Intelektual Menara Gading

Adalah sebuah kewajaran jika sebagian besar masyarakat menaruh harapan besar kepada kaum intelektual/cendekiawan. Lebih tepatnya lagi, terkait masa depan bangsa yang lebih cerah dan gilang-gemilang.

Di pundak para intelektual pula tersemat tugas dan tanggung jawab mengentaskan ragam persoalan. Apalagi, tidak semua orang berkesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi. Tidak salah jika intelektual kampus menjadi aset bangsa yang digadang-gadang bakalan menjadi garda terdepan perubahan sosial.

Bukan hanya konseptor, tapi juga aktor utama yang terjun memberikan solusi ampuh. Melihat persoalan masyarakat dari sudut paling dekat. Dari akar rumput. Menyelami betul. Bukan di atas kertas belaka.

Sekali lagi, bukan sebaliknya, hanya mengamati dan mengkritisi dari menara gading. Namun, bersedia terlibat langsung memecahkan ragam persoalan. Dalam hal ini, tidak ada jarak antara realitas sosial dengan intelektual. Sebab, faktanya yang mencuat yaitu sebagian akademisi atau intelektual hanya sibuk menggelar kajian, diskusi, seminar, pelatihan jurnal ilmiah, dan semacamnya tanpa menceburkan diri di dalam persoalan yang sebenarnya.

Apalagi, kita tahu bahwa gagasan cemerlang dan progresif para intelektual itu bisa menjadi angin segar bagi kemajuan bangsa di segala bidang. Sinergitas intelektual, pemerintah, dan masyarakat tentu bisa menjadi strategi mumpuni untuk mendorong terjadinya akselerasi pembangunan di segala bidang.

Kepekaan dan kepedulian kaum intelektual terhadap nasib dan masa depan bangsa memang mesti diwujudkan dalam tindakan nyata. Mereka juga diharapkan memiliki empati dan simpati terhadap kaum marginal yang kerap kali tidak mendapatkan perhatian yang serius dari pamangku kekuasaan. Suara kritis tu harus didengungkan sekeras-kerasnya agar pemerintah tidak abai terhadap amanat konstitusi.

Amanat untuk benar-benar melindungi dan mengayomi segenap tumpah darah Indonesia. Dalam hal ini, peran intelektual sebagai penyambung lidah rakyat kiranya perlu terus diaktifkan. Sebab, siapa lagi yang akan membela kaum terpinggirkan atau istilah lainnya wong cilik, jika para intekektual kita tutup mata.

Kesadaran akan peran penting intelektual dalam pembangunan bangsa ini memang perlu dipupuk sejak dini. Tanpa adanya kesadaran maka akan sukar melahirkan aksi nyata. Semuanya hanya berkutat pada teori dan gagasan. Namun, di lain sisi minim aksi. Kepintaran dan kecerdasan yang dimiliki menjadi kurang berguna dan berdampak ketika sikap apatis terhadap masyarakat itu sudah menguasai. Apalagi, kita sendiri tidak kekurangan sarjana, magister, dan doktor. Kita tidak kekurangan mahasiswa dan dosen. Artinya, kuantitas jebolan universitas sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Hanya saja, sekali lagi, kita kekurangan orang-orang yang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap persoalan yang sedang terjadi. Baik masalah kemiskinan, pengangguran, judi online, korupsi, krisis moralitas, dan sebagainya.

Masalah-masalah semacam itu tidak cukup hanya dikaji dan didiskusikan di mimbar-mimbar akademik. Lebih dari itu, keterlibatan langsung para intelektual itulah yang hemat saya bisa memberikan dampak yang signifikan. Memang betul, lebih baik menyumbang gagasan daripada tidak sama sekali. Namun, jauh lehih baik lagi jika gagasan brilian itu dieksekusi langsung. Sebab itulah spirit perjuangan dan pengabdian intelektual untuk negeri perlu selalu dihidupkan. Sebab, tidak semua orang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Sudah semestinya, pengetahuan, ilmu, dan keterampilan yang dimiliki oleh para intelektual digunakan seoptimal mungkin untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa ini. Setidaknya dengan begitu, asa untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 itu masih. ada. Maka dari itu, para intelektual mesti kembali menyelami denyut nadi realitas sosial masyarakat. Meninjau masyarakat bukan dari gedung-gedung bertingkat.

Sebab, peran intelektual bukan hanya membangun kesadaran kritis masyarakat melalui pandangan-pandangan progresifnya. Lebih dari itu adalah mempersembahkan segala pemikiran dan tindakannya untuk turut serta memajukan masyarakat. Tidak hanya terpaku pada teks-teks, tapi juga konteks. Tidak hanya fokus mengejar sertifikasi, akreditasi, jabatan, dan ranking kampus, tapi juga fokus membangun kader-kader pemimpin bangsa yang memiliki kualitas. Baik itu kualitas dari segi intelektual, emosional, dan maupun spritual.

Selaku penulis, saya menaruh harapan besar agar para intelektual kita tidak melulu berada di menara gading. Namun, selalu proaktif berkarya untuk umat dengan aksi-aksi nyata yang berdampak. Martin Luther King pernah mengungkapkan, “Masalah dunia bukanlah karena kebisingan orang jahat, melainkan karena diamnya orang baik,”. Artinya, kaum intelektual tidak boleh diam dan pura-pura tidak tahu ketika sedang terjadi kesewenang-wenangan dan ketidakadilan. Mereka harus bersuara lantang untuk menyuarakan kebenaran dan keadilan.

Kaum intelektual tidak boleh menolerir segala tindakan oknum/golongan tertentu yang menyimpang dari koridor hukum. Mereka harus memperjuangkan kebenaran dan keadilan dengan keilmuan dan pengetahuannya. Tidak hanya itu, kaum intelektual juga diharapkan berani mengambil risiko atas segala pilihannya. Sebab, biasanya, suara-suara kritis itu akan mengusik kekuasaan. Bisa dibungkam atau disingkirkan. Begitulah konsekuensinya. Pokoknya, pikiran dan hati kaum intelektual harus selalu memprioritaskan kepentingan rakyat. Tidak menggadaikan idealismenya hanya untuk kepentingan sesaat. Begitulah sikap seorang intelektual sejati. Mereka tidak nyaman dan selalu gusar jika hanya berdiam diri di gedung-gedung tinggi nan mewah. Mereka menolak menjadi “intelektual menara gading”.

 

*) Penulis buku Empat Titik Lima Dimensi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *