Nasib, memang tak bisa direncanakan. Namun, bukan berarti usaha dan do’a tak memiliki pengaruh yang besar. Siapapun yang memiliki keinginan harus dan sudah sepantasnya berusaha meraihnya. Meski banyak cemoohan yang terdengar, Do’a mejadi kekuatan.
Namanya Ana. Terlahir dalam keluarga sederhana dengan kondisi ekonomi yang tergolong menengah ke bawah. Ayahnya wafat sejak dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar. Sejak saat itulah dirinya harus berusaha mandiri dan juga harus mengurusi adiknya yang masih kecil. Ibunya hanya seorang buruh sawah di desanya. Namun, beruntungnya keluarganya mendukung pendidikan. Meski dalam hal biaya masih dalam kesulitan.
Sejak kecil dirinya bercita-cita menjadi seorang guru. Cita-cita itulah yang membuat dirinya terus bersemangat untuk terus melanjutkan pendidikan. Selain itu, dirinya juga ingin memperbaiki ekonomi keluarganya. Merubah nasib mungkin yang dikatakan kebanyakan orang.
Saat berada di SMA dirinya merupakan anak yang rajin, juga aktif berorganisasi. Hal itu membuatnya dikenal oleh guru-guru di SMA tersebut terutama wali kelasnya. Sehingga apabila ada masalah administrasi maka wali kelasnya berusaha untuk membantunya. Di SMA ia juga mendapatkan beasiswa. Oleh karena itu, untuk masalah administrasi ia sedikit mendapat bantuan.
Tiba saat pendaftaran SNMPTN dirinya juga masuk kualifikasi namun gagal dalam tahap kedua. Dan setelah itu ia coba mendaftar SPAN-PTKIN dan mendaftar di IAIN Salatiga dengan jurusan Tadris Bahasa Inggris. Namun, keputusannya untuk melanjutkan pendidikan mendapat cercaan dari tetangganya. Banyak sekali orang yang meyakinkan ibunya bahwa kuliah itu menghabiskan banyak biaya. Dan kuliah juga tidak menjamin kesuksesan seseorang. Sangat sulit bagi orang kecil merubah kondisi perekonomian.
Akhirnya ibunya termakan oleh ucapan tetangganya. Ditambah saat itu ada seorang pemuda yang melamarnya sesaat setelah pengumuman kelulusan. Ibunya menghendaki agar Ana menerima lamaran pemuda tersebut, namun, dengan tegas dirinya menolak lamaran pemuda itu. Karena usianya yang masih muda dan juga pekerjaan pemuda tersebut masih belum mapan. Sehingga ia memikirkan bagaimana nasib dari adiknya yang juga lulus dari SMP. Tidak mungkin adiknya akan berhenti melanjutkan pendidikan sementara dirinya sampai di taraf SMA.
Akhirnya pengumuman SPAN-PTKIN tiba. Alangkah terkejutnya dirinya, ia dinyatakan lulus di pilihan yang dihendakinya. Hal itu membuatnya senang sekaligus bimbang apakah dia harua mengambil kesempatan itu. Namun, disisi lain adiknya juga membutuhkan biaya untuk melajutkan ke SMA. Kemudian ia bertanya pada ibunya perihal itu. Namun ibunya justru menghendaki agar ia segera menikah. Kemudian ia mendapat nasehat untuk mengambil jurusan dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Akhirnya ia memutuskan untuk tidak mengambil kuliahnya dan memutuskan untuk bekerja di pabrik selama adiknya masih sekolah. Dan hal itu memakan tiga tahun lamanya.
Berkat kehati-hatiannya selama bekerja dan mengelola keuangan akhirnya ia bisa membelikan sepeda motor untuk adiknya dan bahkan memperbaiki kondisi rumahnya. Hal ini meembuat tetangga semakin iri dengan apa yang bisa dicapainya. Karena anak tetangganya yang juga bekerja di pabrik yang sama tidak bisa melakukan hal yang dapat dilakukannya. Hal itu kembali membuat Ana mendapat makian dan cercaan dari tetangganya. Dan hal itu membuat banyak pemuda berniat untuk melamarnya. Namun, kembali ia menolak. Dan hal tersebut membuat para tetangganya semakin mencelanya.
Memasuki saat-saat adiknya hampir lulus dari SMA dirinya kembali mencari jalan untuk melanjutkan pendidikannya. Namun hal itu tanpa sepengetahuan orang lain, bahkan ibunya sendiri. Satu-satunya orang yang diberitahukan hal tersebut hanyalah adiknya seorang. Disaat hal yang bersamaan ia menemukan seseorang yang memikat hatinya. Mereka berduapun menjalani hubungan. Dan berniat melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Namun, niat tersebut ditunda karena mulai memasuki pendaftaran Seleksi Mandiri di IAIN Salatiga.
Saat-saat memasuki kesibukannya mempersiapkan diri dalam menjalani tes seleksi. Orang yang memikat hatinya tiba-tiba pergi jauh dan meninggalkannya. Dan bahkan dikabarkan dirinya telah menikahi wanita lain. Hal itu membuat Ana sedih namun ia semakin yakin untuk melanjutkan studi.
Saat pengumuman Seleksi Mandiripun tiba. Harapannya besar agar bisa mendapatkan satu bangku perkuliahan. Dan betapa bersyukurnya ia, lolos seleksi dengan jurusan Komunikasi dan penyiaran Islam. Namun masalah tidak berakhir disitu. Saat pertama pembayaran UKT dirinya merasa keberatan dengan UKT yang di dapat, kemudian berusaha untuk menurunkan UKT. Oleh dosen bagian akademik, ia disarankan untuk mendaftarkan beasiswa Bidikmisi.
Ana pun segera mencari persyaratan yang digunakan. Namun, alangkah kecewanya dirinya tidak bisa mendaftarkan Bidikmisi karena sudah tiga tahun dirinya jeda karena harus bekerja. Kemudian ia mendapatkan UKT sebesar Rp. 400.000,- itupun karena dirinya merupakan anak yatim. Hal itu dirasa cukup untuknya dan akhirnya iapun melanjutkan studi di IAIN Salatiga dengan jurusan Komunikasi dan penyiaran Islam.
Semester satu dilaluinya dengan tidak baik. Karena ia masih berada di pabrik tempatnya bekerja. Hal itu membuatnya sering absen saat kuliah. Oleh karena itu, nilainya saat barada di semester satu berada dibawah rata-rata. Kemudian ia bertanya pada kaprodi dan juga dosen pembimbing terkait masalahnya. Dan oleh kaprodi, dirinya di sarankan untuk kuliah sambil membantu di sebuah warung yang letaknya tidak jauh dari kampus. Dan dirinya akhirnya bisa fokus kepada mata kuliah yang ada.
Memang sudah jalannya bahwa setiap keinginan atau cita-cita memang memerlukan usaha,perjuanagan dan doa. Meski tiada manusia untuk menjadi tempat bersandar tetapi masih ada Allah yang Maha Segalanya. Ditulis untuk memenuhi tugas tambahan mata kuliah Psikologi Komunikasi yang diampu oleh Bapak Mokhamad Abdul Aziz, M.Sos. Saya ucapkan terima kasih atas kesempatan menulis yang bapak berikan kepada saya ini. Dan terima kasih telah menginspirasi kami. Semoga terus menebar manfaat.
Oleh: Listiana, Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN Salatiga







