“Assalamualaikum, Bapak. Hari ini Mba Aisyah dan kawan-kawan akan melaksanakan Penilaian Akhir Tahun (PAT). Mohon do’a dan restu bapak agar lancar dan mendapatkan hasil yang maksimal,” kata Ustadzah Endah melalui pesan singkat WhatsApp-nya pagi ini.
Tiba-tiba berlinang air mata saat membaca pesan singkat di atas. Seperti ada desakan harap dan doa di dada dari Ananda Putri Aisyah dan kawan-kawannya yang akan melaksanakan PAT hari ini.
Ya, dua perasaan bergemuruh bersamaan dalam dada, harap dan do’a serta rasa kangen yang membuncah tak bisa terbendung.
Seperti rob air laut yang menjebol tanggul pembatas laut dan darat memuntahkan semua air membanjiri tanpa bisa tercegah.
Meski demikian, saya harus tetap membalas pesan WhatsApp-nya Ustadzah Endah sebagai bentuk hormat saya kepada gurunya Putri Aisyah.
“Wa’alaikumussalam, Wr.Wb., Ustadzah. In Syaa Alloh do’a terbaik untuk Ananda Putri Aisyah dan semua Sanja Planet Nufo, semoga dimudahkan dan dilancarkan dalam pengerjaan PAT dengan hasil maksimal dan menggembirakan semua,” jawab saya disertai dengan do’a.
“Sampaikan salam sayang dan kangen kami buat Ananda Putri Aisyah Nurul Iman,” imbuh saya penuh harap.
Tidak berselang lama, di saat saya masih membaca ulang kembali pesan singkat WhatsApp-nya, Ustadzah Endah sudah membalas pesan saya.
“Aamiin Ya Allah Rabbal’Alamiin, terima kasih, Bapak,” ujar Ustadzah Endah dengan pengaminan do’anya.
Semakin terbayang jelas bagaimana perjuangan Ananda Putri Aisyah dan kawan-kawan Sanja Planet Nufo Rembang dalam menaklukkan semua kemalasan demi meraih kemenangan masa depannya.
Perjuangan mereka adalah perjuangan menempuh jalan menanjak yang tidak semua orang bisa melaluinya, kecuali mereka yang berpegang teguh pada prinsip dan nilai pencapaian kompetensi masa depannya.
Dan Penilaian Akhir Tahun (PAT) adalah kegiatan yang dilakukan di akhir semester genap untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik pada akhir semester genap.
Dari sinilah, kita akan melihat sejauh mana pencapaian kompetensi anak-anak kita, Sanja Planet Nufo di akhir semester genap ini.
Tentunya ini hanya baru sebatas pencapaian kompetensi akademis yang diikat oleh aturan-aturan nilai matematis yang harus mereka lalui.
Bahkan, mungkin hampir semua sekolah (pada umumnya) terikat dan menerapkan kompetensi akademis-matematis ini.
Tapi, mungkin tidak untuk Pesantren dan Sekolah Alam Planet Nufo Rembang ini.
Di Planet Nufo, saya melihat keunikan yang mungkin belum dimiliki kebanyakan pesantren dan sekolah pada umumnya, yakni terintegrasinya kompetensi akademis dan non akademis yang sangat baik.
Seperti kejadian pagi ini, Ustadzah Endah (termasuk Ustadz/Ustadzah yang lainnya) menjadi penghubung (pesan) cinta dan do’a antara anak dan orang tua.
Ustadz dan Ustadzah serta para Pengasuh di Planet Nufo Rembang memahami dan mengerti betul, bahwa pencapaian kompetensi akademis-matematis tidak cukup hanya dengan mendapatkan nilai PAT yang tinggi.
Tapi, do’a dan restu Orang Tua menjadi ukuran pencapaian kompetensi non akademis, sebagai “ultimate goal” pesan moral yang ingin disampaikan.
Apalah arti nilai PAT tinggi, jika do’a dan restu Orang Tua tidak Sanja Planet Nufo miliki (?)
Tidaklah masuk akal (tidak logis), jika anak-anak kita, Sanja Planet Nufo, diajak menempuh jalan menanjak (masa depan), tapi mengabaikan pijakan kuatnya (do’a dan restu Orang Tua), untuk mencapai puncaknya.
Saya jadi teringat pesan bijak dari Dr. Mohammad Nasih (Abah Nasih), “Pelajari Islam pertama kali pakai otak kiri. Pastikan konsep-konsep etiknya tertangkap, agar tubuh bertenaga untuk beribadah.”
Diakui atau tidak, disadari atau tidak, pesan bijak beliau sudah direalisasikan dan terbukti dalam proses pembelajaran di Planet Nufo selama ini.
Dengan kuantitas sumber daya manusia yang dimiliki, dan kualitas sumber daya manusia yang tidak diragukan lagi, saya berkeyakinan tinggi bahwa anak-anak kita, Sanja Planet Nufo, akan sampai ke puncak masa depannya dengan memiliki pijakan kuat dari doa dan restu Orang Tua.
Oleh: Gunawan Trihantoro, Wali Sanja Putri Aisyah Nurul Iman (PAN-I) asal Blora





