahui hal di atas akan terjadi atau tidak saya kira kita perlu melihat perkembangan manusia baik secara fisik dan psikis di masa yang akan datang. Semoga anak-anak kita akan bertumbuh menjadi orang-orang yang cerdas, bijaksana dan mampu menjadikan bumi sebagai tempat yang lebih nyaman untuk dihuni.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *