Firaun Merneptah: Menelaah Kebenaran dan Jiwa Nasionalisnya

Kisah Nabi Musa a.s dan Fir’aun merupakan kisah agung, kaya akan ibroh, yang dapat kita jumpai dengan mudah di al-Qur’an. Kisah ini menceritakan tentang seorang raja besar Mesir, yang gemar memerintah dengan semenang-menang. Nabi Musa a.s kemudian diutus Allah Azza Wa Jalla untuk memberi peringatan kepada raja tersebu. Tak mau tunduk dan patuh, Raja tersebut malah mengancam hendak membunuh utusan Allah tersebut. Maka dari itu, Allah menenggelamkan mereka di antara laut merah, yang telah ‘dibelah’ menjadi dua oleh Nabi Musa a.s.

Banyak orang yang bertanya-tanya, siapakah gerangan Raja Mesir/ Fir’aun yang dimaksud oleh al-Qur’an ini? Maka dari itu, berbagai media berlomba-lomba menerbitkan artikel untuk mengulas jati diri Fir’aun yang kerap disebut dalam al-Qur’an tersebut. Maka, tidak diragukan jika berbagai penafsiran muncul. Paling umum, jika mengetik kata kunci pencarian Fir’aun dan Nabi Musa, maka jawaban yang muncul adalah Ramses II. Namun, benarkah Ramses II merupakan Fir’aun yang disebut dalam al-Qur’an?

Maurice Bucaille merupakan seorang pakar bedah kenamaan dari Perancis. Bucaille pernah mengepalai klinik bedah di Universitas Paris. Tulisan-tulisannya yang terkenal adalah pembahasan mengenai Islam, al-Qur’an dan Ilmu-ilmu modern. Bucaille, lebih dari itu, merupakan tokoh yang berjasa atas kerjasama dengan ilmuwan Perancis untuk merestorasi mumi Ramses II. Sebab, ketika melakukan autopsi dan penelitian atas mumi-mumi tersebut, ia menemukan jamur dan bakteri, di balik perban pelilit, yang merusak jasad mumi tersebut.

Ketika melaksanakan autopsi dan penelitian, di sisi lain, Maurice Bucaille menemukan fakta bahwa Ramses II mati secara wajar, karena usia dan penyakit tua. Justru mumi anaknya, Merneptah, yang memiliki kandungan garam dalam tubuhnya. Tak berhenti sampai di sana, Merneptah diduga mati karena trauma berskala besar. Hal ini bisa dilihat dari jejak guncangan keras yang ada di bagian belakang perut, dada dan ruang tengkorak. Guncangan ini menunjukkan tanda bahwa ia mengalami kematian seketika.

Bacaan Lainnya

“Dan Kami selamatkan Bani Israil melintasi laut, kemudian Firaun dan bala tentaranya mengikuti mereka, untuk menzalimi dan menindas (mereka). Sehingga ketika Firaun hampir tenggelam dia berkata, “Aku percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang Muslim (berserah diri).” (QS Yunus: 90)

Terlebih, Firaun Merneptah dikenal sebagai Firaun pendendam yang paling banyak melakukan penyerangan pada bangsa Yahudi di Palestina. Dari penjelasan tersebut, bisa kita simpulkan bahwa, Merneptah merupakan kandidat terkuat Firaun yang dimaksud dalam al-Qur’an. Namun, terdapat pertanyaan yang kembali muncul. Mengapa Merneptah menzalimi, menyerang dan menindas Bani Israel?

Jika kita berjalan mundur pada kisah Nabi Yusuf a.s, diperkirakan pada 1745 SM, tentu tak bisa terlepas dari kedua belas saudaranya yang melakukan makar. Karena iri akan kasih sayang Nabi Ya’qub a.s yang berlebih pada Nabi Yusuf a.s, mereka memutuskan untuk membuang Yusuf di sebuah sumur. Setelah melewati berbagai peristiwa –dijual, dirayu oleh istri tuannya dan dimasukkan penjara– akhirnya Nabi Yusuf a.s dijadikan bendaharawan negeri Mesir. Ia kemudian mengajak serta kedua orang tuanya dan kedua belas saudaranya untuk tinggal di Mesir dalam keadaan aman.
“Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, dia merangkul (dan menyiapkan tempat untuk) kedua orang tuanya seraya berkata, “Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman.” (QS Yusuf: 99)

Ke-12 anak-anak Nabi Ya’kub inilah yang dipercaya sebagai awal mula pembagian kaum Yahudi dalam 12 golongan. Termasuk, dalam kisah Nabi Musa AS saat ia memukulkan tongkatnya ke sebuah batu dan tiba-tiba memancarlah 12 mata air (uyun Musa) yang dibagikan kepada 12 kelompok kaum Yahudi.

Jika dihitung dari perkiraan masa hidup Nabi Yusuf a.s (1745 SM) sampai dengan jangka waktu Fir’aun Merneptah hidup (1213 SM) sudah ada 352 tahun jeda masa kembang biak kaum Yahudi di Mesir. Bisa dibayangkan, betapa banyak kaum Yahudi yang berbaur dengan penduduk asli Mesir. Tak hanya masalah kuantitas, bangsa Yahudi juga menang secara kualitas.

“Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kalian atas segala umat.” (QS. Al-Baqarah: 47)

Hal ini tentunya memberikan kewaspadaan dan ketakutan tersendiri pada pemimpin Mesir kala itu, yakni Merneptah sendiri. Jika dikaji dari segi politis, kemungkinan ia merasakan kewaspadaan yang sangat jika anak keturunannya kalah oleh Bani Israil. Maka dari itu, sebagai pemilik kuasa yang mendendam, Merneptah menyerang dan memberi berbagai kesulitan untuk Bani Israil, demi anak keturunannya di Måesir. Wallahu ’alam.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *