Pernah suatu ketika saya ngobrol santai dengan ayah dan paman saya. Kami membahas tentang betapa banyaknya jumlah sarjana di kampung kami. Hal itu, menunjukkan, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan mulai meningkat.
Kenyataan tersebut berbanding terbalik dengan keadaan di zaman ayah saya dulu yaitu di mana jumlah sarjana bisa dihitung jari alias sangat minim. Mungkin, saat itu, memang orang-orang belum tersadarkan dan tergerkkan untuk mendorong anak-anaknya melanjutkan pendidikan tinggi.
Jangkankan bisa kuliah, mampu menyelesaikan bangku setingkat SMA pun itu sudah luar biasa. Barangkali, akses pendidikan tinggi saat itu masih sangat terbatas. Ditambah, belum ada dorongan dari para orangtua untuk menyekolahkan anak-anaknya di jenjang pendidikan tinggi.
Bisa juga karena faktor ekonomi. Sebab, jangkankan untuk sekolah tinggi, untuk bisa bertahan hidup saja, susahnya bukan main. Artinya, banyak varibel yang menyebabkan jumlah sarjana di zaman dulu itu sangat sedikit.
Zaman silih berganti, situasi dan kondisi masyarakat berubah. Sekarang, di tahun 2025, kita bisa menyaksikan sendiri, betapa banyak putra-putri bangsa di seluruh penjuru negeri yang berkesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi. Setidaknya, sampai level sarjana. Dari Sabang hingga Merauke, di berbagai titik desa, hampir bisa kita menemukan sarjana dengan berbagai bidang keilmuan yang ditekuninya. Ini menjadi angin segar bagi bangsa dan negara ini untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.
Jumlah intelektual dan cendekiawan semakin membeludak. Di setiap sudut, kita bisa menjumpai orang-prang pintar dengan gelar akademik yang disandangnya. Bahkan, tidak sedikit yang menyelesaikan pendidikan tinggi di jenjang magister dan doktoral. Kuantitas pemuda yang berpendidikan sudah semakin banyak. Ini menjadi peluang dan sekaligus tantangan bagi bangsa ini untuk memanfaatkan SDM produktif tersebut.
Namun, di tengah potensi SDM luar biasa yang kita miliki tersebut, kita dihadapkan sejumah persoalan dan pekerjaan rumah yang menumpuk. Seperti halnya, kuantitas sarjana yang kita miliki tidak sebanding dengan kualitasnya. Belum lagi, jumah lapangan pekerjaan di negeri ini yang sangat terbatas menyebabkan sesama anak bangsa saling berjubel dan berjibaku untuk sekadar bisa diterima sebagai pegawai negeri/swasta.
Ditambah kemampuan dan kapasitas keilmuan yang dimiliki sebagian sarjana kita tidak sesuai dengan kebutuhan industri. Artinya ada gap yang cukup lebar antara jumlah serta kualifikasi yang dibutuhkan perusahaan plat merah atau swasta dengan output yang dihasilkan perguruan tinggi. Kasarannya, kompetensi sarjana kita masih diragukan.
Apalagi, sebagian lulusan perguruan tinggi merasa gengsi untuk berproses dalam menggeluti dunia pekerjaan. Alias enggan melamar pekerjaan yang gajinya tidak sesuai dengan ekpektasinya. Dalam hal ini, sebagian lulusan perguruan tinggi terjebak dalam gelar yang disematkan di belakang namanya. Padahal, bisa jadi, gelar sebagai sarjana ekonomi, sarjana teknik, sarjana hukum, dan lain sebagainya, itu tidak sesuai dengan kapasitas yang dimiliki.
Perusahaan-perusahaan pun juga masih was-was untuk menerima fresh graduate tersebut bekerja. Sebab, tidak jarang lulsuan perguruan tinggi hanya bernaung di bawah ketiak nama besar kampusnya. Padahal nama besar alamamaternya tersebut ternyata tidak menjamin secara penuh mutunya. Sebab, itu dari beberapa tahun belakangan ini, banyak perusahaan yang memang tidak melihat tingkat IPK dan dari lulusan mana. Tapi apa kemampuan yang dimiliki dan bagaimana pengalamannya. Tapi, toh meskipun masih banyak yang melihat IPK dan almamater, bisa jadi itu hanya formalitas untuk seleksi awal. Sebab, biasanya di tahap wawancara, pihak perusahaan akan menilai betul kompetensi yang dimliki sang sarjana tersebut.
Jumlah pengangguran terdidik memang sudah tidak terbendung lagi. Betapa banyak sarajana kita yang tidak melakukan apa pun, entah itu bekerja, bekarya, berwirausaha, atau aktivitas-aktivitas produktif lainnya, sebab merasa pekerjaan yang tersedia itu “menurunkan” nilainya sebagai seorang jebolan kampus.
Harga dirinya begitu tinggi untuk sekadar bergelut dengan pekerjaan-pekerjaan kasar yang mana setiap orang bisa memasukinya. Ya, sebagian sarjana kita terjebak dalam situasi di mana ekspektasi terhadap gaji begitu tinggi. Sementara untuk berwirausaha merasa tak ada modal dan juga tak punya keberanian.
Di lain sisi, mereka yang sudah mendapatkan pekerjaan yang diimpikan justru hanya sibuk untuk memperkaya diri. Matanya tertutup untuk melihat kenyataan pahit di tengah masyarakat. Sikap individualisnya begitu mendominasi. Kepintaran dan kecerdasan yang dimiliki tidak dipergunakan untuk memberdayakan masyarakat. Jangankan sadar dan mengerti akan tanggung jawabnya sebagai kaum terdidik, untuk sekadar berbaur dengan rakyat kecil saja kadang susahnya minta ampun.
Dianggapnya, orang-orang kecil itu bukan levelnya lagi. Bisa menunrunkan pamornya sebagai cendekiawan, intelektual, atau kaum terpelajar. Gelar sebagai sarjana, magister, atau doktor sekalipun ternyata hanya membuatnya semakin berjarak dengan masyarakat.
Mengutip perkataan Tan Malaka, salah satu tokoh revolusiner Indonesia, “Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dirinya telalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita sederhana, maka lebih baik pendidikan tidak tidak diberikan sama sekali.”
Artinya, jangan sampai para sarjana, magister, dan doktor hanya menyimpan ilmunya untuk dirinya sendiri. Namun juga mengamalkan untuk kemaslahatan masyarakat, bangsa, dan negeri. Selalu berupaya untuk berjuang dan berkorban demi terwujudnya kehidupan masyarakat yang adil dan makmur. Jangan tejebak dengan gelar yang dimiliki. Lagian, seorang penuntut ilmu sejati, adalah ketika dia selalu haus akan ilmu, tidak pernah puas dengan ilmu yang dimiliki, dan senantiasa berupaya untuk mengamalkan ilmunya agar berdampak positif, setidaknya bagi masyarakat sekitarnya.
Akhir kata, saya berharap penuh, agar para intelektual dan cendekiawan di negeri ini memiliki kesadaran penuh alias terpanggil jiwanya untuk mengabdikan diri terhadap bangsa dan negera ini. Lagian, apalah guna gelar yang berderet-deret jika kita hanya bepikir untuk kepentingan diri sendiri. Ilmu yang tak diamalkan ibarar pohon tak berbuah. Sama sekali tidak bisa kita petik faeadahnya. Satu lagi, jangan pernah merasa bosan untuk meningkatkan kapasitas dan skill kita di beberagi bidang, teruslah perkaya pengalaman, dan adaptiflah terhadap perkembangan zaman. Sebab, tanpa kepekaan, kita bisa digiling dan digilas oleh roda zaman.
Sekali lagi, gelar dan ijazah menjadi sia-sia jika kita sebagai pemilik gelar dan ijazah sama sekali tidak terbesit untuk mempersembahkan ilmu kita untuk kejayaan bangsa dan negeri ini. Atau minimal, bisa berdampak bagi istri, anak-anak kita, atau teman-teman terdekat kita.
Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Penulis buku Empat Tiik Lima Dimensi.





