Buku Karya Anak Monash
Baladena

Sebagaimana kita ketahui kutu buku untuk saat ini lebih identik dikatakan seseorang yang rajin belajar dan membaca, baik itu untuk seorang pelajar maupun mahasiswa yang dalam proses menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Kutu buku yang diistilahkan pada pelajar merupakan partner istimewa bagi diri seorang pelajar, karena ia telah memilih berteman dengan buku-buku dengan mengurangi kesenangan masa remaja. Seorang pelajar yang ingin maju, ia berusaha berkorban meninggalkan apa yang dicari remaja pada usia mereka, untuk mencapai cita-cita.

Begitu pun halnya dengan mahasiswa bukan lagi merupakan partner istimewa tapi telah melebihi dari yang dimiliki pelajar yaitu teman mencapai masa depan. Waktu-waktu yang dilalui tiada tanpa buku, setiap hari suguhannya ialah buku. Bermacam-macam buku yang dapat dibaca, tanpa memilih buku-buku yang akan dibaca, tentunya buku-buku yang dapat menambah pengetahuan dan wawasan mahasiswa serta bermanfaat.

Penulis berpendapat tidak ada buku yang dibaca tanpa ada manfaatnya. Dapat kita umpamakan pada hal yang ringan saja yaitu membaca cerita anak-anak, sebagian mahasiswa tentu beranggapan tidak ada gunanya membaca cerita anak-anak, anggapan itu tentu keliru. Perlu juga kiranya dibaca cerita demikian sekali waktu guna mengenang/mengingat cerita di waktu kecil sekaligus untuk mengendurkan urat-urat syaraf dari kesibukan sehari-hari.Meskipun buku-buku dari jenis fiksi terkhusus pada mahasiswa yang berkecimpung dalam jurusan bahasa dan seni.

Dengan menyempatkan  membaca buku fiksi akan memberikan variasi diantara buku-buku yang bersifat ilmiah yang selama ini ditekuni. tanpa memilah bahan bacaan yang akan dibaca karena selalu memberi manfaat. Dengan membaca jenis buku yang bervarian seperti buku-buku mengenai fiksi atau non fiksi akan dapat memperingan daya pikir untuk beberapa saat.

Baca Juga  HMI, Literasi dan Perjoeangan Kita

Semakin banyak mahasiswa membaca buku akan semakin kaya lah ia dengan ilmu, buku-buku yang dibaca akan menimbulkan inspirasi baru bagi mahasiswa yang rajin membaca dan memperluas wawasan nalar serta memperdalam ilmu yang sedang ditekuni. Namun semua itu tidak terlepas dari kemauan yang kuat dan kerajinan mahasiswa untuk mendapatkan buku-buku. Buku merupakan sahabat bagi mahasiswa sehingga mahasiswa yang rajin membaca bukti disebut dengan kutu buku. Bahkan yang lebih parah lagi mahasiswa yang membawa buku di tangan sempat digelari pustaka berjalan. Walaupun ini suatu gelar baru bagi mereka yang rajin atau suatu cemoohan yang dapat menjadikan hambatan bagi mahasiswa yang memang akrab dengan buku. Sebagai mahasiswa yang ingin maju janganlah surut dan ciut dengan berbagai hambatan tersebut, anggaplah itu suatu tantangan untuk lebih rajin lagi membaca. Seperti pendapat diatas bahwa setiap buku yang dibaca memberi manfaat,  tetapi hendaknya kita menyesuaikan tingkatan umur dengan pemahaman buku yang dibaca. Sekali-kali dapat juga dilakukan variasi bahan bacaan seperti contoh diatas.

Dari sekian banyak mahasiswa yang memiliki buku yang tadinya sahabat bagi mahasiswa akan menjadi musuh juga  bagi mahasiswa. Buku-buku yang banyak itu jika tidak dibaca hanya merupakan koleksi atau pajangan di rak yang menandakan kita mahasiswa harus memiliki buku yang banyak, tanpa dibaca akan merugikan mahasiswa itu sendiri, karena buku-buku akan menjadi santapan bagi kutu buku yang seolah-olah kutu buku juga berpacu dalam mendapatkan makanan.

Baca Juga  Belajar Hidup Bersih kepada Singapura

Kutu buku adalah binatang yang hidup dan menetap di sela-sela buku karena itu dinamakan kutu buku. Kita sering merasa kesal apabila tumpukan buku-buku menjadi rusak dan berlubang-lubang karena ulah binatang kecil itu. Dimana-mana kutu buku akan selalu mendatangkan gangguan dan kerugian kepada kita. Kutu buku sering timbul pada buku-buku lama yang jarang dibaca.

Nah! jika anda tidak ingin dikalahkan oleh kutu buku rajin-rajinlah membaca atau mempergunakan buku. Rawatlah buku dengan baik, supaya buku-buku anda tidak menjadi santapan kutu buku. Sebaiknya anda dahulu menyantapnya. Dengan begitu anda telah beruntung dua kali, mampu mendapatkan gelar kutu buku dan mengalahkan kutu buku. Okey! Yok! Kita berlomba menjadi kutu buku sekaligus membasmi musuh buku! Dengan begitu anda telah mencintai buku. Kutu buku bukanlah pencinta buku!

*Oleh: Soni Yarsi, guru SMP  Negeri 2 Bagan Sinembah.

Redaksi Baladena
Jalan Baru Membangun Bangsa Indonesia

Tapak Tilas Padangpanjang Sebagai Kota Berbasis Pendidikan Islam di Ranah Minangkabau

Previous article

Sepotong Kenangan

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Gagasan