Perkembangan astronomi di Indonesia memang dapat dikatakan termasuk yang maju dalam lingkup Asia Tenggara. Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang memiliki jurusan astronomi. Pemegang teleskop astronomi dan observatorium terbesar se-Asia Tenggara juga diraih oleh Indonesia. Ditambah lagi, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) merencanakan akan membangun Bandar Antariksa yang itu juga akan menjadi yang pertama di Asia Tenggara.
Kunjungan kerja Jokowi di Washington DC, Amerika Serikat, beberapa pekan yang lalu, ramai dibicarakan oleh netizen. Selain untuk menghadiri serangkaian kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) khusus ASEAN-US, Jokowi juga menyempatkan untuk bertemu dengan Bos SpaceX dan Tesla Elon Musk di Markas SpaceX, Texas, Amerika Serikat. Di sana, Jokowi berdiskusi dengan Elon Musk serta meninjau produksi roket SpaceX.
Sebelumnya, melalui telepon, Jokowi menawarkan Indonesia sebagai tempat peluncuran Roket SpaceX. Melihat belakangan ini, SpaceX tengah rajin melakukan uji coba peluncuran roket ke luar angkasa. Bahkan pada November 2020, SpaceX berhasil mengirimkan 4 astronot NASA ke Stasiun Antariksa Internasional. Pertemuan keduanya secara langsung ini, tidak salah, ditafsirkan sebagai lampu hijau untuk kemajuan teknologi di Indonesia, khususnya bidang astronomi.
Belajar dari Habibie
Rencana pembangunan bandar antariksa dan upaya agar roket SpaceX dapat dilepas di Indonesia merupakan ide yang visioner. Sebab, negara maju dilihat dari perkembangan sains dan teknologinya. Penulis secara pribadi mendukung pembangunan Bandar Antariksa di Indonesia. Namun, jangan sampai terlena. Pembangunan Bandar Antariksa ini tidak boleh mengakibatkan kerugian bagi masyarakat.
Gagasan visoner untuk perkembangan sains dan teknologi ini mengingatkan penulis terhadap B.J Habibie. Presiden Republik Indonesia ketiga ini juga sempat memilki gagasan yang visioner pada zamannya sejak ia masih menjadi mahasiswa, yakni pembangunan industri dirgantara. Sayangya, proyek brilian ini “gagal” diwujudkan B.J. Habibie, walaupun ia pernah menjadi orang nomor satu di bumi pertiwi.
Adanya intervensi asing menjadi salah satu penyebab industri dirgantara dan pesawat N250 tidak dapat dikembangkan lagi. Krisis moneter pada tahun 1998 memaksa Indonesia untuk meminjam dana kepada International Monetary Fund (IMF). Hal ini pun dimanfaatkan oleh IMF. Penghentian proyek N250 menjadi syarat IMF untuk membantu krisis di Indonesia.
Kegagalan pembangunan industri dirgantara penting untuk dijadikan pembelajaran oleh pemerintahan Jokowi yang sedang merencanakan pembangunan bandara antariksa. Apalagi saat ini, Indonesia sedang melakukan pemulihan ekonomi karena sempat turun akibat pandemi covid-19. Tentu, biaya pembangunan bandar antariksa ini tidak akan mengeluarkan nominal yang sedikit.
Kepala Badan Riset dan Inovasi (BRIN) Laksana Tri Hantoko mengungkapkan estimasi anggaran pembangunan bandar antarikan sekitar 1-10 trilliun. Direncanakan juga bahwa pemerintah dalam hal ini BRIN akan menggunakan skema pembiayaan dari investor. Pembiayaan yang tidak hanya keluar dari kas sendiri, pasti memiliki beberapa kontrak, maka harus dipastikan kontrak tersebut harus menguntungkan bagi Indonesia.
Dilansir dari lapan.go.id, Pulau Biak Numfor, Papua menjadi lokasi yang dipilih untuk membangun bandar antariksa. Sayangnya, sejumlah warga Biak dikabarkan menolak pembangunan tempat peluncuran roket hasil kerja sama dengan SpaceX. Ada kekhawatiran masyarakat bahwa fasilitas bandar antariksa akan merusak lingkungan dan mengakibatkan penduduk lokal kehilangan tempat tinggal.
Kekhawatiran masyarakat terhadap pembangunan bandar antariksa merupakan hal yang wajar. Ini disebabkan karena kurangnya komunikasi pemerintah dengan masyarakat Biak. Edukasi secara persuasif bahwa proyek ini akan memberikan banyak keuntungan dari berbagai bidang dan dalam skala tidak hanya regional dan nasional, tetapi juga internasional.
Proyek pembangunan pasti bisa dibangun tanpa merusak hak-hak masyarakat dan lingkungan. Kesuksesan pembangunan ini bergantung kepada political will pemerintah juga dukungan dari masyarakat. Dengan dibangunnya bandar antariksa, minat masyarakat terhadap astronomi dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi akan lebih meningkat.





