Keindahan dan Anugerah

Pagi yang penuh keindahan dan juga warna. Mentari mulai menampakkan cahaya dari ufuk timur lengkap dengan senyum hangat kepada semesta. Bunga yang bermekaran semerbak baunya. Kilauan sisa fajar masih tertinggal di langit semakin menambah keindahan bagi jutaan pasang mata yang memandangnya. Ya, pagi yang dipenuhi dengan keindahan. Begitulah aku memandang bumi dan segala isinya yang sempat dilukiskan pencipta sebagai pengganti lukisan malam dengan segala kesunyiannya.

Udara segar nan menyejukkan hati lagi pikiran. Membuat orang yang menghirupnya merasakan sebuah kenyamanan. Kicauan burung menambah irama pagi semakin melengkapi suasana pagi yang penuh dengan kedamaian. Sungguh, Allah menciptakan keindahan itu sebagai suatu kenikmatan. Layaknya keindahan yang dilukiskan oleh seorang pelukis di atas kanvas dengan segala ketulusan yang ia miliki.

Begitulah, aku menyebut hari ini sebagai nikmat terindah dari Sang Maha Indah. Kau berhasil melukis hariku dengan segala hal yang kau miliki. Rasa yang tertanam ketika Sang Maha Cinta mulai menganugrahkan rasa, menjadikan tekadmu semakin bulat. Layaknya seorang panglima yang siap berperang melawan musuh. Ya, aku melihat kau berjuang di sana. Menaklukan hati seseorang dengan segala kesederhanaan dan tindakan sebagai wujud implementasi dari sebuah perasaan.

Meski orang tak banyak mengetahui. Begitu pula orang yang berhasil kau lukis hari-harinya. Ia tak pernah berpikir sama sekali tentang warna dan sketsa yang kau buat wujud dari cinta yang telah lama bersarang di hati sanubari. Itulah sebuah anugerah paling indah dari pencipta bumi. Sebuah teka-teki yang kebanyakan orang tak bisa menjawabnya ketika ditanya apa yang menjadi dasar ia mencintai. Bahkan, orang akan cenderung diam tanpa kata ketika publik bertanya apa sebab dia jatuh cinta.

Bacaan Lainnya

Namun, aku tak menjumpai itu ketika sajak indahmu mulai tertata rapi sebagai wujud dari sebuah ungkapan rasa. Kau menjawabnya dengan begitu yakin dan tegas. “Aku mencintaimu karena kesungguhanmu untuk terus menjadi supporter hidupku”. Bagai tersambar petir yang begitu dahsyat serta pertanyaan yang muncul silih berganti dari relung hati. Keikhlasan yang selama ini aku lakukan tanpa mengharap apapun membuatku semakin menyalahkan diri sendiri dan juga situasi yang tengah kuhadapi.

Kau berhasil melukis segala hal yang telah ku lewati. Melukis siang dengan segala cahaya yang menyertainya. Gugusan bintang yang menunjukkan keindahan malam, purnama yang tampak bercahaya meski ia hanya memantulkan cahaya dari matahari tak lupa pula kau lukis. Ingatlah, ketika bintang berkedip manja pada semesta disitulah aku sedang memandanginya, bak  memandangi lukisan indah dari tangan ciptaan-Nya.

Cinta yang tergambar sangat begitu halus dan juga sederhana. Penuh ketulusan dan kelembutan. Sebab cinta manakah yang berhasil membuatmu menanamkan rasa? Akupun tak kuasa menafsirkannya. Namun, seiring berjalannya waktu, Sang Kuasa akhirnya membukakan mata dan hatiku untuk melihat dan merasakan sentuhan lembut pada setiap lukisan itu. Perlahan tapi pasti, aku meyakinkan segala hal yang terjadi. Meski hati masih takut untuk melangkah mencari jawaban atas apa yang telah terjadi.

Teruslah melukis, meski hanya dalam imajinasimu. Tuangkan segala warna yang kau rasa dalam kehidupanmu. Tapi, aku hanya ingin berpesan bahwa ketika kau melukis kehidupanku dengan kuas dan kanvas yang kau punya jangan sekali-kali kau melalaikan tujuanmu. Tujuan yang harus dicapai oleh seorang hamba untuk meraih ridho dari yang Maha Kuasa. Do’aku tetap sama yaitu meminta yang terbaik untuk kebaikanmu dan kebaikan kita. Semoga Allah memudahkan langkamu serta menjagamu untuk tetap berada di jalan-Nya.

Aina Fahma

Semarang, 16  Februari 2020

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *