Oleh: Renny Yuliarti, Guru bidang study Ilmu Pengetahuan Sosial pada MTsN 5 Merangin provinsi Jambi
Sejarah merupakan gambaran peristiwa masa lampau yang dialami oleh semua manusia, disusun secara ilmiah yang meliputi urutan waktu yang diberi tafsiran dan analisa kritis sehingga mudah dipahami dan dimengerti. Manusia sebagai makhluk sosial tak lepas dari peristiwa masa lampau karena masa lampau merupakan bagian hidup manusia yang dapat digunakan sebagai cerminan untuk masa sekarang dan masa yang akan datang.
Sejarah bagi suatu bangsa adalah suatu tatatan kenangan dari bangsa itu sendiri, bukan hanya untuk diketahui tapi dari sejarah itulah suatu bangsa menikmati hidup. Bangsa yang tidak mengetahui sejarah adalah bangsa yang tidak punya jati diri. “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah” tutur Bung Karno sang proklamator Indonesia.Alqur’an memiliki kandungan Sejarah kaum terdahulu yang wajib kita baca,pahami dan amalkan.
Sejarah adalah guru kehidupan, Historia Vitae Magistra. Untuk mempelajari sejarah diperlukan sumber-sumber sejarah baik lisan, tulisan maupun sumber lainya. Dengan mengadakan penelitian terhadap sumber sejarah tersebut diharapkan semua peristiwa dalam perkembangan manusia maupun peristiwa dalam lingkungan yang lebih luas dapat saling berhubungan. Indonesia negeri yang kaya akan nilai sejarah, karena banyak sumber sejarah bernilai tinggi yang harus dilestarikan. Salahsatu sumber dan peninggalan sejarah yang perlu digali dan dilestarikan adalah mengenai sejarah kota.
Sejarah kota belum banyak mendapat perhatian dari kalangan sejarawan akademis, termasuk karya ilmiah, artikel di surat kabar, jurnal umum dan skripsi-skripsi pada Perguruan Tinggi yang mengajarkan mata kuliah Sejarah. Hal ini mungkin disebabkan kurangnya kepercayaan terhadap kekayaan sejarah kota yang merupakan sumber khasanah bangsa dan tidak adanya perhatian terhadap kota sebagai kajian sejarah tersendiri., padahal sejak abad ke-20 kota-kota di Indonesia sudah mengambil alih banyak kegiatan dari pedesaan. Pergeseran dari desa ke kota terjadi bersamaan dengan perubahan sosial dalam masyarakat. Pergerakan sosial yang berkembang di kota-kota mempunyai ciri-ciri yang berbeda dari pergerakan sebelumnya.
Permasalahan yang menjadi bidang kajian sejarah kota sebenarnya sangat luas sekali. Keluasan itu mendorong penulis sejarah kota untuk memikirkan definisi pada bidangnya. Dari satu segi sejarah kota dapat dimasukan kedalam sejarah lokal tetapi dari segi lainnya dapat juga dimasukan kedalam sejarah ekonomi, sejarah politik, demografi dan sebagainya.
Untuk menghindarkan ketumpang tindihan dalam penulisan sejarah kota tentu kita sebagai penulis sejarah perlu membatasi garapan mengenai masalah sejarah kota, dengan maksud mengembalikan bidang sejarah kota kepada gejala kekotaan yang khas dan menekankan kota sebagai pusat perhatian sejarah. Kota merupakan tempat bermukimnya warga, tempat bekerja, tempat kegiatan ekonomi, pusat pemerintahan dan pusat kegiatan lainnya yang mengalami perkembangan fisik berupa sarana dan prasarana yang dibutuhkan masyarakat. Kota merupakan sebuah satu kesatuan yang secara sah, berdiri sendiri dan patut mendapat kajian tersendiri pula. Sebuah kota yang ideal tentu mempunyai ciri-ciri tersendiri, sekaligus menunjukan tentang keberadaan sejarah kota itu sendiri.
Secara umum kota-kota di Indonesia sebagian besar berkembang dari pusat kerajaan dan pusat administrasi pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Lambat laun kota tersebut berkembang sesuai dengan lingkungan fisik, ekonomi, sosial dan budayanya. Perkembangan kota di Indonesia dapat dilihat dari berbagai sektor, diantaranya sektor pertanian, pertambangan, perindustrian, perdagangan, pendidikan dan kebudayaan.
Padangpanjang merupakan salah satu kota pusat pendidikan Islam yang memiliki sumber dan peniggalan sejarah yang perlu digali dan dilestarikan untuk memperkaya khasanah sejarah Indonesia khususnya khasanah sejarah Sumatera Barat.Padangpanjang merupakan salahsatu kota di Sumatera Barat yang kaya akan nilai sejarah. Penulisan dan penelitian mengenai sejarah kota Padangpanjang sebenarnya telah dilakukan oleh para sejarawan lokal maupun nasional, tetapi tidak difokuskan kepada perkembangan kota Padangpanjang sebagai kota berbasis pendidikan Islam di Sumatera Barat.
Pada masa gerakan reformasi Islam gelombang kedua di Minangkabau, Padangpanjang merupakan kota yang sangat berpengaruh besar dalam gerakan tersebut. Tokoh gerakan reformasi Islam pada masa itu antara lain DR.H. Abdullah Muhammad, Syekh Muhammad Jamil Jambek dan DR. H. Abdull Karim Amrullah. Mereka menyadari bahwa sistem pendidikan sekolah agama tradisional dan sistem pendidikan Hindia Belanda sangat tidak sesuai dengan hati nurani masyarakat Minangkabau.
Masyarakat menuntut didirikannya sekolah-sekolah modern tetapi terdapat pelajaran agama Islam. Hal ini tidak dapat terpenuhi oleh pemerintah Hindia Belanda maupun kaum tradisionalis. Dengan alasan gerakan pembaharuan Islam tersebut dan untuk mempercepat penyebaran gagasan pembaharuan Islam maka para reformis mendirikan sekolah berbasis pendidikan Islam.
Sekolah Islam modern pertama adalah sekolah Adabiyyah didirikan oleh H. Abdullah Ahmad pada tahun 1909 di kota Padang. Pelajaran agama dan pelajaran umum diberikan sekaligus. Pada mulanya sekolah ini diharapkan mampu mempertahankan identitasnya sebagai sekolah reformis dan berhasil mencapai tujuan utamanya, memberikan pendidikan yang lebih baik bagi kaum muslimin di Minangkabau. Namun setelah sekolah ini disubsidi oleh Pemerintah Hindia Belanda menyebabkan sekolah Adabiyyah menyimpang dari tujuan semula.
Sistem pembelajaran disekolah ini diubah dan disesuaikan dengan sistem pembelajaran pada sekolah Pemerintah Hindia Belanda yaitu setara dengan HIS (Hollandsch Inlandshe School ) dan lebih banyak mempelajari pelajaran umum dari pada pelajaran agama Islam. Sejak saat itu sekolah Adabiyyah tersingkir dari kegiatan-kegiatan para reformis, walaupun demikian Adabiyyah merupakan sekolah pertama yang menggunakan sistem klasikal di Minangkabau. Upaya selanjutnya yang dilakukan para reformis adalah mendirikan sekolah–sekolah modern di kota Padangpanjang.
Padangpanjang menjadi termasyur semenjak berdirinya Madrasah Sumatera Thawalib yang didirikan oleh Syekh Abdul Karim Amrullah, ayahanda buya Hamka, kemudian berdiri pula Madrasah Diniyyah yang didirikan oleh Zainuddin Labay Al-Yunusi, menyusul pula berdirinya Madrasah Diniyyah Putri 1922 didirikan oleh encik Rahmah Al-Yunusiah (adik Zainuddin Labay AL-Yunusi). Kedua bersaudara ini adalah murid Syekh Abdul Karim Amrullah, disusul berdiri dengan berdirinya Madrasah Irsyadunnas yang didirikan oleh ustadz Adam BB. Kota Padangpanjang menjadi ramai oleh kedatangan pelajar-pelajar dan para penuntut ilmu yang datang dari berbagai daerah di kawasan Nusantara seperti Aceh, Tapanuli, Bengkulu, Palembang, Lampung, Makasar, bahkan juga terdapat pelajar dari Semenanjung Melayu.
Padangpanjang tidak hanya terkenal sebagai kota pendidikan Islam di Sumatera Barat, tetapi Padangpanjang juga merupakan pusat Gerakan muda (ulama aliran muda ) Minangkabau, karena perintis kader-kader Gerakan Muda kebanyakan ialah para ulama muda yang telah mengenyam pendidikan di Sumatera Thawalib. Walaupun tokoh gerakan muda terdapat diseluruh di Minangkabau seperti syekh Djamil Jambek di Bukittinggi, Syekh Abdullah Ahmad di Padang, Syekh Ibrahim Musa diParabek Bukittinggi, Syekh Abbas Abdullah dan Syekh Mustafa Abdullah diPayakumbuh, Syekh Daud Rasyidi di Balingka, tetapi dirasakan oleh masyarakat Minangkabau pusat gerakan muda adalah di kota Padangpanjang karena dikota inilah berdiri lembaga-lembaga dan sekolah-sekolah Islam yang tumbuh dan berkembang dengan pesat serta menghasilkan alumni yang berkwalitas pada tataran lokal, nasional bahkan internasional.
Beberapa sekolah dan perguruan Islam yang melambungkan Padangpanjang sebagai kota berbasis pendidikan Islam antara lain : Diniyyah School dan Madrasah Diniyyah, Berdiri di kota Padangpanjang yang dirintis oleh Zainuddin Labay Al-Yunusi pada tanggal 10 Oktober 1915. Sekolah ini mempunyai tujuh kelas, menampung anak laki-laki dan perempuan (ko-edukasi) dan memperkenalkan sistem klasikal. Diniyyah school memakai nama modern bahasa Arab dan bahasa Inggris dengan tujuan menegaskan pada masyarakat Islam dan kaum adat Minangkabau bahwa sekolah ini dilaksanakan dengan cara modern sama halnya dengan sekolah rendah pemerintah Hindia Belanda, HIS (Hollandsch Inlandshe School).
Diniyyah School mendapat perhatian dari masyarakat Minangkabau dan Pemerintah Hindia Belanda., sehingga Diniyyah School Padangpanjang. mampu menyebarkan sistem pembelajaran klasikal pada 15 sekolah di Minangkabau. Kurikulum pelajaran umum seperti Bahasa, termasuk Bahasa Inggris, Matematika, Sejarah, Geografi juga dipelajari di Diniyyah School disamping kurikulum pelajaran Islam.Diniyyah School memiliki cabang-abang diberbagai daerah seperti di Solok, Silungkang, Sawahlunto, Payakumbuh, Pariaman dan daerah lainnya di Minangkabau.
Pada tanggal 18 Februari 1922 Zainuddin labay Al- Yunusi mendirikan Persatuan Murid Diniyyah School (PMDS) dengan tujuan agar pelajar-pelajar Diniyyah School yang ada diMinangkabau dapat bersatu dalam suatu wadah perkumpulan memupuk ukhuwah islamiah. Organisasi PMDS ini menerbikan majalah Tunas Diniyyah dengan tujuan mendekatkan anggota pelajar yang tergabung dalam PMDS. PMDS mengalami perubahan yaitu PMDS Poetra dan PMDS Poetri. Tahun 1923 dibentuk pengurus besar PMDS yang berkedudukan di Padangpanjang. PMDS Poetra dipimpin oleh M. Yatim Latief dan PMDS Poetri dipimpin oleh Rahmah Al-Yunusiah.
Sumatera Thawalib merupakan organisasi pelajar dari kelompok gerakan pembaharuan agama dan pendidikan Islam. Organisasi ini bermula dari kelompok pengajian agama di surau Jembatan Besi Padangpanjang yang dipimpin oleh ayahanda Buya Hamka, Syekh Abdul Karim Amrullah. Pengajian di surau Jembatan Besi mengutamakan hukum Islam (Al-fiqh) yang berisi tentang fatwa dari keempat aliran hukum mengenai yuresprudensi Islam. Sekitar tahun 1915 dilaksanakan rapat umum yang dihadiri oleh tokoh masyarakat, dalam rapat tersebut hadir seorang tokoh muda yang bernama Bagindo Jamaluddin Rasyad yang baru kembali dari Eropa, beliau berpidato tentang pentingnya sebuah organisasi untuk mencapai tujuan bersama. Walaupun Bagindo Jamaluddin Rasyad bukan seorang tokoh agama namun pidato beliau sangat menggugah peserta rapat khususnya anggota pengajian surau Jembatan Besi.
Atas inisiatif salahsatu anggota pengajian surau Jembatan Besi maka pada tahun 1916 dibentuklah suatu perkumpulan dengan nama “Perkumpulan Sabun” yaitu sebuah organisasi yang bergerak dibidang koperasi dengan menyediakan kebutuhan sehari-hari dan alat-alat tulis sekolah seperti sabun, sikat gigi, pasta gigi, buku-buku, pena, pensil, tinta dan lain-lain untuk para pelajar di kota Padangpanjang. Dalam perkembangannya, Perkumpulan Sabun sudah menyediakan kebutuhan untuk menjahit pakaian, mencukur rambut, menyeterika pakaian dan memiliki pegawai tetap yang digaji organisasi.
Pada tahun 1918 nama Perkumpulan Sabun dubah menjadi “Sumatera Thawalib”. “Sumatera” berarti pelajar-pelajar kecil Sumatera, “Thawalib” karena anggotanya terdiri dari pengurus sekolah, pelajar-pelajar, guru bantu, para pedagang lokal dan alumni anggota pengajian surau Jembatan Besi. Kurikulum pada sekolah Sumatera Thawalib juga mempelajari pelajaran umum dan pelajaran agama Islam tetapi masih memakai sistem Halaqah yaitu siswa belajar mengelilingi guru.
Akhirnya tahun 1916 merubah sistem pembelajaran dari sistem Halaqah ke sistem klasikal. Sumatera Thawalib merupakan organisasi Islam yang tidak hanya berdiri di Padangpanjang saja tetapi organisasi ini bergabung dengan sekolah Sumatera Thawalib yang didirikan oleh Syekh Ibrahim Musa Parabek di Bukittinggi yang bekerja sama dengan Syekh H.. Abdul Karim Amrullah. Pada awalnya Syekh H. Abdul Karim Amrullah bekerjasama dengan Syekh Ibrahim Musa dalam mendirikan perkumpulan “Jaminatul Ikhwan dan Muzakraatul Ikhwan “ tetapi akhirnya tergabung dalam Sumatera Thawalib. Perkumpulan Sumatera Thawalib Padangpanjang mempunyai majalah yang bernama “Al-Munir Al-Manar”, pimpinan Redaksi Zainuddin Labay Al-Yunusi. Majalah ini tidak berumur panjang karena terbentur masalah dana sampai akhirnya Zainuddin Labay Al-Yunusi wafat tahun 1924.
Diniyyah School Poetri, berdiri pada hari kamis 1 November 1923 di Padangpanjang oleh Rahmah Al-Yunusiah. Pada awalnya sekolah ini bernama “Madrasatul Lil Banat”. Dikalangan kaum cendikiawan pada waktu itu dikenal dengan “Meisjes Diniyyah School” nama ini diasosiasikan dengan nama “Meisjes Velvolg School “ dan “Normal Shcool”. Tiga tahun pertama berdirinya Perguruan Diniyyah Poetri ini menitik beratkan pada pemberantasan buta huruf dikalangan ibu rumah tangga dan remaja putri, tetapi dalam perkembangannya lebih dikenal dengan “Sekolah Menyesal “. Tempat belajar mula-mula adalah suatu bangunan yang terdapat idserambi pasar usang Padangpanjang berseberangan dengan rumah Rahmah Al-Yunusiah dan akhirnya pindah kerumah Rahmah sendiri, semua murid tinggal diasrama dan langsumg menjadi tanggungjawab Rahmah.
Usaha-usaha lain yang dilakukan Rahmah Al-Yunusiah dalam memajukan Perguruan Diniyyah School, mendirikan “Kulliyatul Banat”. Kulliatul Banat mengundang simpati masyarakat dalam dan luar negeri. Berkat usaha Rahmah dalam dunia pendidikan kewanitaan, Rahmah diundang oleh Rektor Universitas Al-Azhar untuk berkunjung ke Mesir dan memperoleh gelar “Syekhah” dari Rektor Universitas Al-Azhar.
Keterkenalan sistem pendidikan di Kulliatul Banat mengharumkan perguruan Diniyyah poetri Padangpanjang sehingga banyak remaja putri dan kaum wanita. yang menuntut ilmu kekota Padangpanjang bahkan ada yang berasal dari luar negeri seperti Malaysia dan Brunai Darussalam. Dalam memperingati 15 tahun berdirinya Perguruan Diniyyah poetri, Rahmah Al-Yunusiah diberi penghargaan dengan gelar sebagai “Kartini Gerakan Islam”.Tampaknya Rahmah lebih beruntung dari Ibu Kartini karena dapat merealisir cita-citanya sendiri dan mempunyai kesempatan menghayati jerih payahnya dalam memajukan pendidikan Islam dan pendidikan kaum wanita di Padangpanjang khususnya dan Minangkabau umumnya.
Perguruan Muhammadiyah, Pergerakan Muhammadiyah mulai mengembangkan sayapnya didaerah Minangkabau pada tahun1924 di Sungai Batang Maninjau., sebelum datangnya organisasi Muhammadiyah di Sungai Batang sudah berdiri perkumpulan Islam dengan nama ‘SENDI AMAN TIANG SELAMAT” yang didirikan oleh Haji Abdul Karim Amrullah, ayahanda Buya Hamka dan dipimpin oleh Muhammad Amin gelar Datuak Penghulu Besar dan H.Yusuf Amrullah, paman Buya Hamka. Cita-cita Muhammadiyah dan “SENDI AMAN TIANG SELAMAT” sangat sama terutama perihal mengembangkan agama Islam sesuai dengan Alqur’an dan Sunnah Rasul. Oleh karena itu Muhammadiyah didirikan di Sungai Batang, Maninjau sebagai cabang dari Muhammadiyah Yogyakarta yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan.
Dengan bantuan dana dari para perantau, Haji Abdul karim Amrullah mendirikan Sekolah dasar Muhammadiyah pertama di Minangkabau. Dalam waktu singkat sekolah tersebut maju dengan pesat dan berhasil merekrut beberapa lulusan Sumatera Thawalib Padangpanjang menjadi tenaga pengajar. Pada tahun 925 Sekolah Dasar Muhammadiyah mempunyai murid sebanyak 250 orang. Dalam perkembagan selanjutnya dengan dukungan masyarakat dan para perantau, Muhammadiyah berkembang di penjuru Minangkabau, salahsatunya di kota Padangpanjang.
Pendirian sekolah Muhammdiyah diPadangpanjang dipelopori oleh Buya Hamka, Saalah Yusuf Sutan Mangkuto dan M.Rasyid Sinaro Panjang. Kecaman pertama yang dihadapi Muhammadiyah Padangpanjang datang dari pelajar Sumatera Thawalib yang berhaluan Komunis. Sementara itu bagi pemerintah Hindia Belanda, Muhammadiyah menjadi salahsatu sasaran utama untuk dicurigai karena pemerintah Hindia Belanda mencurigai tokoh-tokoh pendiri Muhammadiyah yang akan melakukan pergerakan melawan kebijakan pemerintah Hindia Belanda. Namun kecurigaan Belanda dapat diredam. Dalam perkembangannya Muhammadiyah memiliki cabang di Simabur, Payakumbuh, Kubang, Suliki, Solok dan daerah lainnya di Minangkabau sehingga kota Padangpanjang menjadi pusat Muhammadiyah diMinanagkabau.
Kulliyatul Muballighin, pada tahun 1935 didirikan Kulliyatiul Muballighin dikota Padangpanjang. Lokasi Kulliyatul Mubalighin terdapat dalam kompleks Muhammadiyah di Guguak Malintang yang merupakan bekas hotel Merapi milik seorang Nyonya Indo-Eropa yang disewakan kepada Muhammadiyah, ketika beliau akan meninggal dunia, tempat tersebut diberikan kepada Muhammadiyah. Pada awal tahun 1936 Kuliatul Muballighin dikendalikan dan dimiliki oleh Muhammadiyah. Kulliatul Muballighin merupakan perguruan untuk mencetak kader-kader Islami yang bermoral dan mempunyai dedikasi yang tinggi terhadap perkembangan Islam. Perguruan Kulliatul Mubalighin dikhususkan untuk tamatan Sumatra Thawalib, Diniyyah School dan Irsyadunnas atau sekolah tinggat menengah atas yang mempunyai kecakapan sederajat dengan sekolah tersebut.
Pada awal Kulliyatul Muballighin dibuka, pelajar belum begitu banyak sekitar 30 orang terdiri dari dua kelas, kelas satu dan kelas Tajhizi atau kelas persiapan. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan dua kali sehari, pertama diwaktu pagi dan kedua diwaktu malam sesudah Isya. Guru yang mengajar antara lain Buya Hamka, Buya A.R Sutan mansyur, Abdullah Kamil dan Saalah Yusuf Sutan Mangkuto. Ketika memasuki tahun kedua, dimulai perbaikan-perbaikan,baik dalam kurikulum maupun dalam pembaharuan-pembaharuan lain yang dirasa perlu,seperti pembaharuan kurikulum.
Kurikulum Kulliatul Mubalighin dibagi menjadi empat kelompok yaitu Agama, Bahasa, Pengetahuan Umum dan Keguruan Dakwah serta Kepemimpinan. Kurikulum disesuaikan dengan perkembangan dan kemajuan zaman dan tenaga pengajar pun berasal dari guru-guru yang berpengalaman dibidangnya. Dari tahun ketahun Kulliyatul Muballighin menghasilkan mahasiswa-mahasiswa yang berilmu pengetahuan dan beriman berkat Buya Hamka dan kawan-kawan. Sehinnga Padang panjang menjadi kota pendidikan Islam pencetak generasi Islam yang tangguh dan modern diMinangkabau.
Tapak Tilas Padangpanjang Sebagai Kota Berbasis Pendidikan Islam di Ranah Minangkabau (Suatu Tinjauan Historis) merupakan sejarah lokal yang perlu dilestarikan. Garapan mengenai sejarah kota merupakan kekayaan yang tidak akan pernah habis sebagai kajian sejarah.Banyak sekali kemajuan-kemajuan mengenai perkembangan kota pada awal abad ke 20. Dengan sumber teoritis dan metodolodis yang memadai, kekurangan-kekurangan dalam sumber sejarah dapat diatasi. Sejarah kota sungguh merupakan garis depan dari penulisan sejarah lokal dan sejarah Nasional bagi bangsa Indonesia.
Kekhasan suatu kota hendaklah menjadi pokok dalam penulisan sejarah kota. Penggolongan tentang kekhasan suatu kota didasarkan pada fungsi, struktur, mata pencarian, tipe masyarakat, jumlah penduduk, besar kecilnya kota dan sebagainya. Penggolongan kota berdasarkan fungsinya antara lain kota sebagai pusat produksi, pusat perdagangan dan perniagaan, pusat pemerintahan, pusat pendidikan dan kebudayaan, pusat kesehatan, pusat rekreasi dan wisata. Dengan demikian kota Padangpanjang termasuk sebagai kota pusat pendidikan dan kebudayaan yang berbasis Islam di Sumatera Barat.
Dikota Padangpanjang berdiri lembaga-lembaga dan sekolah-sekolah Islam yang tumbuh dan berkembang dengan pesat serta menghasilkan alumni yang berkwalitas pada tataran lokal, nasional bahkan internasional. Beberapa sekolah dan perguruan Islam yang melambungkan Padangpanjang sebagai kota berbasis pendidikan Islam, sehingga dengan latar belakang sejarah ini, menjadi dasar Padangpanjang dijuluki sebagai kota Serambi Mekkah. Padangpanjang sebagai kota Serambi Mekkah diresmikan pada tanggal 21 maret 1990 atas persetujuan Dewan Perwakilan Daerah Padangpanjang. Kota Serambi Mekkah dan kota pendidikan Islam adalah dua predikat yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan dengan lainnya.
Semoga kita sebagai bangsa yang menghargai Sejarah, bangsa yang mempunyai jati diri, dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari penulisan “Tapak Tilas Padangpanjang Sebagai Kota Berbasis Pendidikan Islam di Ranah Minangkabau (Suatu Tinjauan Historis)“ demi kemajuan sejarah lokal Sumatera Barat yang bernuansa islami dan demi kemajuan sejarah Nasional. “Historia Vitae Magistra”.





